Tren Mulai Mereda, Harga Sepeda Lipat Kini Lebih Murah

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi Covid-19 sejak tahun lalu memunculkan berbagai kebiasaan baru, termasuk tren sepeda. Namun, permintaan sepeda lipat kini mulai menurun sehingga menyebabkan over supply (kelebihan pasokan) di pasaran dan penurunan harga.

Ketua Asosiasi Pengusaha Sepeda Indonesia (Apsindo), Eko Wibowo Utomo, mengungkapkan harga sepeda lipat saat ini mengalami penurunan 20-30 persen karena over supply tersebut. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi booming sepeda pada tahun lalu.

Stok sepeda untuk satu tahun, kata Eko, justru sudah menipis pada periode Agustus 2020. Untuk memenuhi lonjakan permintaan maka harus impor, karena produsen dan importir tidak bisa menyediakan barang dalam waktu singkat.

Namun upaya untuk menyediakan kembali sepeda dari luar negeri sempat terhambat ketika pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 68 Tahun 2020 tentang ketentuan Impor Alas Kaki, Elektronik, dan Sepeda Roda Dua dan Roda Tiga.

Hingga akhirnya, sepeda impor baru mulai banyak masuk pada awal 2021. Sayangnya, permintaan sepeda sejak awal tahun ini tidak lagi sebesar 2020. Hingga terjadi over supply.

"Ini kan tren yang melonjak begitu cepat, sehingga barang sekarang terus terang dari awal tahun sudah over supply di pasar dan akhirnya juga banyak pilihan barang di pasar. Sehingga menyesuaikan harga karena sekarang juga banyak pemain-pemain baru," jelas Eko saat dihubungi Liputan6.com pada Sabtu (5/6/2021).

Permintaan di pasar tetap ada, tapi katanya, tidak begitu besar seperti tahun lalu.

"Karena tahun lalu ada orang euforia ikut-ikutan, sekarang ini orang memang mikir untuk beli sepeda, tapi dia akan mempertimbangkan untuk harga yang efisien. Dan juga karena faktor ekonomi yang masih belum cukup pulih dengan kondisi pandemi seperti sekarang. Itu akan jadi pertimbangan juga di pasar," ungkapnya.

Kenapa Sepeda Lipat?

Teknisi merakit sepeda pesanan pembeli di Toko Sepeda Maju Royal, Cipondoh, Kota Tangerang, Kamis (11/6/2020). Selama masa pandemi Covid-19 penjualan sepeda lipat mengalami kenaikan dibanding sebelum masa pandemi. (Liputan6.com/Fery Pradolo)
Teknisi merakit sepeda pesanan pembeli di Toko Sepeda Maju Royal, Cipondoh, Kota Tangerang, Kamis (11/6/2020). Selama masa pandemi Covid-19 penjualan sepeda lipat mengalami kenaikan dibanding sebelum masa pandemi. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

Dijelaskan Eko, penurunan harga memang paling berdampak pada sepeda lipat. Hal ini karena sepeda lipat memiliki pangsa pasar 60 persen.

"Karena sepeda lipat itu adalah entry level bagi satu keluarga untuk punya sepeda karena semuanya bisa pakai dan praktis bisa dibawa," tuturnya.

Namun saat ini, varian sepeda lipat sangat banyak membanjiri pasar. Sehingga produsen dan importir pun harus melakukan penyesuaian harga, seperti menggunakan frame yang sama tapi dengan downgrade sparepart agar bisa lebih murah dan diterima di pasar.

"Penurunan 20 hingga 30 persen ini rentangnya bermacam-macam. Contoh dari Rp 3,7 juta sampai Rp 4 juta, sekarang bisa turun menjadi 1,7 hingga Rp 2 jutaan. Karena ini disesuaikan, bukan berarti barang yang tadinya Rp 4 juta itu diturunkan harga menjadi segitu, tapi disesuaikan part-nya untuk bisa diterima di pasar," tutur Eko.

Infografis 10 Tips Aman Bersepeda di Tengah Pandemi

Infografis 10 Tips Aman Bersepeda di Tengah Pandemi. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis 10 Tips Aman Bersepeda di Tengah Pandemi. (Liputan6.com/Trieyasni)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: