Transformasi Digital Tanpa Jiwa Hanyalah Alat

Lazuardhi Utama, Misrohatun Hasanah
·Bacaan 3 menit

VIVA – Pandemi COVID-19 sudah berlangsung setelah satu tahun di Indonesia, perusahaan dan karyawan kini sudah mulai bisa beradaptasi dengan pola kerja baru. Perusahaan beradaptasi mengelola lingkungan kerja untuk menjaga produktivitas bisnis agar tetap bisa berjalan dengan baik karena karyawannya banyak yang harus bekerja dari rumah.

Direktur Utama Telkomtelstra, Erik Meijer, menjelaskan pandemi berdampak terhadap bisnis dan kehidupan karyawan. "Kalau dulu mereka bisa mengatur antara kehidupan pribadi dan pekerjaan, kini aktivitas fisik di kantor telah beralih ke kerja virtual atau tempat kerja digital," kata dia, Kamis, 8 April 2021.

Baca: Pemerintah Bisa Intip Obrolan di Telegram dan WhatsApp dengan 1 Syarat

Erik melihat adanya keresahan generasi milenial saat bekerja di era pandemi COVID-19, di mana mereka beranggapan bahwa bekerja dari rumah kurang produktif dan kurang mendapat bimbingan dari atasan, karena sistem bekerja yang tidak face-to-face atau tatap muka melainkan lewat teknologi.

“Teknologi itu bisa sangat membantu, tapi kalau tidak diterapkan dengan baik bisa jadi hambatan,” jelasnya. Ia juga mengungkapkan perbedaan pengaturan kerja jarak jauh sebelum dan saat pandemi. Menurutnya, jika dahulu membayangkan kerja jarak jauh bisa di pinggir pantai, kini harus ada di dalam sebuah ruangan.

Selain itu, tidak adanya jam kerja seperti di kantor membuat karyawan tidak mempunyai waktu pribadi dan bersama keluarga. Kesendirian juga menghinggapi akibat tidak adanya interaksi fisik atau bertatap muka secara langsung antar karyawan.

“Memang tidak mudah bekerja di era pandemi. Kapan pun bisa bekerja. Tiba-tiba ada pesan instan masuk soal pekerjaan saat malam dan, mau tidak mau, harus langsung dikerjakan. Kemudian, biasanya berinteraksi dengan orang kantor, namun kini tidak bisa,” ungkap dia.

Senada, Rektor Mahakarya Asia University, Ferro Ferizka Aryananda mengatakan, para karyawan harus memanfaatkan teknologi atau melakukan transformasi digital untuk mengintegrasikan kehidupan pribadi dan pekerjaan. Karena, transformasi digital akan mendukung pekerjaan supaya lebih efektif dan efisien.

“Kita sudah bekerja di rumah selama lebih dari satu tahun. Kita akan kembali ke kantor walaupun sudah ada vaksin. Tapi, kondisinya tidak akan sama seperti sebelum pandemi. Sebagian kerja di rumah dan sebagiannya lagi di kantor," kata Ferro.

Namun, transformasi digital tanpa jiwa hanyalah sebuah alat. Untuk itu harus mengadopsi teknologi supaya mengubah proses bisnis yang lama menjadi efisien. Sebab, teknologi menjadikan orang lebih produktif tapi harus berdasarkan kebiasaan.

“Dahulu orang bekerja sesuai jam kerja namun adanya pandemi mengubah semuanya. Orang dahulu bekerja secara teratur namun saat pandemi kapan pun bisa meeting hingga lupa waktu, tanpa adanya kebiasaan yang bagus mengakibatkan orang menjadi stres,” ungkap dia.

Menurutnya, para karyawan tidak perlu mengikuti kebiasaan organisasi lain atau dipaksakan namun justru menggali potensi diri yang ada. Adanya teknologi sangat membantu namun jika dipaksakan harus melihat kesiapan dari organisasi tersebut.

“Banyak orang mengacu pada bagaimana Microsoft melakukan sesuatu, tapi lupa kebiasaan kita sendiri. Padahal, kita tinggal mengenali potensi diri dan menyesuaikan teknologi dengan kebutuhan yang ada,” jelas Ferro.

Dari sisi psikologis manusia, Psikolog Klinis, Tara de Thouars, menerangkan bahwa masyarakat khususnya para karyawan tidak bisa menghindari bercampurnya waktu pekerjaan dengan kehidupan pribadi di tengah pandemi COVID-19, sehingga dituntut untuk menjalankan dua peran secara bersamaan.

Menurutnya, otak pekerja dipaksa untuk mengurus sesuatu secara bersamaan. Padahal tidak semua orang dapat beradaptasi dengan baik. Meskipun tempat kerja digital pasti bermanfaat, transisi bisa jadi sulit dan menemukan keseimbangan dalam hidup dan bisa menjadi lebih rumit.

"Cara mengatasinya dengan mengelola lingkungan kerja dari rumah untuk menciptakan integrasi kehidupan kerja yang lebih baik. Kuncinya, kita sepenuhnya harus hadir dan fokus terhadap apapun tugas yang sedang dilakukan. Karena kita tidak bisa melakukan pekerjaan multitasking, sehingga salah satu pasti tidak akan maksimal,” papar Tara.