Trump ampuni dua orang terkait penyelidikan Rusia, dan beberapa lainnya

·Bacaan 2 menit

Washington (AFP) - Presiden AS Donald Trump pada Selasa memberikan pengampunan (grasi) kepada dua orang yang terkait dengan penyelidikan dugaan kolusi antara tim kampanyenya dan Rusia bersama dengan sejumlah orang lainnya seiring dengan tinggal berkurangnya waktu pada pekan-pekan terakhir pemerintahannya.

Langkah itu pasti bakal menimbulkan kontroversi lebih lanjut dan terjadi pada saat presiden dari Partai Republik yang akan segera lengser itu terus menolak mengakui kalah dari Demokrat Joe Biden dalam pemilu November.

Mereka menambah pengampunan yang sudah diberikan kepada sekutu-sekutu politik Trump yang akan meninggalkan jabatannya 20 Januari.

Gedung Putih mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa Trump telah memberikan grasi kepada 15 orang dan pengurangan untuk semua atau sebagian dari hukuman lima orang lainnya.

Pengampunan penuh diberikan kepada George Papadopoulos, mantan penasihat kampanye Trump yang mengaku berbohong kepada penyelidik federal mengenai hubungannya dengan Rusia.

Papadopoulos adalah anggota panel penasihat kebijakan luar negeri Trump saat dia mencalonkan diri sebagai presiden pada 2016.

Dia mengaku bersalah pada Oktober 2017 karena berbohong kepada FBI mengenai kontak dengan seorang profesor yang berjanji akan menghubungkan dia dengan pejabat-pejabat teras Rusia.

Dia kooperatif dengan tim penyidik pimpinan Robert Mueller, jaksa penuntut khusus yang selama dua tahun melakukan penyelidikan atas dugaan kolusi antara tim kampanye Trump dan Rusia.

Papadopoulos menghabiskan 12 hari di penjara setelah pengakuan bersalahnya.

"Pengampunan hari ini turut mengoreksi kesalahan yang ditimbulkan tim Mueller terhadap begitu banyak orang," kata pernyataan Gedung Putih.

Grasi lainnya diberikan kepada Alex van der Zwaan, seorang pengacara Belanda yang juga divonis bersalah berkaitan dengan penyelidikan Mueller.

Grasi juga diberikan kepada empat penjaga keamanan Blackwater yang dinyatakan terbukti bersalah atas pembunuhan warga Irak pada 2007.

Empat penjaga perusahaan keamanan Blackwater yang divonis bersalah atas penembakan 2007 itu termasuk Nicholas Slatten yang dijatuhi hukuman seumur hidup.

Mereka divonis bersalah karena melepaskan tembakan di Lapangan Nisur yang padat penduduk di Baghdad pada 16 September 2007 dalam sebuah episode berdarah yang menyebabkan skandal internasional dan meningkatkan kebencian terhadap kehadiran Amerika.

Penembakan itu menyebabkan sedikitnya 14 warga sipil Irak tewas dan 17 luka-luka saat mengabadikan gambar kontraktor-kontraktor keamanan AS yang menyerang membabi buta.

Para penjaga Blackwater mengatakan mereka bertindak atas alasan membela diri saat merespons tembakan pemberontak.

Pernyataan Gedung Putih menyebutkan keempat orang itu yang semuanya mantan anggota militer, "memiliki riwayat panjang mengabdi kepada bangsa."

Lainnya yang termasuk dalam daftar itu adalah tiga mantan anggota Kongres dari Partai Republik.


mjs/jh