Tren Demam Korea, Apa Untungnya Buat Indonesia?

VIVA
·Bacaan 4 menit

VIVA – Demam korea menjadi fenomena yang sedang mendunia. Indonesia tak terkecuali, menjadi negara yang memiliki demografi besar dalam menikmati fenomena Korean wave ini. Bukan tanpa alasan memang, Korean wave makin mendunia.

Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan Umar Hadi menjelaskan berbeda dengan tren sebelumnya, sejak tahun 2000-an perekonomian Korsel saat ini tidak lagi pada tahap mengandalkan industri manufaktur, melainkan sudah masuk ke sektor jasa, industri kreatif, dan digitalisasi. Hal ini didukung dengan tingginya popularitas budaya pop Korsel.

Terbukti, produk dari persebaran budaya pop Korsel yang semakin popular ini menjadi produk untuk meningkatkan ekspor Korsel.

Persebaran budaya

Fenomena demam korea di Indonesia sendiri membuat Indonesia menjadi target dalam persebaran budaya Korea.

Awalnya, budaya Korea tersebar di Indonesia melalui drama Korea yang sangat laris dan digemari oleh masyarakat Indonesia, terutama para remaja dan kalangan ibu-ibu. Terlebih, di masa pandemi Covid-19 ini menjadikan drama Korea Selatan menjadi sajian tayangan yang menarik menemani masa karantina masyarakat Indonesia.

Ahmad Rifai selaku praktisi dan Dosen di bidang Advertising & Marketing, menjelaskan bahwa pengaruh tren Korea ini juga bisa berdampak pada kepada ekonomi suatu negara.

“Korea menjadikan budayanya ini menjadi aset negara. Artinya gimana itu nanti bisa dijual ke negara-negara lain. Kita lihat bagaimana Korean culture itu dibangun sebegitu ketatnya, mulai dari pemilihan-pemilihan talent, profiling, itu dilakukan dengan sangat seksama,” jelas Ahmad ke VIVA.

Lebih lanjut, Ahmad juga menjelaskan bahwa budaya Korea yang terus diperkenalkan kepada dunia ini menjadi sebuah aset devisa. “Gak lagi yang sifatnya barang-barang. Saya melihat ini sebagai kejelian nation marketing. Bagaimana satu culture mereka eksplor, mereka lakukan inovasi dan itu bisa dijual. Dan tentunya ini kalau dilihat dari pertumbuhan ekonomi pasti dampaknya akan ada pertumbuhan ekonomi di Indonesia,” imbuhnya.

Memanfaatkan momentum

Pemerintah Korea menjalin kerja sama kebudayaan untuk memperluas jangkauannya di Indonesia. Bahkan, perusahaan-perusahaan Indonesia juga mulai banyak yang memboyong artis Korea sebagai brand ambassador mereka.

Ahmad menjelaskan bahwa fenomena demam Korea ini bukan hanya sekedar tren yang lagi hype saja, lebih dari itu, hal tersebut bisa menjadi momentum yang baik untuk sebuah brand yang akhirnya dapat membantu pertumbuhan ekonomi nasional.

“Ketika sudah masuk ke demam korea, maka seseorang tersebut akan tertarik untuk mengenal budaya Korsel lebih jauh, termasuk produk-produk kreatifnya. Misalnya, seperti baju tradisional Korsel, kuliner Korsel, maupun merchandise atau barang yang berkaitan dengan idolanya, baik itu penyanyi atau yang disebut idol, maupun aktris/aktor dalam drama,” kata Ahmad.

Menurut Ahmad hal ini juga berkaitan dengan naluri manusia dalam teori Consumer Behaviour. “Salah satu naluri manusia adalah mengimitasi. Nah, imitasi ini dilakukan oleh hampir seluruh manusia, termasuk di Indonesia sendiri. Salah satunya menularkan imitasi adalah melalui tren. Dibuatlah tren-tren ini dan ketika tren itu menjadi bagian dari lifestyle kemudian bagian dari lifestyle itu menjadi sebuah kebutuhan dan ketika menjadi sebuah kebutuhan, tentunya ini akan menjadi penggerak ekonomi,” jelasnya.

