Trivia Saham: Wall Street Sempat Kena Sentimen Margin Call, Apa Itu?

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menjelang akhir Maret 2021, saham perbankan di bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street rontok. Hal ini seiring ada laporan hedge fund atau dana lindung nilai terpaksa jual aset karena gagal bayar dalam margin call.

Hal itu membuat indeks saham utama di wall street bervariari pada Senin, 29 Maret 2021. Indeks saham S&P 500 turun 3,45 poin atau 0,09 persen ke posisi 3.971,09, indeks saham Nasdaq merosot 79,08 poin atau 0,60 persen menjadi 13.059. Sedangkan indeks saham Dow Jones naik 0,30 persen menjadi 33.171,37.

Mengutip Antara, indeks saham utama wall street yang beragam tersebut imbas saham perbankan yang turun karena peringatan potensi kerugian dari kegagalan dana lindung nilai atau hedge fund pada margin call.

Reaksi pasar muncul menyusul laporan kalau sebuah dana investasi besar dipaksa menjual aset-asetnya dan gagal bayar pada margin callnya. Hal ini memicu kekhawatiran tentang dampak efek melalui pasar yang lebih luas.

Nomura dan Credit Suisse menghadapi kerugian miliaran dolar usai dana lindung nilai AS yang diidentifikasi oleh sumber sebagai Archegos Capital, gagal dalam margin call, membuat investor gelisah tentang siapa lagi yang mungkin terimbas.

Kali ini trivia saham membahas mengenai margin call. Adapun margin call ini tidak lepas dari fasilitas margin trading. Margin trading merupakan fasilitas yang disediakan oleh perusahaan sekuritas bagi nasabahnya. Fasilitas ini ibarat pinjaman yang diberikan perusahaan sekuritas.

Akan tetapi, ada syarat bagi investor dan perusahaan sekuritas yang memakai fasilitas margin trading ini. Perusahaan sekuritas tersebut harus memiliki modal kerja bersih disesuaikan (MKBD) sesuai dengan ketentuan Bursa untuk melaksanakan margin trading.

Bursa Efek Indonesia (BEI) pun mengeluarkan daftar saham yang dapat digunakan untuk margin trading, jadi tidak sembarangan saham yang dipakai untuk transaksi margin.

Lalu Bagaimana dengan Margin Call?

Pejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG sore ini ditutup di zona hijau pada level 6.296 naik 21,62 poin atau 0,34 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG sore ini ditutup di zona hijau pada level 6.296 naik 21,62 poin atau 0,34 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Mengutip Investopedia, (Sabtu, 3/4/2021), margin call terjadi ketika nilai di akun margin investor berada di bawah jumlah yang diminta broker sesuai transaksi pinjaman antara investor dan broker. Akun margin investor ini berisi saham yang dibeli investor dengan dana pinjaman dan dana investor sendiri.

Margin call ini seiring permintaan broker untuk menambah dana dalam akun investor lantaran ekuitas investor di bawah nilai minimum.

Langkah tersebut dilakukan perusahaan sekuritas dengan menelpon atau mengirim email kepada investor untuk menambah dana sehingga nilai ekuitasnya tidak negatif. Jika tidak, perusahaan sekuritas dapat melepas saham investor di harga berapa pun.

"Kita transaksi pakai pinjaman. Beli saham ada peluang rugi, apalagi pakai margin bisa double ruginya karena ekuitas bisa turun. Dalam aturan transaksi ekuitas itu tidak boleh negatif. Ketika ekuitas kita turun, perusahaan sekuritas akan call kita untuk menambah dana sehingga posisi tidak dilikuidasi. Jika tidak tambah dana, dijual paksa apapun kondisi pasar," ujar Direktur PT Anugerah Mega Investama, Hans Kwee saat dihubungi Liputan6.com, Sabtu, 3 April 2021.

Hans menambahkan, jika dahulu perusahaan sekuritas menelpon nasabahnya sehingga disebut margin call. Seiring perkembangan zaman, menurut Hans, tidak hanya lewat telepon tetapi juga email kepada nasabah untuk menambah dananya.

"Jadi margin call ini panggilan dari perusahaan sekuritas untuk (nasabah/investor-red) menambah posisi sehingga tidak alami forced sell,” kata dia.

Hans menuturkan, penggunaan margin trading memang ada sisi positif dan negatif. Dengan memakai margin trading, seorang nasabah dapat membeli saham yang lebih banyak. Akan tetapi, sisi negatif, Hans menuturkan, kerugian juga bisa besar jika memakai margin trading.

Oleh karena itu, ia mengingatkan agar investor terutama investor pemula termasuk ritel tidak memakai margin trading.

"Investor jangan memakai margin. Apalagi investor pemula atau ritel yang belum banyak memiliki pengalaman sebaiknya hindari margin trading,” kata dia.

Hans menuturkan, untuk investasi di saham sebaiknya memakai dana dingin terutama dana yang ada. Jadi sebaiknya tidak memakai dana pinjaman karena ada risiko investasi.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini