Trik Aneh Timnas Qatar demi Moncer di Piala Dunia 2022, Tiru Cara Korea Selatan

Bola.com, Jakarta - Piala Dunia 2022 tinggal dua bulan lagi bergulir di Qatar. Sebanyak 32 tim yang bakal berlaga pada akhir tahun ini sudah mempersiapkan diri termasuk tuan rumah Timnas Qatar.

Sebagai tuan rumah, Timnas Qatar terus berbenah menyambut pesta sepak bola paling akbar tersebut. Piala Dunia edisi ini akan mencatatkan sejarah karena pertama kalinya berlangsung pada musim dingin.

Selain itu, Piala Dunia edisi ke-22 ini bakal berlangsung di Timur Tengah. Lalu bagaimana dengan persiapan dari kesebelasan tuan rumah atau Timnas Qatar?

Timnas Qatar tentu saja tidak ingin bernasib serupa dengan Afrika Selatan saat menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010. Ya, Bafana-bafana menjadi satu-satunya negara tuan rumah yang gagal melaju dari babak penyisihan grup. Mari kita ulas keanehan yang dilakukan Timnas Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.

 

Tak Berlaga di Liga Profesional

Qatar memiliki julukan The Maroon atau merah marun yang sesuai dengan warna jersey kandang mereka. Untuk bahasa Arab, julukan merah marun tim nasional Qatar yakni Al Annabi. (AFP/Carl De Souza)
Qatar memiliki julukan The Maroon atau merah marun yang sesuai dengan warna jersey kandang mereka. Untuk bahasa Arab, julukan merah marun tim nasional Qatar yakni Al Annabi. (AFP/Carl De Souza)

Timnas Qatar telah mengumpulkan 27 pemain untuk masuk ke skuad. Pelatih Qatar, Felix Sanchez, bahkan mengumpulkan pemain untuk menjalani kamp latihan selama enam bulan.

Mereka menjalani kamp latihan di Spanyol kemudian pindah ke Austria. Selain itu, mereka juga melakukan serangkaian laga uji coba hingga menggelar turnamen mini melawan Maroko dan Ghana.

Gara-gara melakukan kamp latihan jangka panjang, para pemain Qatar tidak berlaga di liga profesional. Fakta ini dianggap aneh bahkan oleh perwakilan dari Qatar Super League.

 

Tiru Gaya Korea Selatan

Sebenarnya kamp latihan ini pernah dilakukan Korea Selatan saat menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002. Korea Selatan menghabiskan lima bulan untuk menjalani kamp latihan.

Hasilnya, Teaguk Wariors menjelma menjadi tim solid dan memiliki satu visi yang sama. Hasilnya, Korea Selatan berhasil menembus babak semifinal sebelum dihentikan Jerman.

 

Trik Aneh

Kurang lebih 3 bulan lagi putaran final Piala Dunia 2022 Qatar akan dimulai. Iconic Lusail Stadium terpilih sebagai venue pembuka dan penutup ajang pesta akbar sepak bola 4 tahunan sejagat ini. Tak salah jika Iconic Lusail Stadium terpilih dalam dua laga tersebut dan beberapa laga lainnya karena menjadi stadion terbesar dari 8 stadion yang digunakan di Qatar nanti. Mau tahu seperti apa suasana Iconic Lusail Stadium yang telah menggelar laga uji coba resmi tersebut? Berikut profil singkatnya. (AFP/Mustafa Abumunes)
Kurang lebih 3 bulan lagi putaran final Piala Dunia 2022 Qatar akan dimulai. Iconic Lusail Stadium terpilih sebagai venue pembuka dan penutup ajang pesta akbar sepak bola 4 tahunan sejagat ini. Tak salah jika Iconic Lusail Stadium terpilih dalam dua laga tersebut dan beberapa laga lainnya karena menjadi stadion terbesar dari 8 stadion yang digunakan di Qatar nanti. Mau tahu seperti apa suasana Iconic Lusail Stadium yang telah menggelar laga uji coba resmi tersebut? Berikut profil singkatnya. (AFP/Mustafa Abumunes)

Seorang sumber di Qatar Super League (QSL) kepada BBC Sport mengatakan kamp latihan Qatar cukup aneh. "Idenya tidak sepenuhnya gila tetapi aneh," ujarnya.

"Kamp latihan itu terlalu lama. Mereka harus melakukannya untuk jangka waktu yang lebih pendek. Mengeluarkan pemain dari permainan kompetitif itu sulit dari sudut pandang mental."

"Sulit untuk tetap bersama begitu lama. Mental para pemain mungkin terbakar, mereka bisa memutuskan untuk memotong durasi kamp menjadi lebih pendek," sambungnya.

 

Liga Qatar Tanpa Bintang

Pihak yang paling dirugikan dari kebijakan itu adalah klub karena memakai jasa para pemain bintangnya. Misalnya penyerang Almoez Ali dari Al-Duhail dan pemain sayap Akram Afif, yang bermain untuk juara bertahan Al-Sadd, kehilangan pertandingan kompetitif.

"Tidak bermain kompetitif adalah kelemahan terbesar," tambah sumber itu. "Tidak ada yang menang atau kalah dalam pertandingan persahabatan."

"Untungnya mereka dapat membawa keluarga untuk menginap dan memiliki waktu luang bersama mereka atau mengizinkan mereka untuk kembali ke Qatar selama beberapa hari.'"

"Kalau tidak, itu menjadi seperti kamp militer dan ini bukan mentalitas negara," tandas sang sumber.

Sumber: BBC