Tren Pelayan Restoran Virtual Selama Pandemi COVID-19

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Bisnis sekarang berjalan sangat dekat dengan inovasi digital, yang salah satu faktor pendesaknya adalah pandemi COVID-19. Inisiasi demi inisiasi dihadirkan demi memberi pengalaman baru bagi pelanggan.

Salah satunya memungkinkan pelanggan "pergi" ke restoran favorit mereka dan membuka menu yang telah dibuat khusus untuk setiap pelanggan. Itulah yang Opaala, platform yang diluncurkan di Dubai oleh Giles Wright dan Marwan Saab pada 2019, dapat lakukan.

Melansir CNN, Kamis, 30 Desember 2021, Opaala membuat menu khusus untuk pengunjung individu dengan menawarkan hidangan favorit mereka. Susunan menunya juga mempertimbangkan alergi dan persyaratan diet dari setiap pelanggan.

"Opaala adalah pelayan virtual," kata Wright. "Pelanggan sudah mendapatkan menu di ponsel mereka, di tangan mereka. Mereka dapat meminta tagihan, mereka dapat membayar tagihan, atau mereka dapat memesan langsung ke dapur."

Pelanggan memindai kode QR biasa, tapi Saab dan Wright mengatakan, teknologi di balik platform lah yang "menciptakan keajaiban." Mereka menyebut platform tersebut sebagai "menu dinamis."

Menggunakan AI dan pembelajaran mesin, Opaala dapat melacak kebiasaan makan pelanggan dan membuat menu yang semakin dipersonalisasi dari waktu ke waktu. Data tersebut tidak hanya meningkatkan pengalaman pengguna, kata Saab dan Wright.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Bangun Menu Sesuai Preferensi

Ilustrasi dapur restoran. (Dok. Louis Hansel/Unsplash)
Ilustrasi dapur restoran. (Dok. Louis Hansel/Unsplash)

Duo itu menjelaskan, restoran dapat menggunakan analis Opaala untuk menyesuaikan menu mereka dengan preferensi pelanggan. Satu restoran bahkan "membangun seluruh menu mereka berdasarkan data kami," kata Saab.

Perusahaan telah berkembang sejak pandemi COVID-19, dengan restoran di seluruh dunia beralih ke solusi nirsentuh. "Ketika COVID datang, banyak orang terdampak," kata Wright. "Tapi kami menemukan bahwa Opaala ditempatkan dengan sempurna. Inovasi ini tanpa kontak, bebas kertas, dan pintar."

Saab dan Wright mengatakan Opaala telah menyebar ke lebih dari 350 tempat di 14 negara sejak diluncurkan. "Mudah-mudahan, beri kami satu tahun, dan Anda akan melihat kami benar-benar berada di mana-mana," kata Saab.

Robot Pelayan Restoran

Kedai kopi di Bandung, Jawa Barat, Otten Coffee, hadirkan robot barista. (dok. PR)
Kedai kopi di Bandung, Jawa Barat, Otten Coffee, hadirkan robot barista. (dok. PR)

Sejalan dengan itu, publik juga sekarang sudah makin lumrah mendapati robot pelayan restoran di beberapa negara. Mengutip Budget Branders, sesuai namanya, robot-robot ini menerima pesanan dan mengantarkan makanan ke pengunjung di sebuah restoran.

Robot pelayan ini umumnya tidak menerima pesanan. Mereka hanya mengantarkan makanan ke pelanggan dan mengambil piring kotor. Karena robot tidak beroperasi secara independen, staf restoran masih perlu memuat pesanan, memberi tahu robot ke mana harus pergi, dan meletakkan piring bekas.

Beberapa perusahaan membuat robot pelayan. Biasanya, mereka terlihat seperti rak buku bergulir, dengan rak yang tersedia untuk menampung piring, baik diberikan atau diambil dari pelanggan. Di luar itu, estetika dan fitur robot bervariasi.

Bella, misalnya, robot pelayan yang didesain Pudu Robotics yang didesain mirip kucing. Robot ini punya fitur empat nampan, layar sentuh, dan kamera inframerah yang memungkinkan untuk menavigasi di sekitar ruang makan. Seorang anggota staf memuat makanan untuk meja ke salah satu nampan, memasukkan nomor meja, dan Bella meluncur untuk mengantarkan makanan.

Infografis Titik Lengah Makan Bersama

Infografis Titik Lengah Makan Bersama (Liputan6.com/Niman)
Infografis Titik Lengah Makan Bersama (Liputan6.com/Niman)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel