Tsunami dan Langkanya Petani Garam di Aceh Besar

Dian Lestari Ningsih, indahelzerra
·Bacaan 3 menit

VIVA – Tsunami yang terjadi tanggal 24 Desember 2004 silam, ternyata banyak meninggalkan kisah-kisah pilu dan juga menghancurkan sendi-sendi kehidupan serta perekonomian masyarakat. Tanpa terasa sudah 16 tahun kejadian tersebut terjadi.

Kejadian tsunami pun masih membekas dibenak kita bersama, bagaimana dashatnya dia meluluhlantakkan Kawasan-kawasan pesisir serta membawa ribuan nyawa yang sedang tinggal dan mencari nafkah di sana. Ribuan nyawa hilang pada saat kejadian ini, yang pastinya tak luput dari amukan gelombangnya adalah mereka-mereka yang berprofesi sebagai nelayan, petambak dan tak lupa pula petani garam.

Petani garam yang sangat akrab dengan kehidupan di pesisir pada saat itu juga banyak yang hilang atau meninggal. Mereka yang sehari-hari selalu melancang­ pada hari itu tidak menyadari, bahwa inilah hari terakhir mereka ada disana untuk memasak garam. Kabupaten Aceh Besar yang juga menjadi salah satu kabupaten penghasil garam di Aceh para petani garamnya bisa dikatakan hanya ratusan yang tersebar di Kecamatan Seulimum, Mesjid Raya, Baitussalam, Leupung, Lhoknga Lhoong, dan Pulau Aceh.

Namun tidak semua berprofesi penuh sebagai petani garam. Menurut cerita salah satu petani garam ibu Nurhayati yang sampai sekarang masih bertahan dengan usahanya, dulu sebelum tsunami banyak petani garam yang ikut melancang­ di tempatnya memasak garam.

"Dulu sebelum tsunami banyak yang melancang di sini, bisa dari ujung jalan sana sampai dengan disana”, dia menjelaskan kepada saya dengan Bahasa Aceh sambil menunjukkan tempat yang baru saja tadi dijelaskan. Menurut penuturan ibu tersebut, generasi muda sekarang sudah sangat sedikit yang mau memasak garam seperti yang dia lakukan, mereka biasanya tidak suka berpanas-panasan.

Berdasarkan cerita dari ibu tersebut, bisa kita ambil kesimpulan karena tidak adanya generasi penerus, sekarang sudah sulit untuk mencari masyarakat yang tinggal di pesisir dengan profesi sebagai petani garam. Sama halnya juga seperti yang diceritakan oleh Azhar, Beliau mengatakan sudah susah mencari anak muda yang mau melancang seperti mereka, kebanyakan sekarang yang melancang mereka yang sudah berumur dan generasi-generasi awal sebelum tsunami.

Teriknya matahari dan panasnya uap perebusan garam mungkin menjadi salah satu alasan kenapa banyak anak muda sekarang enggan untuk melakukan usaha garam. Dulu ketika masih menggunakan cara tradisional dalam memasak garam, para petani hampir menghabiskan seharian penuh menggaruk tanah pasir untuk dijemur, tapi sekarang berbeda, semenjak menggunakan sistem modern dengan plastik geomembran pekerjaan para petani jadi lebih mudah.

Di mana kegiatan sehari-hari yang mereka lakukan biasanya menjemur air laut sampai menjadi air tua. Air tua merupakan air laut yang sudah memiliki kadar garam yang tinggi, sehingga hanya sedikit mengandung air dan biasanya kalau dimasak air ini akan menguap dan meninggalkan butiran garam.

Butuh waktu kurang lebih 10 atau 15 hari untuk menjemur air laut. Setelah dirasa cukup asin air, kemudian diangkut ke dalam bak penampungan yang ada di dalam rumah produksi garam. Setelah itu, air tersebut hanya tinggal direbus dan menjadi butiran garam.

Beberapa tahun terakhir usaha garam kembali menampakkan taringnya berkat kemudahan sistem geomembran tersebut, dan sudah banyak anak-anak muda yang mulai tertarik meneruskan usaha-usaha orang tuanya atau mencari rezeki dengan memasak garam. Harapan terbesar dengan adanya generasi penerus tersebut usaha garam di Aceh Besar dapat kembali menampakkan kesuksesannya sama halnya seperti sebelum tsunami terjadi.

BACA SUMBER BLOG