Transisi Energi Tak Terbendung, Insentif Jadi Kunci Bisa Bersaing

Dusep Malik
·Bacaan 2 menit

VIVA – Akselerasi pengembangan Energi Baru Terbarukan atau EBT dinilai membutuhkan insentif dari pemerintah agar bersaing dengan energi fosil. Hal itu penting, sebab transisi energi dari fosil ke EBT adalah sebuah keniscayaan.

Kementerian ESDM pun menyebut bahwa Indonesia menargetkan mencapai bauran EBT sebesar 23 persen hingga 2025 dan hingga 2020 realisasi bauran EBT hanya sebesar 11,2 persen atau 10,6 GW, sementara itu target 2025 sebesar 24 GW.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Rosan P. Roeslani mengatakan biaya pembangkitan EBT terus turun dari tahun ke tahun. Ditambah lagi potensi EBT di Indonesia sangat besar, seperti panas bumi, angin dan air.

“Transisi energi merupakan sebuah keniscayaan, namun dibutuhkan insentif dari pemerintah,” kata Rosan dalam webinar Energy and Mining Editor Society (E2S), di Jakarta, Senin 12 April 2021.

Rosan juga mengatakan pemerintah berusaha secara bertahap menekan defisit migas dengan melakukan bauran energi dari batu bara ke EBT. Apalagi EBT akan melampaui energi fosil pada 2050.

Sedangkan, Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Ego Syahrial, mengatakan pemerintah terus mendorong pengembangan EBT. “Saat ini masih disiapkan rancangan Perpres pembelian tenaga listrik EBT,” kata Ego.

Selain itu, guna mengurangi penggunaan energi fosil pemerintah juga terus mendorong penggunaan Bahan Bakar Gas (BBG), yang pada 2030 nanti akan mencapai 400 ribu unit kendaraan dan 250 unit kapal.

Kemudian, kata Ego, Kementerian ESDM juga mendorong penggunaan kendaraan listrik di Tanah Air, di mana targetnya sebanyak 15 juta kendaraan pada 2030 akan bertenaga listrik dan juga mendorong penggunaan biodiesel.

"Dari semua bauran energi yang ditargetkan tersebut maka diperkirakan akan menghemat devisa negara hingga US$8,8 miliar dari 2021 hingga 2040 mendatang," jelas Ego.

Sementara itu, Menteri ESDM Periode 2000–2009, Purnomo Yusgiantoro, mengatakan transisi energi di Indonesia terkait erat dengan dua faktor, yaitu teknologi dan keekonomian.

Purnomo mengindikasikan biaya pembangkitan EBT masih kurang bersaing dibanding biaya pembangkitan energi batu bara, terutama di wilayah Jawa. “Transisi energi membutuhkan bridging fuel, contohnya gas dan batu bara yang menggunakan teknologi ramah lingkungan,” kata Purnomo.