Transformasi Digital Bukan Sekadar Ganti Teknologi Usang

Lazuardhi Utama
·Bacaan 1 menit

VIVATransformasi digital bukan sekadar melakukan perubahan proses bisnis dari manual menjadi otomasi, dan bukan juga mengadopsi teknologi tercanggih untuk menggantikan teknologi yang sudah ada yang ketinggalan zaman.

Tapi lebih dari itu. Transformasi digital mengandung makna yang lebih dalam, yaitu mencakup perubahan pola pikir (mindset) yang diikuti dengan perubahan prilaku dari sumber daya manusia (SDM) itu sendiri.

Baca: AMD Ryzen Terbaru Segera Hadir di Indonesia

Dalam menerapkan transformasi digital, perusahaan di berbagai sektor industri membutuhkan jaringan, sistem, dan proses yang memadai agar tahap digitalisasi berjalan dengan lancar. PT Petrosea Tbk telah mempersiapkan diri menuju digitalisasi sejak dua tahun lalu melalui Project Minerva.

Direktur Utama Petrosea, Hanifa Indradjaya mengatakan, langkah strategis ini bagian dari pelaksanaan adopsi teknologi melalui transformasi digital kegiatan operasional yang menopang keberlangsungan usaha perusahaan, sehingga lebih siap menghadapi berbagai tantangan yang sangat berat, terutama masa pandemi COVID-19.

Untuk memperkuat bisnis, perusahaan berkode emiten PTRO ini juga meluncurkan strategi 3D, yaitu diversifikasi, digitalisasi, dan dekarbonisasi pada 2019.

"Strategi dekarbonisasi juga sangat penting untuk dilaksanakan supaya ke depannya kami dapat memanfaatkan energi yang jauh lebih efisien dan ramah lingkungan," kata dia, Sabtu, 3 Maret 2021.

Karena itulah, kinerja operasional Petrosea pada tahun lalu tercatat solid. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai US$32,28 juta, naik 3,53 persen dari US$31,18 juta pada tahun sebelumnya.

Hanifa menyebut posisi kas juga meningkat menjadi US$133,95 juta, naik 59,12 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meski diakuinya pendapatan perusahaan mengalami penurunan 28,49 persen menjadi US$340,65 juta akibat pembatasan sosial yang diberlakukan di pasar internasional.