Akhirnya, lanjut Ahmad, jika seseorang itu melihat sesuatu berdasarkan kebutuhan, maka akan muncul keinginan untuk memiliki atau membeli barang tersebut. “Karena kalau kita melihat sesuatu itu berdasarkan kebutuhan, maka keinginan kita untuk spending akan sangat tinggi. Kalau tren kan hanya sesaat, tapi kalau kita membuatnya menjadi sebuah kebutuhan, ini akhirnya menjadi sebuah mesin devisa baru.”

Penggerak ekonomi nasional

Demam K-Pop di Indonesia sudah terjadi dalam 10 tahun terakhir. Survei menunjukkan saat ini bintang-bintang K-Pop memiliki pasar yang besar dan trafik yang tinggi.

Hal ini seperti yang dijelaskan Yuswohady, seorang pakar Marketing dan Branding. Kata dia, “Dampaknya, perusahaan-perusahaan di Indonesia mulai banyak yang memboyong artis Korea sebagai brand ambassador mereka karena banyaknya penggemar militan baik di dalam maupun luar negeri,” ujar Yuswo di Jakarta, Kamis (7/1/2021).

Bahkan beberapa brand e-commerce semuanya menggunakan artis Korea sebagai brand ambassador. Sebut saja Tokopedia, yang berkolaborasi dengan BTS sebagai brand ambassador. Selain mampu mendorong penjualan, strategi marketing seperti ini disinyalir bisa memupuk citra baik Indonesia.

Selain itu, perusahaan-perusahaan yang menggaet artis Korea ini juga memanfaatkan momentum tren demam korea ini dengan menghadirkan berbagai bintang dan idol asal Korea di tengah masyarakat Indonesia. Hasilnya, ternyata berdampak pada permintaan produk adaptasi Korea yang meningkat signifikan.

Tidak hanya itu, dampak drama Korea yang sering menayangkan adegan makan makanan khas Korea, membuat pegiat usaha di Indonesia yang menjual makanan khas Korea, seperti tteokbokki dan jajangmyeon, menjadi lebih laris. Bahkan, dalam 1 tahun terakhir, peningkatan penjualan kedua produk tersebut mencapai lebih dari 6 kali lipat (Data Tokopedia, Desember 2020).

Contoh lainnya yaitu, acara televisi Tokopedia ‘Waktu Indonesia Belanja’ (WIB), yang sempat melibatkan BTS pada 2019 lalu. Keterlibatan BTS membuat acara ini sangat ramai diperbincangkan di media sosial hingga menempati peringkat pertama trending topik, baik di Indonesia maupun berbagai penjuru dunia.

Pernyataan lain juga muncul dari Pengamat Ekonomi dan Dosen Binus University, Doddy Ariefianto. Doddy menjelaskan bahwa tren iklan K-Pop di Indonesia secara tidak langsung mampu mendorong daya beli masyarakat terutama di kalangan anak muda.

“Apabila daya beli meningkat diikuti dengan membaiknya penjualan, maka tidak tertutup kemungkinan investasi juga akan masuk,” jelas dia.

Investasi asing yang masuk ke Indonesia melalui perusahaan-perusahaan dalam negeri ini akhirnya akan kembali ke masyarakat Indonesia. “Pasalnya, pengetahuan yang dibawa investor asing bisa membuat perusahaan-perusahaan Indonesia berkembang pesat dan berdaya saing global,” ungkapnya.

Hal ini tentu akan berdampak kepada terciptanya lebih banyak lapangan pekerjaan, meningkatnya kesejahteraan masyarakat dan terwujudnya pemulihan ekonomi nasional.