Tren Berjemur saat Pandemi COVID-19, Dokter Anjurkan Pakai Tabir Surya

·Bacaan 2 menit

VIVA – Perubahan gaya hidup akibat Pandemi COVID-19, membuat banyak orang lebih banyak beraktivitas di rumah untuk mencegah penularan, termasuk berjemur. Meski baik bagi imunitas, namun kerap kali berjemur tak diiringi dengan pemakaian sunscreen atau tabir surya yang berdampak buruk pada kulit.

Dituturkan dokter spesial kulit, dr. Arini Astasari Widodo, SpKK, berjemur menjadi hal yang sudah mulai rutin dilakoni masyarakat sejak pandemi menerjang. Akan tetapi, berjemur juga harus ada batasannya agar mencegah dampak yang tak diinginkan.

"Namanya berjemur harus dibatasi karena UV indeks Indonesia tinggi sekali. Angkanya 11 plus, apalagi udah 12, 13 sangat berbahya. Sangat ekstrem," ujarnya dalam acara virtual Dew It, beberapa waktu lalu.

Arini menganjurkan bahwa selalu perhatikan UV Indeks sebelum berjemur, di mana angka 6 adalah paling ideal. Selain itu, berjemur juga tak boleh lebih dari 15 menit.

"Harus 5-15 menit aja. Lamanya tergantung tipe kulit. Makin terang, lebih hati-hati saat berjemur," jelasnya.

Selain itu, penting juga untuk tetap mendapat efek baik dari sinar matahari dengan rajin memakai sunscreen. Sebab, tanpa pemakaian tabir surya atau sunscreen berdampak pada 3 risiko ganguan fungsi kulit.

"Palin berisiko kalau tidak pakai suncreen yaitu sunburn, kanker, dan hiperpigmentasi. Sunburn nggak bisa diabaikan karena lima kali sunburn aja, udah 2 kali lipat risiko jadi melanoma (kanker kulit)," jelasnya.

Hiperpigmentasi sendiri, lanjut Arini, juga berisiko saat jerawat sudah mulai mereda dan malah menimbulkan noda hitam ketika dibiarkan terpapar matahari. Ada pula, risiko kulit mudah keriput dan warna tak merata saat membiarkan wajah tanpa sunscreen saat keluar rumah.

"Apalagi pakai masker dan nggak pakai sunscreen jadi belang kulitnya. Lebih banyak jendela di rumah juga, penuaan kulit lebih cepat 20 tahun yang kena matahari. Fotoageing is real," tuturnya.

Lantaran peran sunscreen begitu besar, founder Dew It, Rachel Lakhiani, menyebut bahwa cara inovatif dan sederhana dalam merawat kulit melalui rangkaian skincare yang terdiri dari face sun stick, sunscreen mist, dan cooling cream.

Pada sunscreen jenis stick, Rachel menjelaskan bahwa bahannya merupakan gabungan chemical dan physical sunscreen, termasuk bahan dan Filter UV di dalamnya. Dengan begitu, pemakaiannya diklaim dapat melindungi dari UVA, UVB, dan IRA, juga membantu kulit tetap terhidrasi.

"Teksturnya ringan, no whitecast, no greasy feel. Stick-nya dibuat cukup kecil supaya bisa menjangkau area, seperti bagian bawah mata dan di dekat hidung," jelas Rachel.

Sementara, sunscreen yang disemprot memiliki fungsi yang sama namun dengan tambahan vitamin C, vitamin E derivatif, dan antioksidan aktif. Bentuk tabir surya ini mempermudah untuk aplikasi kembali tanpa harus menyentuh wajah dengan tangan.

"Karena spray, orang jadi lebih mudah untuk reapply, dan itu disarankan setiap dua jam sekali," Rachel menambahkan.

Hal ini senada dengan saran Arini, untuk memakai sunscreen 30 menit sebelum kekuar rumah dan perlu diaplikasikan secara rutin. "Untuk reapply, idealnya memang membersihkan wajah terlebih dahulu. Tidak hanya kulit, pastikan juga permukaan sun stick bersih," ucapnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel