Trump menentang reformasi besar-besaran kepolisian

Oleh Steve Holland

DALLAS (Reuters) - Presiden Donald Trump pada Kamis mengumumkan rencana sederhana untuk perintah eksekutif tentang penertiban atau kepolisian, selain menegaskan bahwa dia tidak akan mendukung proposal luas dalam menanggapi unjuk rasa terhadap kebrutalan polisi yang dipicu oleh pembunuhan George Floyd.

Berbicara pada sebuah acara bergaya kampanye di sebuah gereja di Dallas, Trump mengatakan perintah itu memerintahkan departemen kepolisian agar mengadopsi standar nasional dalam penggunaan kekuatan.

Pemerintahannya juga akan mendukung pelatihan yang lebih baik untuk polisi dan program percontohan bagi pekerja sosial guna bekerja bersama dengan petugas penegak hukum, kata dia.

Tetapi dia mencemooh gerakan "menghentikan anggaran untuk polisi" yang menganjurkan pengurangan anggaran kepada departemen kepolisian dan menyalurkan anggaran itu untuk program-program pendidikan, kesejahteraan sosial, perumahan dan kebutuhan masyarakat lainnya.

Trump berulang kali menyatakan dukungannya kepada polisi dan menyatakan kemajuan tak akan tercapai hanya dengan menyebut jutaan warga Amerika sebagai rasis.

"Dalam beberapa hari terakhir, telah ada diskusi yang giat tentang bagaimana memastikan keadilan, kesetaraan, dan keadilan untuk semua orang kita," kata Trump.

"Sayangnya, ada beberapa yang berusaha memicu perpecahan dan mendorong agenda ekstrem -yang tidak akan kita jalankan- yang hanya akan menciptakan kemiskinan yang lebih besar lagi, penderitaan yang lebih banya lagi. Ini termasuk upaya radikal dalam melakukan defund (menghentikan penganggaran), melucuti dan membubarkan polisi," tambah dia.

Komentar Trump adalah proposal kebijakan penawaran pertamanya mengenai kepolisian dan ras menyusul kematian Floyd, warga Afrika-Amerika, pada 25 Mei, setelah seorang polisi Minneapolis menekankan lututnya ke leher pria malang itu selama hampir sembilan menit. Kematiannya memicu gelombang protes di kota-kota AS dan luar negeri sehingga memberi kembali energi gerakan keadilan rasial Black Lives Matter.

Trump dikritik keras karena menyerukan para gubernur negara bagian untuk menindak para pengunjuk rasa dan mengancam akan menggelarkan militer AS.

Dia mengatakan pada Kamis bahwa polisi harus bisa menggunakan kekerasan tetapi kekerasan itu harus "diterapkan dengan belas kasih."

Petugas polisi masih harus "mendominasi jalan-jalan," tambah dia, merujuk unjuk rasa baru-baru ini yang beberapa di antaranya termasuk insiden kekerasan.

Trump berusaha mengalihkan fokus di luar kepolisian dengan mengatakan pemerintahannya ingin mendorong pembangunan ekonomi dalam komunitas-komunitas minoritas, mengatasi kesenjangan layanan kesehatan secara rasial dan menyediakan pilihan sekolah yang lebih banyak lagi.


LANGKAH KONGRES

Proposal kebijakan pemerintah sejauh ini masih jauh dari yang dianut oleh kubu Demokrat di Kongres yang berusaha memajukan undang-undang reformasi yang bisa disepakati lewati voting sebelum 4 Juli di Dewan Perwakilan Rakyat.

Partai Republik, yang mengendalikan Senat, sedang mengerjakan proposal terpisah, meskipun menunda pengungkapannya.

Kepala Staf Gedung Putih Mark Meadows bertemu dengan para anggota parlemen dari Partai Republik di Capitol Hill awal pekan ini dan mengatakan Trump ingin merombak undang-undang kepolisian lebih cepat lebih baik. Dia tidak mengidentifikasi proposal kebijakan khusus tetapi mengatakan Trump bersedia bekerja sama dengan parlemen dalam masalah ini.

Beberapa politisi Republiken di Kongres sudah mengisyaratkan dukungan kepada langkah-langkah tertentu yang diusulkan kubu Demokrat, termasuk larangan penggunaan pemitingan dan menghilangkan pertahanan diri secara lega sebagai "kekebalan yang dibolehkan " yang membuat petugas terhindari dari tuntutan hukum hak-hak sipil.

Tetapi belum jelas benar apakah kubu Demokrat dan kubu Republik akan dapat mengatasi perbedaan partisan demi meloloskan undang-undang yang bersedia ditandatangani oleh Trump.

(Laporan Steve Holland; Laporan tambahan oleh Daphen Psaledakis; Ditulis oleh Mohammad Zargham dan Lawrence Hurley; Disunting oleh Chris Reese dan Peter Cooney)