Transisi Energi Tak Bisa Langsung Berpindah ke Energi Bersih, Ini Alasannya

Merdeka.com - Merdeka.com - Head of Mandiri Institute, Teguh Yudo Wicaksono mengatakan bahwa kebijakan transisi energi harus disikapi dengan langkah antisipasi dan mitigasi. Sebab, berpindah ke energi bersih tidak bisa dilakukan seketika dan secara langsung. Melainkan harus dilakukan secara bertahap dan terukur.

"Ketika kita bicara mengenai transisi dekarboksilasi, yang harus kita antisipasi dan mitigasi risikonya adalah risiko transisi energi itu sendiri," kata Teguh saat ditemui usai acara BNEF Summit di Hotel Grand Hyatt, Nusa Dua, Bali, Sabtu (12/11).

Bicara soal transisi energi, banyak orang yang sangat bergantung pada carbon intensive economy. Semisal batu bara yang tidak hanya perusahaan besar yang memiliki kepentingan. Tetapi ada masyarakat biasa yang sangat tergantung dari ekonomi ini.

"Jadi kita juga harus take into account, ketika kita bicara transisi energi, bagaimana kehidupan sehari-hari orang-orang ini," kata dia.

Tanpa perencanaan jangka panjang, pergi dari perusahaan batu bara bukan solusi yang tepat. Sebaliknya, perusahaan-perusahaan ini harus tetap didampingi dan diajak untuk bertransisi energi.

"Perusahaan-perusahaan yang di coal CPO dan lain lain, sebenarnya mereka masih membutuhkan capital. Dan kalau kita quit kasih pinjaman ke mereka, kita justru bisa meninggalkan mereka, yang padahal mungkin beberapa dari mereka punya transition path," tuturnya.

Perbankan Tak Bisa Tinggalkan Begitu Saja

Dalam hal ini perbankan tidak bisa begitu saja meninggalkan perusahaan-perusahaan yang masih menghasilkan emisi karbon. Sebab dengan pemberian fasilitas keuangan justru bisa mendorong mereka untuk segera beralih ke energi hijau.

"Jadi kita tidak bisa serta merta keluar, tapi kita lihat mana perusahaan di sektor brown ini yang memang memiliki komitmen untuk melakukan transisi dekarbonisasi dan kita support dari sisi financing," tuturnya.

Salah satu upaya yang dilakukan Bank Mandiri untuk mendorong perusahaan bertransisi yakni dengan mempercepat tenor pembiayaan. Dalam waktu yang bersamaan, bank pelat merah ini menyalurkan pembiayaan ke sektor hijau.

"Jadi strategi yang kami lakukan adalah mereka yang belum ada komitmen kita perpendek tenor pinjamannya. Dan kita moving support sektor-sektor yang meski mereka masih di brown sector tapi sudah punya rencana yang cukup solid," kata dia.

Cara ini dinilai menjadi yang paling tepat bagi perbankan dalam rangka mendorong transisi energi. Sebab jika sektor perbankan benar-benar meninggalkan bisnis sektor ini, ada risiko gagal sebagaimana yang pernah terjadi di Eropa ketika melakukan transisi energi.

"Dan ini yang kita amati di Eropa. Ketika langsung berhenti dari sektor coal, lalu ada energy krisis, yang kena masyarakat umum. Kita tidak ingin mengulangi hal yang sama," pungkasnya. [idr]