Trump desak warga Afghanistan 'rebut peluang perdamaian'

Washington (AFP) - Presiden Donald Trump pada Jumat mendesak rakyat Afghanistan untuk merangkul kesempatan untuk masa depan baru, sehari sebelum penandatanganan perjanjian damai bersejarah antara Amerika Serikat dan Taliban di Doha.

Bersama gencatan senjata satu pekan yang ditetapkan sebagai syarat bagi pakta yang terpancang kokoh, Trump mengatakan bahwa kini ada kemungkinan mengakhiri perang hampir dua dekade di Afghanistan.

Dia mengumumkan bahwa dia sudah mengirim Menteri Luar Negeri Mike Pompeo guna menyaksikan penandatanganan perjanjian itu, dan bahwa Menteri Pertahanan Mark Esper secara terpisah akan mengeluarkan deklarasi bersama dengan pemerintah Kabul.

Komitmen yang dibuat dalam perjanjian dengan Taliban itu dan deklarasi bersama adalah "langkah penting menuju perdamaian abadi" yang bisa membebaskan warga Afghanistan dari ancaman Al Qaeda dan ISIS, kata Trump dalam satu pernyataan.

"Jika Taliban dan pemerintah Afghanistan memenuhi komitmen ini, kita akan memiliki jalan yang kuat untuk mengakhiri perang di Afghanistan dan memulangkan pasukan kita," kata dia.

Namun demikian, dia menambahkan, "Pada akhirnya tergantung kepada rakyat Afghanistan untuk menentukan masa depan mereka."

"Oleh karena itu, kami mendesak rakyat Afghanistan untuk mengambil kesempatan ini demi perdamaian dan masa depan baru negara mereka."

Kesepakatan yang akan ditandatangani Sabtu ini akan membuat ribuan tentara Amerika keluar dari Afghanistan setelah lebih dari 18 tahun di sana, sebagai imbalan atas berbagai komitmen keamanan dari Taliban dan janji berbicara dengan pemerintah Kabul.

Di Jalalabad, orang menari dan melepaskan balon serta merpati demi merayakan turun tajamnya kekerasan.

Sebelumnya pekan itu Jenderal Austin Scott Miller, komandan pasukan AS dan NATO di Afghanistan, dan penjabat Menteri Pertahanan Afghanistan Asadullah Khalid menyusuri jalan-jalan di Kabul dan berswafoto dengan warga dalam sebuah unjuk percaya mereka kepada gencatan senjata tersebut.

Lebih dari 100.000 warga Afghanistan, Amerika, dan lainnya tewas dalam konflik itu, yang dimulai setelah Al-Qaeda, yang beroperasi di bawah perlindungan pemerintah Taliban saat itu, merencanakan serangan 11 September 2001 di New York dan Washington dari Afghanistan.

Konflik ini telah menelan dana lebih dari 1 triliun dolar dari pemerintah AS dalam bentuk ongkos militer dan pembangunan kembali sejak invasi pimpinan AS pada 2001.

Kesepakatan Doha muncul setelah lebih dari setahun perundingan antara Taliban dan AS yang goyah berulang kali saat kekerasan berkobar.

Gencatan senjata selama seminggu ditetapkan sebagai syarat untuk pakta perdamaian yang diadakan pada hari ketujuh Jumat di Afghanistan, di mana hanya ada serangan kecil yang terjadi.

Sementara isi kesepakatan belum diumumkan secara terbuka, diharapkan akan membuat Pentagon mulai menarik pasukannya dari Afghanistan dari 12.000-13.000 personel yang saat ini berbasis.

AS mengatakan penarikan awal selama beberapa bulan mendatang akan menjadi sekitar 8.600 - mirip dengan tingkat pasukan yang diinginkan Presiden Donald Trump setelah memenangkan pemilu 2016.

"Ketika saya mencalonkan diri menjadi presiden, saya berjanji kepada rakyat Amerika bahwa saya akan membulangkan pasukan kita, dan berusaha mengakhiri perang ini," kata pemimpin AS itu, Jumat.

"Kami membuat kemajuan besar dalam janji itu."

Pengurangan lebih lanjut tergantung kepada seberapa baik Taliban menghormati janji memulai pembicaraan dengan pemerintah Presiden Ashraf Ghani - yang sampai sekarang mereka anggap sebagai boneka dukungan AS - dan dalam mencapai gencatan senjata serta perdamaian "intra-Afghanistan" yang menyeluruh.

Para pejabat Afghanistan akan secara mencolok absen dari upacara penandatanganan itu pada Sabtu di Doha, namun sebuah delegasi pemerintah akan berada di sana guna melakukan "kontak awal" dengan para pemberontak.

Belum lama Jumat kemarin, Pompeo memperingatkan dalam sidang di Kongres bahwa Iran, yang secara historis musuh Taliban, bisa berupaya merusak perjanjian itu, sekalipun dia tidak memberikan bukti mengenai upaya semacam itu.

"Kami sudah menyaksikan enam hari terakhir ini pengurangan signifikan dalam kekerasan di Afghanistan dan kami mengamati dengan saksama guna melihat apakah Republik Islam Iran mulai mengambil langkah-langkah yang lebih aktif yang merusak upaya-upaya kami untuk perdamaian dan rekonsiliasi," kata dia.

pmh/acb