Trump pecat Menhan Esper

·Bacaan 4 menit

Washington (AFP) - Presiden AS Donald Trump pada Senin memecat Menteri Pertahanan Mark Esper, sebuah langkah yang semakin meresahkan pemerintahan yang menghadapi ketidakpastian atas penolakan Trump untuk mengakui kekalahannya dari Demokrat Joe Biden.

Langkah itu dilakukan dengan hanya 10 minggu tersisa dalam masa jabatan Trump di Gedung Putih, mengakhiri hubungan empat tahun yang penuh badai dengan Pentagon yang telah membuatnya memiliki empat kepala pertahanan, sebagian karena mereka tidak sesuai dengan tujuan politiknya.

Seperti pendahulunya, Esper berusaha tetap berada di bawah radar politik untuk menghindari kemarahan Trump.

Tetapi mereka akhirnya berselisih karena tekanan Gedung Putih untuk mengerahkan pasukan federal guna meredam kerusuhan sipil, dan keinginan Trump untuk penarikan cepat pasukan AS dari Afghanistan sebelum departemen pertahanan merasa aman.

"Mark Esper telah diberhentikan," kata Trump tiba-tiba di Twitter.

"Saya ingin berterima kasih atas jasanya."

Meski tidak terkejut, Demokrat mengecam Trump karena telah membuat proses transisi antar pemerintahan tidak stabil.

Tokoh Demokrat terkemuka Nancy Pelosi menyebut pemecatan Esper sebagai "bukti yang mengganggu bahwa Presiden Trump bermaksud menggunakan hari-hari terakhirnya menjabat untuk menabur kekacauan dalam Demokrasi Amerika kita dan di seluruh dunia."

"Berulang kali, kecerobohan Trump membahayakan keamanan nasional kita," tambah Ketua Dewan Perwakilan Rakyat itu dalam sebuah pernyataan.

Trump menunjuk Christopher Miller, kepala Pusat Penanggulangan Terorisme Nasional, sebagai penjabat menteri pertahanan.

Miller adalah pensiunan veteran tentara 31 tahun yang ditempatkan di Afghanistan pada 2001 dan Irak pada 2003 bersama pasukan khusus. Ia pernah menjabat sebagai penasihat Gedung Putih Trump untuk kontraterorisme, dan dari Januari hingga Agustus 2020 menjadi wakil asisten menteri pertahanan untuk operasi khusus.

Esper, 56, dipecat setelah menghabiskan 16 bulan masa jabatannya mencoba untuk tetap tidak ikut campur secara politik saat dia mengupayakan reformasi mendasar pada birokrasi besar-besaran Pentagon dan berusaha untuk membentuk kembali postur pertahanan AS untuk fokus pada China.

Ia dalah teman sekelas Menteri Luar Negeri Mike Pompeo di West Point dan bekerja bertahun-tahun di birokrasi Pentagon dan industri pertahanan.

Dia menjadi menteri pertahanan pada Juli 2019, setelah tujuh bulan dan dua pengganti sementara pasca Trump memecat Jim Mattis, yang juga mengalami hubungan yang buruk dengan Gedung Putih.

Esper mengakomodasi beberapa keinginan Trump saat dia menyelesaikan tinjauan strategis atas kehadiran AS di seluruh dunia, mencoba memodernisasi program senjata, menangani wabah COVID-19, dan menghadapi rasisme di militer.

Ketika Kongres tidak mau mendanai tembok perbatasan Meksiko, Esper memindahkan miliaran dolar pendanaan dari program senjata dan pemeliharaan pangkalan untuk pembangunan tembok untuk menenangkan Trump.

Dia juga secara tajam memotong jumlah pasukan AS di Suriah ketika Trump berusaha memenuhi janji pemilu 2016 untuk membawa kembali pasukan dari luar negeri.

Dan setelah kesepakatan damai AS-Taliban pada 29 Februari, dia memangkas jumlah pasukan AS di Afghanistan dari lebih dari 13.000 pada saat itu menjadi sekitar 4.500 bulan ini.

Tetapi bahkan ketika dia menghindari kontroversi, dia tidak bisa menghindar dari perselisihan dengan panglima tertinggi.

Setelah protes anti-rasisme yang terkadang disertai kekerasan menyebar ke seluruh negeri setelah polisi membunuh George Floyd di Minneapolis pada Mei, Trump meminta dukungan dari Pentagon untuk mengerahkan pasukan reguler.

Dalam sebuah acara yang disiarkan televisi, Trump menarik Esper dan Kepala Staf Gabungan Jenderal Mark Milley ke pihaknya tanpa mereka sadari, ketika dia menggunakan penjaga untuk secara paksa membersihkan pengunjuk rasa damai dari sebuah taman dekat Gedung Putih untuk kesempatan berfoto.

Di bawah kritik keras, beberapa hari kemudian Esper dan Milley membantah, mengatakan pasukan aktif tidak boleh digunakan untuk politik dalam negeri. Milley mengatakan kehadiran mereka di Gedung Putih adalah suatu hal yang salah.

Trump dilaporkan sangat marah, dan kemudian secara terbuka merendahkan kepala Pentagon sebagai "Yesper" atau orang yang haus perhatian.

Ketegangan lebih besar terjadi pada bulan Juni ketika Trump mengumumkan, dilaporkan tanpa memberi tahu Esper, bahwa dia akan mengurangi separuh jumlah pasukan AS di Jerman.

Dan kemudian Esper mempertahankan keputusannya untuk melawan penarikan sepihak hampir menyeluruh di Afghanistan.

Bahkan ketika pemerintah Kabul dan pemberontak Taliban berjuang untuk membuat kemajuan dalam pembicaraan damai mereka, penasihat Keamanan Nasional Trump Robert O'Brien mengatakan pada pertengahan Oktober bahwa jumlah pasukan AS akan turun menjadi sekitar 2.500 pada Februari.

Trump menambahkan bahwa dia ingin pasukan pulang "sebelum Natal" atau 25 Desember.

Tetapi Esper bertahan dengan jumlah sedikitnya 4.500 tentara dari akhir November, sampai Taliban menindaklanjuti janji pengurangan kekerasan.

Tidak seperti Pompeo, Esper menahan diri dari mempromosikan bosnya selama kampanye.

Dalam sebuah wawancara minggu lalu dengan Military Times yang dilakukan untuk pemecatannya, dia mengakui "ketegangan sesekali" terjadi dengan Gedung Putih.

Namun dia mengatakan dia telah membela Pentagon sebagai sebuah institusi sambil "menjaga integritas saya dalam proses tersebut."