Transformasi perpustakaan bagian dari pembangunan ekosistem nasional

·Bacaan 2 menit

Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando mengatakan urgensi dari transformasi perpustakaan berkaitan dengan pembangunan ekosistem digital nasional.

“Kami mengumpulkan informasi yang berserakan di masyarakat, karena di seluruh dunia, ini merupakan tugas dari pustakawan. Kemudian di diseminasi dan dikemas ulang dalam bentuk informasi jadi, sehingga memudahkan para pengguna dalam memanfaatkannya," kata Syarif dalam talk show di Antara TV bekerja sama dengan Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca Perpusnas bertemakan “Transformasi Perpustakaan Mewujudkan Ekosistem Digital Nasional”, di Jakarta, Selasa.


Syarif mengatakan sepanjang tahun 2022, Perpusnas menargetkan minimal satu juta content creator untuk tampil di channel Youtube Perpusnas dengan memanfaatkan Perpusnas sebagai pusat informasi.

Baca juga: Kemenko PMK: Transformasi perpustakaan merupakan suatu keharusan

“Jadi, kami tidak menciptakan aplikasi khusus, tapi fokus membangun jaringan. Misalnya, produk sarung atau pintu ukir Bali yang dipasarkan melalui market place Alibaba. Dijual dengan harga ratusan dolar AS, tapi belum ada buku cara membuatnya," katanya.

Syarif menegaskan semua bisa jadi pengusaha dengan produk yang ada. Tapi, bagaimana membangun ekosistem dengan produk terstruktur melalui UMKM. “Apa peran perpustakaan? Semua ada ilmunya. Ada buku tentang ilmu terapan yang bisa dicari melalui perpustakaan, literasi digital, pelatihan bagi warga terdampak COVID-19 berdasarkan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN),” tutur Syarif.


Ia menambahkan ada enam target yang disusun Perpusnas dalam transformasi digital, yakni konten, olah, layanan, preservasi, dukungan, dan akses.

Deputi Bidang Koordinasi Revolusi Mental Pemajuan Budaya dan Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Kordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Didik Suhardi menegaskan bahwa transformasi menjadi suatu keharusan.


Kemenko PMK punya tugas membangun manusia dan kebudayaan, sehingga menjadi orang-orang hebat dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

“Kami punya siklus pembangunan manusia, yaitu siklus seribu hari kehidupan, siklus anak usia dini, siklus sekolah, siklus perguruan tinggi, siklus usia produktif dan siklus lansia,” kata Didik.

Baca juga: Komisi X DPR dorong afirmasi untuk pustakawan

Baca juga: Kemendikbudristek: Perpustakaan sekolah bagian dari pembelajaran


Enam siklus itu harus diintervensi dengan baik dan harus bisa menjamin enam siklus manusia dilakukan secara maksimal. Literasi merupakan penghubung bagian yang harus dilakukan terhadap enam siklus pembangunan manusia. Perpustakaan menjadi referensi dari seluruh literasi, maka harus melakukan transformasi sejalan dengan perkembangan informasi dan teknologi.


“Saat ini eranya industri 4.0 yang ditandai dengan kemampuan berpikir kritis, kemampuan komunikasi, kolaborasi serta kecerdasan buatan. Harus diimbangi dengan kemampuan perpustakaan, sehingga bisa bertransformasi. Jadi, bisa diakses di seluruh dunia,” kata Didik.

Pihaknya telah berkoordinasi dengan Kemendikbudristek dan Kemendes PDTT agar menjadikan perpustakaan sebagai pintu masuk literasi.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel