Trump sewot setelah Biden di ambang menjadi presiden AS

·Bacaan 4 menit

Washington (AFP) - Presiden Donald Trump sewot dengan mengeluarkan semburan klaim tidak berdasar bahwa dia telah dicurangi demi memenangkan pemilu AS ketika penghitungan suara di seluruh negara bagian menunjukkan calon dari Demokrat Joe Biden terus mendekati kemenangan.

"Mereka berusaha merampok pemilu," kata Trump dalam pernyataan luar biasa di Gedung Putih dua hari setelah pemungutan suara ditutup.

Tanpa memberikan bukti dan tidak memberi kesempatan mengajukan pertanyaan setelah itu kepada wartawan di ruangan tersebut, Trump menggunakan pernyataan hampir 17 menit untuk membuat semacam pernyataan menghasut mengenai proses demokrasi di negara itu yang belum pernah terdengar dari seorang presiden AS mana pun sebelum ini.

Menurut Trump, Demokrat menggunakan "suara ilegal" untuk "merampok pemilu dari kami."

"Kalau Anda mengandalkan suara sah, saya menang menang," kata dia. "Mereka berusaha mencurangi pemilu. Dan kita tak boleh membiarkan hal itu terjadi."

Di luar retorika itu, keluhan Trump secara khusus menyasar integritas sejumlah besar surat suara via pos daripada suara yang diberikan langsung saat Hari Pemilu.

Pergeseran besar ke surat suara pos tahun ini mencerminkan keinginan pemilih guna menghindari risiko terpapar Covid-19 di TPS-TPS yang ramai selama pandemi yang telah merenggut lebih dari 230.000 nyawa warga Amerika.

Namun demikian, karena Trump sering menyangkal keseriusan virus corona dan mengatakan kepada para pendukungnya agar tidak mendukung surat suara via pos, jauh lebih sedikit Partai Republik yang memanfaatkan opsi pemungutan suara lewat pos, dibandingkan dengan Demokrat.

Beberapa jaringan televisi utama AS mengurangi liputan langsung acara Trump segera setelah itu dimulai, dengan MSNBC mengutip kebutuhan untuk memperbaiki klaim-klaim palsu dari sang presiden.

Rangkaian kalimat kasar Trump muncul ketika kembali dari negara bagian-negara bagian yang masih belum mengumumkan hasil pemilu di seluruh negeri yang menunjukkan Biden cenderung menuju kemenangan.

Biden (77) cuma tinggal satu atau paling banyak dua negara bagian medan pertempuran suara agar bisa mengamankan mayoritas suara elektoral demi merebut Gedung Putih. Trump (74) membutuhkan gabungan kemenangan yang semakin tidak mungkin di banyak negara bagian agar bisa tetap berkuasa.

Dalam komentarnya kepada wartawan di kampung halamannya di Wilmington, Delaware, Biden mengatakan "kami terus merasa sangat baik."

"Kami yakin, setelah penghitungan selesai, saya dan Senator (Kamala) Harris akan dinyatakan sebagai pemenang," kata dia.

Trump yang mengejutkan dunia pada 2016 ketika dia memenangkan kursi kepresidenan dalam pencalonannya yang pertama untuk jabatan publik, melancarkan kecaman lewat serangkaian pernyataan tertulis sebelum tampil di Gedung Putih yang pertama di depan umum sejak malam pemilu Selasa.

Biden yang telah berjanji menyembuhkan negara yang dirusak selama empat tahun kekuasaan luar biasa terpolarisasi Trump, menghimbau agar "masyarakat tetap tenang."

"Prosesnya tengah bekerja," kata dia di Wilmington. "Hitungan tengah dituntaskan. Dan kita akan segera mengetahuinya."

Di Georgia, negara bagian yang umumnya memilih Republik, Trump memiliki keunggulan tipis dan terus tergelincir sampai selisih suara kurang dari 3.500 suara. Dengan 98 persen surat suara sudah dihitung, sang presiden dan Biden menuju finis.

Di Arizona dan Nevada, Biden mempertahankan keunggulannya. Jika Biden memenangkan kedua negara bagian itu maka dia juga akan memenangkan kursi kepresidenan.

Tetapi potongan terbesar dari teka-teki adalah Pennsylvania di mana keunggulan awal Trump lagi-lagi terus tergerus manakala pejabat pemilihan tengah memproses suara via surat yang biasanya disalurkan oleh para pendukung Biden.

Calon Demokrat itu saat ini memiliki 253 suara elektoral dari total 538 suara elecktoral college dari total 50 negara bagian di negara itu. Dia menjadi memiliki 264 suara elektoral jika Arizona dimasukkan, yang sudah diumumkan Fox News dan Associated Press dimenangi dia, tetapi organisasi pers besar lainnya belum.

Jika Biden merebut Pennsylvania, maka dia akan mendapatkan tambahan 20 suara electoral college yang otomatis di atas angka 270 suara elektoral yang dibutuhkan untuk dinyatakan menang.

Dengan lebih dari 325.000 surat suara yang masih belum dihitung, pejabat yang mengawasi pemilu di Pennsylvania, Kathy Boockvar, mengatakan kepada pers bahwa dia tidak bisa memberikan perkiraan untuk penghitungan lengkapnya.

"Sangat ketat di Pennsylvania, kan?" Kata Boockvar. "Jadi itu berarti butuh waktu lebih lama untuk benar-benar melihat siapa pemenangnya."

Hasil terbaru menunjukkan keunggulan Trump di negara bagian itu menyusut menjadi sekitar 61.000 suara.

Kampanye Trump terus menegaskan bahwa presiden memiliki cara untuk menang, mengutip kantong-kantong suara Republik yang belum dihitung dalam pemilu ketat seperti ini.

Tetapi fokus besar Trump adalah mengklaim, tanpa disertai bukti, bahwa dia korban kecurangan besar-besaran.

Trump secara prematur mengumumkan kemenangan pada Rabu dan mengancam akan mencari intervensi Mahkamah Agung gun menghentikan penghitungan suara, tetapi faktanya penghitungan tetap berlanjut.

Sejak itu, timnya menyebar ke seluruh negara bagian medan pertempuran suara untuk menggugat hasil pemilu di pengadilan dan menggelar serangkaian konferensi pers di mana para pendukung mengajukan tuduhan penyimpangan.

"HENTIKAN PENGHITUNGAN!" cuit Trump, Kamis pagi, merujuk klaimnya yang tidak disertai bukti bahwa surat suara via pos otomatis merupakan penipuan.

Tetapi ketika Trump menuntut penghitungan dihentikan di Georgia dan Pennsylvania di mana dia tengah unggul, para pendukung dan tim kampanyenya ngotot bahwa penghitungan itu berlanjut di Arizona dan Nevada di mana dia sudah tertinggal.

Tim kampanye Trump telah mengumumkan gugatan hukum di Georgia, Nevada dan Pennsylvania dan Michigan - yang sudah ditolak - serta menuntut penghitungan ulang di Wisconsin di mana Biden menang hanya dengan selisih 20.000 suara.

Bob Bauer, pengacara kampanye Biden, menepis banyaknya gugatan hukum itu sebagai "tidak pantas."

"Semua ini dimaksudkan untuk menciptakan awan besar (keraguan besar)," kata Bauer. "Tapi itu bukan awan yang terlalu tebal. Kita masih bisa melihatnya. Begitu juga pengadilan dan petugas pemilu."