Tren Belanja Online Meningkat 3 Kali Lipat di Awal Ramadan 2021

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Continuum Data Indonesia melaporkan tren belanja online meningkat tiga kali lipat di awal Ramadan 2021. Hal tersebut diperoleh melalui riset terkait perilaku konsumen di tengah pandemi Covid-19 yang dilakukan pada 1 April hingga 25 April 2021.

"peningkatan tren belanja online hingga 3 kali lipat itu tercapture dalam pendekatan melalui big data secara yang mencakup 1,204,102 pembicaraan di media sosial dari 934,671 akun media sosial," imbuhnya dalam acara Diskusi Online Indef bertajuk Ekonomi Ramadan 2021, Lesu atau Bergairah? Analisis Perilaku Konsumen Melalui Pendekatan Big Data, Senin (3/5).

Azzam mengungkapkan, adanya kenaikan tren belanja online di awal bulan puasa tersebut tak lepas dari dampak pandemi Covid-19. Menyusul terbatasnya ruang gerak masyarakat untuk beraktivitas di luar rumah selama pandemi berlangsung.

"Jadi, mungkin karena pandemi orang juga masih banyak memutuskan untuk belanja secara online," terangnya.

Sementara itu mayoritas topik pembicaraan tren peningkatan belanja online di media sosial banyak disumbang oleh terkait pencarian baju lebaran. "sekitar 26 persen konsumen yang membicarakan soal baju lebaran," terangnya.

Topik selanjutnya yang ramai diperbincangkan terkait belanja online ialah drama online shop, diskon online shop, serta kuis dan giveaway oleh sejumlah e-commerce. Kemudian topik hangat lainnya yaitu rekomendasi barang dan toko, ikut program berhadiah, hingga dapetin diskon belanja.

Alasan Pelaku UMKM Perlu Jualan di E-Commerce

Ilustrasi Belanja Online, e-Commerce, eCommerce, Online Marketplace, Bisnis Online
Ilustrasi Belanja Online, e-Commerce, eCommerce, Online Marketplace, Bisnis Online

Pandemi Covid-19 menjadi momentum yang baik untuk pelaku usaha baru memulai bisnisnya. Caranya dengan membuka toko online di e-commece.

Alasannya, Head of Business Development Akulaku Silvrr Indonesia, Yudhistira Luntungan menilai memulai bisnis di masa pandemi bisa menekan belanja modal. Pelaku usaha tidak perlu mengeluarkan dana untuk menyewa tempat dan biaya promosi untuk mendatangkan pelanggan.

"Kalau jualan offline ini bisa overheat cost untuk sewa tempat, biaya promosi untuk mendatangkan pelanggan," kata Yudhistira dalam Webinar Literasi Keuangan & Wirausaha Akulaku, Jakarta, Jumat (30/4).

Lewat membuka toko online, pedagang tidak perlu mengeluarkan anggaran untuk sewa toko dan sebagainya. Sebaliknya dengan melapak online, pedagang sudah bisa menjangkau semua konsumen tak terbatas tempat.

Pelanggan yang berbelanja tidak hanya orang yang datang atau melintas di toko fisik. "Jadi bukan sekitaran toko mereka saja, sehingga membuat mereka lebih dikenal dan menjadi pemenang dalam menghadapi pandemi ini," kata dia.

Hal yang sama juga berlaku bagi pelaku UMKM yang sudah memiliki toko fisik. Kehadiran toko online di platform digital bisa menjadi akses lain mendatangkan pelanggan.

"Toko online ini bisa datangkan pelanggan luar jangkauan. Saya enggak bisa bilang tinggalkan toko offline tapi jadikan ini sebagai salah satu keuntungan tambahan merchant tersebut," kata dia.

Yudhistira mengatakan para pelapak online baru yang bergabung dengan Akulaku kerap mengalami peningkatan penjualan. Setidaknya hampir 30 persen per bulan ketika sudah berjualan di platform digital.

"Pengalaman saya pedagang di Akulaku ini bisa tambah pendapatan 20 persen hingga 30 persen per bulan di awal-awal join dengan kami," kata dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: