Trump berisiko mendapat serangan balik dari perang istilah dengan China

WASHINGTON (Reuters) - Presiden AS Donald Trump dan beberapa staf terkemukanya telah berulang kali mengecam China atas penanganan pandemi corona, sikap yang bahkan beberapa orang di pemerintahannya khawatir dapat membawa serangan berbahaya dari Beijing.

Sementara Trump sendiri melunakkan nadanya setelah selama seminggu menyalahkan apa yang ia sebut sebagai "virus China" untuk korban manusia dan ekonomi dari penyakit itu, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo pada Rabu menggunakan istilah keras pada China, menuduh mereka melakukan "kampanye disinformasi yang disengaja."

Meningkatnya ketegangan dalam hubungan AS-China telah menimbulkan kekhawatiran pada saat para ahli mengatakan tingkat kerja sama yang belum pernah terjadi sebelumnya diperlukan untuk menghadapi krisis dan mengatasi dampaknya.

"AS dan China sekarang terlibat dalam kontes demonisasi," kata Daniel Russel, yang menjabat sebagai penasihat utama Departemen Luar Negeri AS hingga awal masa jabatan Trump.

"Itu pasti menghambat kerja sama yang sangat dibutuhkan."

Hal yang juga menjadi taruhan adalah kesepakatan perdagangan Trump yang disepakati dengan susah payah antara dua ekonomi terbesar di dunia itu, yang menjadi kunci utama kampanye pemilihan ulangnya pada tahun 2020.

Sementara Washington dan Beijing sejauh ini sebagian besar telah melancarkan perang kata-kata yang meningkat, pemerintahan Trump telah meningkatkan prospek untuk mengubah retorika menjadi tindakan, yang makin dapat meningkatkan ketegangan.

Penasihat perdagangan Gedung Putih Peter Navarro, pejabat garis keras terkemuka pada China, sedang menyusun perintah eksekutif baru "Buy America" yang bertujuan mengurangi ketergantungan AS terhadap obat-obatan buatan China dan pasokan medis lainnya.

China, yang juga mengimbangi kecurigaan AS terkait virus itu, telah memperingatkan bahwa tindakan seperti itu akan tidak bijaksana dan tidak realistis.

Sebuah artikel yang diterbitkan oleh kantor berita resmi China Xinhua mengatakan dunia harus berterima kasih kepada China, dan bukannya menyalahkannya, dan memperingatkan jika Beijing melarang ekspor obat-obatan, "Amerika Serikat akan tenggelam ke dalam neraka epidemi corona."

Menteri Keuangan Steven Mnuchin memimpin sebuah faksi di dalam pemerintahan yang menentang inisiatif Navarro, kata seorang pejabat senior AS yang tidak ingin disebutkan namanya.

Perbedaan pendapat internal didasarkan pada kekhawatiran bahwa sekarang bukan saatnya untuk memusuhi China ketika bantuannya diperlukan untuk memerangi pandemi dan menjaga ekonomi global tetap bertahan.

Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar.


KETEGANGAN AS-CHINA BAYANGI G20

Gesekan antara Amerika Serikat dan China diperkirakan akan menggerogoti konferensi video Kelompok 20 ekonomi utama pada Kamis untuk membahas pandemi itu, yang telah mengubah hidup dan menyebabkan goncangan ekonomi di seluruh dunia.

Trump telah berubah pikiran berulang kali dalam sejumlah pernyataanya terkait bagaimana ia mengidentifikasi peran China.

Setelah awalnya memuji China karena "melakukan pekerjaan yang sangat profesional" melawan virus, Trump mengetengahkan retorikanya minggu lalu, dengan mengatakan "dunia membayar harga yang sangat besar untuk apa yang mereka lakukan" dan menuduh Beijing menutupi tahap awal wabah di Provinsi Wuhan.

Namun bahasa Trump melunak lagi minggu ini ketika ia menawarkan pujian lebih lanjut untuk Presiden China Xi Jinping, dan menyebutnya sebagai "teman."

Pompeo, sementara itu, telah menjadi wajah publik kubu anti-China. Dia menyebut penyakit itu "virus Wuhan" pada Rabu, menggunakan istilah yang membuat marah China, dan mengatakan Beijing perlu lebih transparan.

Di Beijing, juru bicara kementerian luar negeri Geng Shuang mengatakan China telah berbagi informasi dan mendesak Washington untuk "berhenti mempolitisasi epidemi itu."

Terlepas dari nada Pompeo yang keras, pejabat AS lainnya mengatakan bahwa kecuali Trump atau para stafnya membidik langsung ke Xi, sesuatu yang belum mereka lakukan, hubungan masih bisa diselamatkan.

Trump pekan ini secara teratur menggembar-gemborkan kesepakatan dagangnya dengan China, menunjukkan bahwa Beijing bergerak maju dengan pembelian produk pertanian yang dijanjikannya yang dianggap penting bagi prospek pemilihannya kembali pada 2020 di negara-negara bagian pertanian.

China memiliki pengungkit sendiri jika memilih untuk membalas, tidak hanya pada implementasi kesepakatan perdagangan yang berjalan lambat tetapi dengan menggunakan posisinya sebagai pemasok utama barang-barang medis ke Amerika Serikat.

Senator Republik Marco Rubio mengatakan dalam sebuah op-ed bulan lalu bahwa pada tahun 2018, AS mengimpor lebih dari $ 12,7 miliar obat-obatan dan antibiotik, peralatan medis, dan produk makanan dari China, belum termasuk bahan kimia organik yang digunakan untuk membuat produk farmasi.

Navarro pekan lalu mengatakan dia berharap untuk menyelesaikan pekerjaannya atas perintah eksekutif itu, tetapi belum maju di tengah kesibukan peringatan dari para pakar kesehatan AS yang takut China bisa merespons dengan memperlambat pengiriman peralatan medis. Pejabat senior AS mengatakan bahwa dekrit itu "masih dalam proses."

"Dalam masa normal, saya akan setuju bahwa penting bagi Amerika Serikat untuk memiliki kapasitas sendiri untuk memproduksi ventilator, masker dan peralatan medis lainnya," kata Matthew Goodman, seorang rekan senior di Pusat Studi Strategis dan Internasional.

"Tapi ini bukan saatnya untuk mempertimbangkan kebijakan seperti ini."