Transaksi nontunai di SPBU Jatimbalinus naik 269 persen

Nusarina Yuliastuti
·Bacaan 2 menit

PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region (MOR) V wilayah Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) mencatat transaksi nontunai di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) wilayah setempat naik sebesar 269 persen pada Oktober, dibanding September 2020.

Section Head Communication & Relation MOR V, Ahad Rahedi di Surabaya, Rabu, mengatakan pada September 2020 tercatat sebanyak 8.900 transaksi/hari dengan menggunakan aplikasi MyPertamina, sedangkan Oktober naik menjadi lebih dari 24.000 transaksi/hari.

"Jumlah ini naik 269 persen dibandingkan dengan rata-rata jumlah transaksi harian pada September 2020. Dan kenaikan ini sebagai upaya Pertamina menjawab tantangan di era digital dengan melakukan digitalisasi di seluruh lini bisnis, dari hulu hingga hilir," kata Ahad dalam keterangan persnya.

Baca juga: Pertamina pastikan protokol kesehatan seluruh fasilitas operasional

Melalui Digitalisasi SPBU termasuk pengembangan aplikasi MyPertamina, Ahad mengaku Pertamina dapat memantau terus distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) end to end process, sehingga bisa memberikan layanan kepada pelanggan lebih aman, mudah dan cepat.

Ia mengatakan bahwa hingga akhir Oktober 2020, Pertamina mencatat 1.174 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur telah menuntaskan program Digitalisasi SPBU.

Jumlah tersebut mencakup 93 persen dari total 1.265 SPBU yang direncanakan untuk implementasi teknologi digital di wilayah Jatimbalinus, dengan bersinergi Telkom yang saat ini sedang dalam proses persiapan serta pemasangan sejumlah perangkat pendukung di SPBU.

"Program Digitalisasi SPBU membuat Pertamina dapat memantau kondisi stok BBM, penjualan BBM, dan transaksi pembayaran di SPBU secara real-time. Konsep digitalisasi adalah dengan merekam seluruh data transaksi dan stok SPBU secara akurat pada waktu yang faktual, di mana dari setiap nozzle/selang pengisian BBM ke kendaraan konsumen dibuatkan sesuai sistem sedemikian rupa," katanya.

Baca juga: Pertamina tambah SPBU 3T di Kabupaten Asmat Papua

Hal ini, secara langsung dapat memberikan data konsumsi dan penjualan setiap SPBU.

“Dengan program digitalisasi ini, Pertamina dapat mengetahui jika terdapat SPBU yang akan kehabisan persediaan produk BBM, sehingga dapat segera ditindaklanjuti dengan upaya pengiriman BBM ke SPBU tersebut,” kata Ahad.