Trump menentang kekalahan pemilu, Biden mengabaikannya

·Bacaan 3 menit

Washington (AFP) - Seminggu setelah kalah dalam pemilihan AS, Presiden Donald Trump tetap tutup mulut di Gedung Putih pada Selasa, mendorong realitas alternatif yang akan dia menangkan, sementara Demokrat Joe Biden mengabaikannya dan bertindak seperti pemimpin dalam penantian, dengan menerima serangkaian panggilan telpon dari pemimpin negara-negara asing.

Biden semakin bergerak menuju momen dalam 71 hari ketika dia akan mengambil sumpah jabatan.

Dalam pembicaraan terbarunya dengan para pemimpin internasional, dia berbicara pada Selasa dengan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan Perdana Menteri Irlandia, Micheal Martin, dan akan berbicara dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Tetapi proses formal transisi Biden dihadang oleh Trump ketika dia mencoba untuk membatalkan hasil pemilu melalui pengadilan atas dasar tuduhan penipuan yang sejauh ini tipis.

"KITA AKAN MENANG!" Presiden Republik itu mentweet Selasa pagi. "PERHATIKAN PENYALAHGUNAAN PENGHITUNGAN SURAT SUARA SECARA BESAR-BESARAN."

Upaya Trump untuk mempertahankan kekuasaan telah menjadi sangat berat bagi orang yang sering menyebut saingannya di depan umum sebagai "pecundang."

Mempertegas suasana keras kepala, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengatakan dalam konferensi pers yang sulit dipahami bahwa dia sedang mempersiapkan "transisi yang mulus ke pemerintahan Trump yang kedua."

Sejak Hari Pemilu pada 3 November, Trump hanya tampil sedikit di depan umum dan tampaknya telah mengesampingkan tugas kepresidenan normal.

Satu-satunya kegiatannya yang diketahui di luar Gedung Putih adalah bermain golf dua kali selama akhir pekan, setelah hasil pemilu masuk.

Pengarahan intelijen rahasia presiden yang biasanya rutin dilakukan telah keluar dari jadwal harian. Dia tidak menyebutkan peningkatan dramatis dalam pandemi Covid-19 di seluruh negeri.

Dan konferensi persnya yang hampir setiap hari, wawancara dengan Fox News atau sesi tanya jawab dengan jurnalis Gedung Putih telah hilang.

Sebagai gantinya, Trump menghabiskan banyak waktunya untuk tweet, kebanyakan tentang apa yang dia klaim sebagai pemilu yang dicuri.

Satu-satunya tindakan presiden penting Trump adalah pemecatan mendadak Menteri Pertahanan Mark Esper pada Senin, yang ia umumkan di Twitter.

Tepat empat tahun lalu pada Selasa, Trump baru saja mencetak kemenangan mengejutkan melawan Hillary Clinton dan mengunjungi Gedung Putih untuk pertama kalinya sebagai tamu Barack Obama.

Kesopanan kepada presiden terpilih adalah tradisi lama, yang menyoroti penghormatan yang hampir sakral dari negara itu untuk transfer kekuasaan secara damai.

Trump tidak hanya gagal mengundang Biden untuk mengobrol di Oval Office, dia memblokir Demokrat dari akses ke fasilitas, pendanaan dan keahlian yang biasanya datang dalam paket siap pakai untuk membantu pemimpin yang akan datang.

Pelaksanaan bantuan transisi ini dikendalikan oleh kepala Administrasi Layanan Umum Emily Murphy, yang ditunjuk oleh Trump.

Biden, yang menang dengan rekor jumlah suara tetapi mengakui bahwa hampir setengah pemilih mendukung Trump, tampaknya memilih untuk mengabaikan kekacauan tersebut.

Jarang menyebut Trump, Biden telah membentuk satuan tugas virus corona dan pada Selasa menyampaikan pidato kebijakan terbarunya - kali ini tentang nasib rencana perawatan kesehatan Obamacare yang Trump ingin agar Mahkamah Agung membubarkannya.

Pemimpin besar asing terbaru yang menyampaikan ucapan selamat, mengabaikan klaim Trump bahwa dia menang Selasa lalu, adalah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, yang merujuk pada "keberhasilan pemilihan umum" Biden.

Washington dipenuhi dengan spekulasi tentang siapa, jika ada, di lingkaran dalam Trump yang akhirnya akan membujuknya untuk pergi.

Mantan Presiden George W. Bush, satu-satunya mantan presiden Republik yang masih hidup, memberi selamat kepada Biden atas kemenangannya, tetapi dia adalah orang asing dalam partai yang didominasi oleh Trump yang masih sangat populer.

Pada Senin, pemimpin Partai Republik di Kongres, Senator Mitch McConnell, mengatakan Trump "100 persen dalam haknya" untuk menentang pemilu di pengadilan.

Tak satu pun dari tuntutan hukum tersebut tampaknya berpotensi mengubah hasil pemungutan suara dan bahkan rencana penghitungan ulang kemenangan tipis Biden di Georgia, atau di mana pun, tampaknya tidak akan mengubah perhitungan fundamental.

Tetapi Trump menambahkan senjata baru yang potensial untuk "perang salibnya" melawan hasil pemilu pada Senin ketika jaksa agung, Bill Barr, setuju untuk mengizinkan penyelidikan atas "tuduhan spesifik" penipuan.

Barr menambahkan peringatan bahwa "klaim yang spekulatif, khayalan, atau dibuat-buat tidak boleh menjadi dasar untuk memulai penyelidikan federal."

Namun, intervensi Barr yang tidak biasa dalam perselisihan tersebut memicu kekhawatiran bahwa Trump akan melangkah lebih jauh dalam usahanya. Jaksa penuntut kejahatan pemilu Departemen Kehakiman, Richard Pilger, mengundurkan diri sebagai protes.

Pelantikan Biden dijadwalkan pada 20 Januari.

sms/dw