Trivia Saham: Mengenal Obligasi Korporasi, Apa Untung dan Risikonya?

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) memprediksi pasar surat utang (obligasi) dan surat utang syariah (sukuk) korporasi kembali bergairah pada 2021.

"Outstanding obligasi korporasi mulai menunjukkan pertumbuhan pasca ada penurunan yang disebabkan oleh pandemi,” ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna, Rabu, 17 Februari 2021.

BEI mencatat total emisi obligasi dan sukuk baru yang dicatatkan mencapai Rp 5,11 triliun hingga 16 Februari 2021. Nyoman menuturkan, pasar obligasi akan bangkit ditopang oleh beberapa hal yang menjadi katalis bagi pendanaan korporasi di pasar modal.

Pertama, kebijakan moneter dan fiskal yang tetap akomodatif. Hal ini melilputi ruang penurunan suku bunga akan berlanjut.Tren suku bunga rendah akan menurunkan biaya penerbitan surat utang korporasi.

Kedua, momentum prospek pemulihan ekonomi 2021. Nyoman memperkirakan, perusahaan akan membutuhkan dana untuk ekspansi bisnis yang tertunda pada 2020. Lalu perusahaan akan refinancing atas utang jatuh tempo dengan cara mengajukan pinjaman yang bunga lebih rendah.

Ketiga, stimulus dari bank sentral meningkatkan likuiditas di pasar keuangan. Penempatan dana bank di pasar obligasi diperkirakan meningkat. Keempat, tren pelemahan dolar AS di tengah kebijakan akomodatif AS. Nyoman menuturkan, aliran dana investor asing akan kembali ke pasar negara berkembang untuk mencari imbal hasil lebih tinggi.

Bicara soal obligasi korporasi, mungkin bagi Anda investor pemula akan bertanya-tanya. Apa obligasi korporasi? Apa bedanya dengan obligasi lainnya?

Dalam trivia saham kali ini menjelaskan sedikit mengenai obligasi korporasi dan istilah yang berkaitan dengan hal tersebut.

Apa Itu Obligasi Korporasi?

Pengunjung melintas dilayar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (30/12/2019). Pada penutupan IHSG 2019 ditutup melemah cukup signifikan 29,78 (0,47%) ke posisi 6.194.50. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pengunjung melintas dilayar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (30/12/2019). Pada penutupan IHSG 2019 ditutup melemah cukup signifikan 29,78 (0,47%) ke posisi 6.194.50. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Mengutip sikapiuangmu.ojk.go.id, Minggu (21/2/2021), obligasi korporasi adalah obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan swasta nasional, termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Obligasi merupakan surat utang jangka menengah-panjang yang dapat dipindah tangankan yang berisi janji dari pihak yang menerbitkan untuk membayar imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada waktu yang telah ditentukan kepada pihak pembeli obligasi tersebut.

Berikut istilah terkait obligasi:

1.Nilai nominal (face value) adalah nilai pokok dari suatu obligasi yang akan diterima oleh pemegang obligasi pada saat obligasi tersebut jatuh tempo.

2.Kupon (interest rate) adalah nilai bunga yang diterima pemegang obligasi secara berkala (kelaziman pembayaran kupon obligasi adalah setiap tiga dan enam bulanan).

3.Jatuh tempo (maturity) adalah tanggal di mana pemegang obligasi akan mendapatkan pembayaran kembali pokok atau nilai nominal obligasi yang dimilikinya. Periode jatuh tempo obligasi bervariasi mulai dari 365 hari sampai dengan di atas 5 tahun.

4.Obligasi yang akan jatuh tempo dalam waktu satu tahun akan lebih mudah diprediksi sehingga memiliki risiko lebih kecil dibandingkan dengan obligasi yang memiliki periode jatuh tempo dalam waktu lima tahun. Secara umum, semakin panjang jatuh tempo suatu obligasi, semakin tinggi kupon atau bunganya.

5. Penerbit (issuer). Mengetahui dan mengenal penerbit obligasi merupakan faktor sangat penting dalam melakukan investasi obligasi ritel karena dapat dipergunakan untuk mengukur risiko seperti ada kemungkinan dari penerbit obligasi tidak dapat melakukan pembayaran kupon dan atau pokok obligasi tepat waktu (disebut default risk).

Keuntungan Membeli Obligasi Korporasi

Pekerja tengah melintas di bawah papan pergerakan IHSG usai penutupan perdagangan pasar modal 2017 di BEI, Jakarta, Jumat (29/12). Perdagangan bursa saham 2017 ditutup pada level 6.355,65 poin. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pekerja tengah melintas di bawah papan pergerakan IHSG usai penutupan perdagangan pasar modal 2017 di BEI, Jakarta, Jumat (29/12). Perdagangan bursa saham 2017 ditutup pada level 6.355,65 poin. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

-Memberikan pendapatan tetap (fixed income) berupa kupon atau bunga

Kupon atau bunga dibayarkan secara regular sampai dengan jatuh tempo dan ditetapkan dalam persentasi dari nilai nominal. Tingkat bunga atau kupon obligasi biasanya lebih tinggi dari tingkat bunga yang ditawarkan deposito perbankan.

Hal ini merupakan ciri utama obligasi. Pemegang obligasi akan mendapatkan pendapatan bunga secara rutin selama waktu berlakunya obligasi. Bunga yang ditawarkan obligasi, umumnya lebih tinggi daripada bunga yang diberikan deposito atau Sertifikat Bank Indonesia.

-Keuntungan atas penjualan obligasi (capital gain)

Di samping penghasilan berupa kupon, pemegang obligasi dapat memperjualbelikan obligasi yang dimilikinya. Jika ia menjual lebih tinggi dibandingkan dengan harga belinya maka tentu saja pemegang obligasi tersebut mendapatkan selisih yang disebut dengan capital gain.

Capital gain juga diperoleh jika investor membeli obligasi dengan diskon, dengan nilai yang lebih rendah dari nilai nominalnya dan kemudian pada waktu jatuh tempo memperoleh pembayaran sesuai dengan harga nominal.

Risiko Membeli Obligasi Korporasi

Pekerja melintas di dekat layar digital pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG masih naik, namun tak lama kemudian, IHSG melemah 2,3 poin atau 0,05 persen ke level 5.130, 18. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pekerja melintas di dekat layar digital pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG masih naik, namun tak lama kemudian, IHSG melemah 2,3 poin atau 0,05 persen ke level 5.130, 18. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Risiko perusahan tidak mampu membayar kupon obligasi maupun risiko perusahaan tidak mampu mengembalikan pokok obligasi.

Ketidakmampuan perusahaan dalam membayar kewajiban dikenal dengan istilah default. Walaupun jarang terjadi, tetapi dapat saja suatu ketika penerbit obligasi tidak mampu membayar baik bunga maupun pokok obligasi.

Risiko Tingkat Suku Bunga (Interest Rate Risk)

Pergerakan harga obligasi sangat ditentukan pergerakan tingkat suku bunga. Pergerakan harga obligasi berbanding terbalik dengan tingkat suku bunga.

Artinya jika suku bunga naik maka harga obligasi akan turun. Sebaliknya, jika suku bunga turun maka harga obligasi akan naik.

Investor obligasi harus jeli memperkirakan tingkat suku bunga sedemikian rupa sehingga dapat memperkirakan apakah terus memegang suatu obligasi, membeli obligasi baru, atau menjual obligasi yang dimiliki saat ini.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini