Tragedi Halloween Itaewon, Pakar Jelaskan Bedanya Terjepit Kerumunan & Terinjak-Injak

Merdeka.com - Merdeka.com - Sedikitnya 153 orang meninggal ketika menghadiri perayaan halloween di Itaewon, Korea Selatan. Banyak dari korban meninggal diketahui mengalami serangan jantung.

Tragedi ini adalah bentuk dari "crowd crush" atau "terjepit kerumunan" yang berbeda dengan insiden "stampede" atau "terinjak-injak".

Terjepit kerumunan terjadi ketika orang-orang berada di ruangan terbatas dan terus dorong-mendorong sehingga menyebabkan kerumunan jatuh bersamaan seperti kartu domino.

Saat kerumunan jatuh bersamaan, orang-orang sulit untuk bangun kembali. Badan yang tertekan menyebabkan paru-paru sulit untuk mengembang. Orang-orang yang terjatuh dalam kerumunan akhirnya sulit untuk bernapas.

Sedangkan "stampede" atau "terinjak-injak" adalah keadaan di mana orang-orang masih memiliki ruang untuk berlari. Keadaan "stampede" terjadi ketika banyak orang berlarian tak terkendali untuk melarikan diri dari sesuatu.

Keadaan terjepit kerumunan adalah penyebab terjadinya tragedi halloween Itaewon.

"Saat orang berjuang untuk bangun, lengan dan kaki terpelintir. Pasokan darah mulai berkurang ke otak. Dibutuhkan 30 detik sebelum Anda kehilangan kesadaran, dan sekitar enam menit, Anda mengalami asfiksia kompresif atau restriktif. Itu umumnya penyebab kematian yang dikaitkan – tidak hancur, tetapi mati lemas," jelas Ketih Still, profesor Universitas Suffolk, Inggris, dikutip dari Aljazeera, Senin (31/10).

Sama seperti yang terjadi pada tragedi halloween Itaewon, pada terjadinya tragedi itu banyak orang-orang berusaha untuk melewati gang sempit.

Para saksi mata melihat orang-orang yang berada di gang sempit itu berusaha untuk keluar dari kerumunan yang menyesakkan. Orang-orang pun saling tumpuk-menumpuk di atas satu sama lain.

“Orang-orang terus mendorong ke gang yang menurun, mengakibatkan orang lain berteriak dan jatuh seperti kartu domino,” jelas seorang saksi kepada kantor berita Yonhap News Agency.

Kejadian lain atas "terjepit kerumunan" juga pernah terjadi pada 1990 lalu ketika 1.440 jemaah meninggal dalam terowongan al-Muaissem saat merayakan Idul Adha.

Tragedi "terjepit kerumunan" juga terjadi di Indonesia pada saat penonton bola di stadion Kanjuruhan, Malang, berjatuhan karena berusaha untuk keluar dari pintu keluar stadion yang sempit. Sedikitnya 134 orang meninggal dalam tragedi Kanjuruhan.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan [pan]