Trah Sunan Ampel yang Setia Merawat Potjut Meurah Intan di Blora

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Blora - Saat mendengar nama 'Ki Donomochammad' mungkin masyarakat Blora langsung tahu kalau itu nama sebuah kompleks pemakaman, tempat banyak tokoh dan pahlawan, salah satunya Potjut Meurah Intan, dimakamkan. Namun saat ditanya siapakah Ki Donomochammad itu? Dan kenapa nama itu disebut nama kompleks pemakaman tempat para tokoh dan pahlawan dimakamkan? mungkin juga tidak banyak orang Blora yang tahu.

"Donomochammad itu dulu penghulu Potjut Meurah Intan saat diselong (diasingkan) di sini (Blora). Yang merawat itu Mbah Donomochammad," ujar Muhammad Jamil atau Mbah Jamil, juru kunci Pasaerean Ki Donomochammad saat bercerita kepada Liputan6.com, Senin (8/2/2021).

Mbah Jamil yang genap berusia 77 tahun itu mengatakan, Ki Donomochammad adalah nama yang paling dekat dengan Potjut Meurah Intan saat diasingkan ke Jawa Tengah, tepatnya di sekitar gudang banyu (tandon air), peninggalan kompeni Belanda di Blora.

Berdasarkan catatan silsilah yang masih tersimpan apik, diketahui Ki Donomochammad merupakan seorang Penghulu Landraad (Pengadilan Negeri Blora) sejak 1914. Usut punya usut, ternyata yang merawat Potjut Meurah Intan itu adalah trah (keturunan) dari salah satu wali sanga, yakni Sunan Ampel atau Raden Mohammad Ali Rahmatullah (Raden Rahmat).

"Urutan dari atas terus Mbah Donopuro sama istrinya, punya anak 3. Yang 2 meninggal. Yang tengah-tengah itu Mbah Donomochammad," ungkap Mbah Jamil.

**Ingat #PesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Jumlah Makam

Silsilah yang Menghubungkan Ki Donomochammad dengan Sunan Ampel. (Liputan6.com/Ahmad Adirin)
Silsilah yang Menghubungkan Ki Donomochammad dengan Sunan Ampel. (Liputan6.com/Ahmad Adirin)

Meski tampak tidak terawat, kompleks pesarean keluarga Ki Donomochammad hingga saat ini masih digunakan untuk acara haul atau pengajian.

Mbah Jamil menuturkan, Ki Donomochammad semasa hidupnya memiliki 17 anak dari 4 orang istri. Dirinya merupakan salah satu cucu yang hingga kini masih ada (hidup). Sebab seperti saudara kandungnya, kini sudah pada meninggal dunia.

Dalam catatan yang ditunjukkan Mbah Jamil, terlampir pula catatan-catatan nama tokoh hingga ulama pada abad 18 hingga 19 yang dimakamkan di pesarean keluarga Ki Donomochammad. Totalnya ada 254 makam.

Jumlah tersebut merupakan jumlah total keseluruhan yang berhasil didata sebelum tahun 2.000. Sekarang ini, menurut Mbah Jamil, dirinya sudah tidak tahu lagi berapa jumlah keseluruhan makam-makam yang terbaru.

Terbengkalai

Dokumentasi milik Mbah Jamil yang hingga kini masih tersimpan apik. (Liputan6.com/Ahmad Adirin)
Dokumentasi milik Mbah Jamil yang hingga kini masih tersimpan apik. (Liputan6.com/Ahmad Adirin)

Lebih lanjut dikatakan Mbah Jamil, tidak masalah jika keberadaan kompleks pesarean keluarga Ki Donomochammad disebut terbengkalai atau kurang terawat karena minim perhatian.

"Kurang terawat, memang kenyataannya begitu. Di situ memang banyak pahlawan," ucapnya.

"Mau mengadu kemana, sekarang mau minta bantuan kepada siapa. Ini makam keluarga, mau mengadu siapa. Seluruh leluhur kita sudah nggak ada semua. Dulu masih ada pejabat pasti terawat," ucap Mbah Jamil lagi.

Banyak tokoh dan pahlawan yang dimakamkan di kompleks pesarean Ki Donomochammad, antara lain Potjut Meurah Intan, M Abu Umar Imam Chourmain, Gatot Subroto, Syaikh Abdur Ro'uf, Raden Panji, Nyai Pangeran Tjitrosomo, dan lain sebagainya.

Di lokasi, semak belukar tumbuh dengan subur. Selain itu, kijing-kijing batu nisan yang ada di sana, banyak makam para bangsawan lainnya yang sebetulnya terdapat tulisan aksara jawa dan arab, tetapi sudah sulit bahkan tidak bisa dibaca.

Berharap Dipugar

Mbah Jamil saat menunjukkan dokumentasi yang masih disimpannya secara apik. (Liputan6.com/Ahmad Adirin)
Mbah Jamil saat menunjukkan dokumentasi yang masih disimpannya secara apik. (Liputan6.com/Ahmad Adirin)

Mbah Jamil di usianya yang kini sudah tidak muda lagi, merasa sedih karena melihat makam-makam yang ada di pesarean leluhurnya semakin terbengkalai. Tetapi, apa mau dikata, dirinya kini fisiknya sudah melemah.

Dirinya pun orang biasa dan mengaku tidak mampu jika ingin memugar untuk menjadikan kompleks makam yang kerap diziarahi hingga orang dari luar jawa itu, jadi wisata religi.

Kasmuriyanto selaku Kepala Desa Temurejo menyampaikan, harapannya agar keberadaan pesarean bersejarah di Dukuh Tegalsari itu didukung penuh untuk dijadikan cagar wisata religi.

"Tentunya juga agar disini bisa dikenang dan dikenal oleh banyak kalangan," kata Kasmuriyanto.

Sebatas diketahui, pihak Pemkab Blora sendiri sebenarnya kerap datang ke makam Potjut Meurah Intan. Tidak lain dan tidak bukan, mungkin selain untuk ziarah juga untuk memonitor adanya makam-makam yang terbengkalai di kompleks pesarean ini. Tetapi, untuk upaya pemugaran, belum sekalipun direalisasikan hingga sekarang.

Simak video pilihan berikut ini: