Tren Pariwisata Era New Normal, Solo Traveler Kian Meningkat

Adinda Permatasari, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 2 menit

VIVA – Menurut data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dampak COVID-19 terhadap sektor pariwisata membuat pemerintah perlu menyesuaikan proyeksi kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara di tahun ini. Pemerintah pun kian mendorong investasi sektor pariwisata dan memperkuat promosi pariwisata dengan memanfaatkan teknologi digital secara optimal.

"Saat ini pemerintah tengah melakukan berbagai strategi untuk mendorong kebangkitan industri pariwisata dan ekonomi kreatif, di antaranya melalui program Bangga Berwisata #DiIndonesiaAja dan Bangga Buatan Indonesia," ujar Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, dalam acara vritual bersama Blibli, baru-baru ini.

Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf RI, Nia Niscaya, menjelaskan bahwa pandemi COVID-19 juga membawa perubahan pada tren pariwisata. Di era new normal, faktor kesehatan menjadi hal utama dalam hal melakukan perjalanan.

Peraturan serta protokol kesehatan yang ketat menjadi pertimbangan traveler untuk berpariwisata di Tanah Air dan menghindari bepergian ke luar negeri untuk sementara waktu. Pandemi juga mengubah mindset para pelancong untuk memilih cara bepergian yang lebih bijak.

"Kalau dulu orang melakukan perjalanan lebih suka, 'wah di situ ramai', sekarang lebih suka less crowded. Lalu, lebih suka individual (solo) traveler. Serta perjalanan yang lebih jarang tapi longer stay," kata Nia, dalam kesempatan yang sama.

Sementara itu, target pariwisata pada kunjungan wisatawan di wilayah Indonesia juga dibatasi dengan memantau zona. Apabila zona hijau, maka daerah tersebut dipromosikan dan sebaliknya pada zona merah. Hal itu berdampak pada penurunan target kunjungan wisatawan asing (wisman) dan wisatawan nusantara (wisnus) yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM).

"Kita sudah revisi target wisman sebanyak 4 juta dari target RPJM itu 19 juta. Untuk wisnus, dari target RPJM 320 juta pergerakan, dilakukan penyesuaian 180 juta pergerakan," ungkap Nia.

Penyesuaian target pada wisman tersebut lantaran masih ditutupnya border di pintu masuk seperti bandar udara hingga pelabuhan. Sementara, pada wisnus kendalanya terkait pembatasan pada hari-hari besar dan libur panjang lantaran adanya larangan dari pemerintah.

"Masa panennya (wisman) itu saat pulang kampung, tapi sekarang kan nggak bisa. Lalu, liburan anak sekolah. Juga yang ketiga panennya adalah ketika ada long weekend atau cuti bersama. Ini tantangan yang kami hadapi di target kunjungan atau pergerakan wisatawan nusantara," beber Nia.