Tragedi Halloween di Itaewon: bagaimana kerumunan padat dapat membunuh dan pencegahannya

Kerumunan padat dan tidak terkendali, juga kegagalan aparat keamanan mengantisipasi dan mengendalikan keadaan, dalam perayaan Halloween di Itaewon, Seoul, Korea Selatan pada 29 Oktober 2022 menelan korban 158 jiwa. Kepolisian Korea Selatan masih menyelidiki pihak-pihak yang bertanggung jawab dan penyebab tragedi tersebut.

Bagaimana kematian massal seperti itu bisa terjadi di tengah kota? Apa sajakah yang bisa kita lakukan untuk mencegah jatuhnya banyak korban?

Efek domino dari kepadatan massa

Crowd crush atau himpitan kerumunan terjadi bila kepadatan kerumunan mencapai titik kritis (overcrowding) dan menghasilkan tekanan fisik yang sangat tinggi pada masing-masing individu di dalamnya.

Bila ada yang terjatuh, massa di sekitar dapat ikut tumbang (crowd collapse) – memicu efek domino dan menindih satu sama lain.

Tekanan dari kerumunan ini dapat menyebabkan rongga dada sulit mengembang saat menarik napas, sehingga dapat menyebabkan kematian.

Beberapa pihak menggunakan istilah stampede (yang menggambarkan larinya sekelompok hewan yang ketakutan) untuk mendeskripsikan kejadian ini. Menurut para ahli, hal ini kurang tepat karena istilah stampede menyiratkan masih adanya ruang untuk bergerak.

Penggunaan istilah stampede tidak dianjurkan, karena mengesankan seakan-akan kesalahan hanya ada pada kerumunan yang tidak terkendali. Seperti kejadian di Itaewon, sesungguhnya korban tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi saat kerumunan sudah menjadi terlalu padat.

Saat crowd density (kepadatan kerumunan) mencapai titik tertentu, pergerakan kerumunan akan menjadi satu seperti air atau ombak. Artinya individual tidak bisa mengendalikan pergerakan masing-masing.

Seringkali, faktor utama bencana terjadi bukan karena perilaku orang-orang yang berada di kerumunan, melainkan desain dan manajemen tempat atau acara tersebut.

Lire la suite: Berkaca dari tragedi Itaewon dan Kanjuruhan: Pentingnya manajemen kerumunan untuk meredam resiko _stampede_

Kurang oksigen dan cedera

Kepadatan kerumunan adalah salah satu indikator yang bisa diamati untuk menilai keamanan situasi. Empat orang dalam satu meter persegi masih menyisakan jarak personal antar individu. Lima orang dalam satu meter persegi, suasana mulai tidak nyaman dan terkadang kita bersenggolan dengan orang lain. Di atas lima, situasi mulai tidak aman dan sebaiknya kita mulai meninggalkan tempat.

Di gang tempat kejadian insiden Itaewon, menurut ahli, ada setidaknya 10 orang dalam satu meter persegi.

Dalam situasi himpitan kerumunan, penyebab kematian utama adalah compressive (kurangnya oksigen pada badan yang disebabkan oleh tertekannya rongga dada) atau traumatic asphyxia (cedera fisik yang diakibatkan oleh dorongan massa di sekitarnya), yang menyebabkan kesulitan untuk menarik napas dan terganggunya pengembalian darah ke jantung.

Dalam hitungan menit, korban dapat kehilangan kesadaran. Bila hal ini berlanjut, henti jantung dapat terjadi.

Saat korban tidak sadarkan diri, jalan napas dapat terhalang, baik karena posisi kepala dan leher, atau karena terhalang badan orang lain (smothering) – biasanya terjadi pada orang-orang dengan badan yang lebih kecil.

Selain itu, cedera pada organ lain juga dapat terjadi: cedera kepala, hancurnya otot (rhabdomyolisis), dan patah tulang.

Mitigasi risiko

Lalu apa saja yang bisa kita lakukan saat terjebak dalam kerumunan?

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) Amerika Serikat menyarankan beberapa hal.

Pertama, memosisikan lengan dan tangan di depan dada seperti posisi petinju. Temukan pijakan yang kokoh dan tetap berdiri. Jangan melawan tekanan atau gerakan kerumunan. Saat gerakan melambat, bergeraklah secara diagonal ke tepian kerumunan.

Kalau terjatuh, lindungi diri dengan menekuk badan seperti bola. Sebaiknya dengan posisi menyamping untuk mencegah dada tertekan dari arah depan atau belakang, segera bangun saat memungkinkan. Lindungi kepala dan bagian dada.

Tetaplah tenang, jangan berteriak kecuali diperlukan. Simpan tenaga dan konsentrasi untuk bisa bernapas.

Ketika kepadatan kerumunan sudah mencapai titik kritis, biasanya himpitan sudah sangat sulit untuk dicegah. Maka dari itu, mencegah kerumunan menjadi terlalu padat sangat penting.

Salah satu tanda bahwa kerumunan sudah terlalu padat adalah kerumunan tampak bergoyang pelan dari satu sisi ke sisi lainnya. Ini dikenal sebagai “efek ladang gandum” atau “field of wheat effect”.

Bila kita ada dalam keramaian dan mulai bertabrakan dengan orang lain, atau kesulitan untuk mengangkat lengan atau tangan, kita harus waspada dan sebaiknya memisahkan diri. Ketahuilah letak jalan keluar darurat.

Salah satu tanda bahaya adalah jika dalam suatu acara besar dan massal, tidak ada pihak berwajib atau panitia yang mengatur kerumunan.

Bantuan darurat untuk korban henti napas dan jantung

Bila kejadian himpitan tidak dapat dihindari dan kita menemukan korban henti napas dan jantung, penting untuk dilakukan cardiopulmonary resuscitation (CPR) atau resusitasi jantung paru (RJP) - sebuah tindakan darurat untuk menjaga sirkulasi darah dan pernapasan.

CPR dapat meningkatkan kemungkinan bertahan hidup hingga 2-3 kali lipat.

Saat ini, hands-only CPR, RJP hanya dengan tangan, yang terdiri dari kompresi jantung saja tanpa pemberian napas bantuan dianjurkan untuk orang awam yang belum terlatih dan berpengalaman. Hands-only CPR disarankan karena lebih sederhana dan mudah diingat sehingga lebih mudah untuk dilakukan.

Salah satu alasan masih jarangnya orang awam memberikan CPR pada kejadian henti jantung adalah keengganan memberikan napas bantuan mulut ke mulut berkaitan dengan kekhawatiran penularan penyakit.

Saat dibandingkan, untuk kasus henti jantung di luar rumah sakit, hands-only CPR ternyata tidak berbeda khasiatnya dengan CPR konvensional.

Bila ada kejadian henti jantung, mintalah bantuan dan hubungi telepon darurat 112 atau 118. Ambil automated external defibrillator (AED) atau alat kejut jantung otomatis, yang sudah mulai ditempatkan di tempat umum, bila tersedia.

Setelah memastikan bahwa keadaan aman, dan mengecek bahwa korban memang tidak sadar, tempatkan kedua tangan mengait di tengah dada dan kompresi sedalam 5-6 cm dengan kecepatan 100-120 kali per menit dapat dimulai hingga bantuan datang. Hands-only CPR merupakan pengenalan CPR yang baik bagi orang awam, namun pelatihan khusus CPR tetap disarankan.

Mengontrol keramaian

Saat ini, lebih dari setengah populasi dunia hidup di perkotaan yang semakin padat. Makin banyak pula acara-acara yang mengumpulkan massa yang besar seperti konser musik, pertandingan olahraga, acara keagamaan, atau protes politik. Oleh karena itu, pengendalian kerumunan menjadi sangat penting.

Pada kejadian Itaewon, ahli berpendapat bahwa kematian dapat dicegah dengan mengalihkan massa dengan membuat kereta tidak berhenti di Stasiun Itaewon atau menutup jalan agar ada ruang lebih untuk pejalan kaki. Selain itu, kehadiran polisi yang memadai untuk mengarahkan massa juga diperlukan.

Belajar dari kasus ini, panitia, polisi, dan aparat pemerintah lainnya perlu dilatih dengan baik untuk mengontrol keramaian. Untuk massa yang besar, perlu adanya mekanisme untuk mengamati kerumunan dari sudut pandang tinggi, seperti “polisi DJ” di Jepang atau dengan memasang dan memonitor via kamera pengawas.

Prinsip-prinsip manajemen keramaian juga perlu diperhitungkan dalam mendesain tempat acara dan fasilitas umum agar titik kepadatan dapat dihindari dan keamanan masyarakat dapat terjaga.