Trivia Saham: Mengenal Price Book to Value, Rasio Keuangan Saat Pilih Saham

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Untuk investasi di saham juga memerlukan analisis fundamental. Sejumlah analisis tersebut memperhatikan analisis rasio keuangan.

Mengutip berbagai sumber, dengan menganalisis rasio keuangan ini dapat dilakukan untuk memilih saham dalam berinvestasi.

Selain itu, dengan mengetahui rasio keuangan sebagai cara untuk melihat harga saham itu wajar atau tidak, perusahaannya bertumbuh atau tidak, porsi utang dan imbal hasil yang diberikan dalam jangka panjang.

Adapun rasio keuangan yang dipakai untuk analisis antara lain ada price earning ratio (PER), price book to value (PBV), return on equity (ROE), dividen yield (DY), dan debt to equity ratio (DER).

Pada Sabtu, 20 Maret 2021, trivia saham sudah membahas mengenai PER. PER ini merupakan rasio antara harga saham dibandingkan dengan keuntungan perusahaan yang dapat didistribusikan untuk setiap saham yang dimiliki (eps).

EPS merupakan laba bersih dibagi jumlah lembar saham yang beredar. Semakin meningkat nilai eps dari tahun ke tahun, perusahaan tersebut semakin baik karena laba perusahaan meningkat dan perusahaan dinilai bertumbuh.

Mengenal PBV

Sebuah layar tentang tabel saham dipajang saat Festival Pasar Modal Syariah 2016, Jakarta, Kamis (31/3). Pertumbuhan pangsa pasar saham syariah lebih dominan dibandingkan dengan nonsyariah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Sebuah layar tentang tabel saham dipajang saat Festival Pasar Modal Syariah 2016, Jakarta, Kamis (31/3). Pertumbuhan pangsa pasar saham syariah lebih dominan dibandingkan dengan nonsyariah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Kali ini trivia saham membahas soal price book to value. Mengutip laman most.co.id, Minggu (21/3/2021), PBV ini rasio harga saham terhadap nilai buku perusahaan. PBV digunakan untuk melihat seberapa besar kelipatan dari nilai pasar saham perusahaan dengan nilai bukunya.

Contohnya PBV sebesar dua kali. Artinya harga saham sudah sebesar dua kali lipat dibandingkan kekayaan bersih suatu perusahaan. Hal ini berarti, harga saham tersebut dua kali lipat lebih mahal dari modal bersihnya.

PBV rendah sering dijadikan indikator mencari saham yang murah atau undervalued. Investor disarankan untuk mencari saham dengan PBV yang lebih rendah dari pada rata-rata PBV dalam industri sejenis.

Selanjutnya

Sebuah layar tentang tabel saham dipajang saat Festival Pasar Modal Syariah 2016, Jakarta, Kamis (31/3). Pertumbuhan pangsa pasar saham syariah lebih dominan dibandingkan dengan nonsyariah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Sebuah layar tentang tabel saham dipajang saat Festival Pasar Modal Syariah 2016, Jakarta, Kamis (31/3). Pertumbuhan pangsa pasar saham syariah lebih dominan dibandingkan dengan nonsyariah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara itu, dalam laman pribadinya dari pengamat pasar modal Teguh Hidayat menyebutkan, kalau PBV fokusnya pada nilai ekuitas perusahaan, berbeda dengan PER yang fokus pada laba bersih yang dihasilkan perusahaan.

Teguh menilai lebih suka PER ketimbang PBV. Berdasarkan pengalamannya, prediksi perubahan harga saham dengna menggunakan PER memang sedikit lebih akurat dibandingkan jika memakai PBV.

Ia menuturkan, nilai laba bersih lebih mencerminkan kinerja sesungguhnya dari sebuah perusahaan dibandingkan nilai ekuitas. Peningkatan ekuitas bisa saja diperoleh dari tambahan modal disetor, rights issue, dan apapun intinya bukan berasal dari kinerja perusahaan. Sedangkan laba bersih, hampir pasti merupakan hasil dari kinerja perusahaan.

Teguh mengatakan, hanay saja, laba bersih dari sebuah perusahaan bisa saja bukan berasal dari kinerjanya secara operasional, melainkan hasil dari pendapatan non operasional, penjualan aset, dan lain-lain sehingga bisa saja laba bersih itu tidak menunjukkan kinerja perusahaan yang sesungguhnya.

“Dan dalam hal ini PBV mungkin lebih akurat. Itu sebabnya untuk menjadi seorang analis dan penilai harga saham yang baik, Anda harus punya ketelitian yang luar biasa,” tulis dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini