Tuai Protes, Ini Alasan Pembangunan Wisata di Taman Nasional Komodo Klaim Kaidah Konservasi

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Proyek garapan Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dalam membangun sarana dan prasarana yang dilakukan di Lembah Loh Buaya Pulau Rinca Taman Nasional Komodo menuai protes keras.

Seperti yang diketahui, proses pembangunan proyek ini sudah mencapai 30 persen, dan ditargetkan akan selesai pada Juni 2021. Dikutip dari Liputan6.com, proses penataan sudah masuk ke tahap pembongkaran bangunan eksisting dan pembuangan puing, pembersihan pile cap, dan membuat tiang pancang.

Kegiatan penataan sarpras berlangsung di dermaga Loh Buaya, pengaman pantai, evelated deck, pusat informasi, serta pondok ranger, peneliti, juga pemandu ini berada di wilayah administrasi Desa Pasir Panjang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat.

Kegiatan pengangkutan material pembangunan di Taman Nasional Komodo dijelaskan harus menggunakan alat berat karena tak memungkinkan menggunakan tenaga manusia. Penggunaan alat-alat berat, seperti truk, dan ekskavator, diklaim telah dilakukan dengan prinsip kehati-hatian.

Direktur Jendral Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Wiranto, menyatakan jika pengunjung Pulau Rinca selama pandemi dibatas kurang dari 150 orang per hari untuk menjaga kelestarian komodo.

Bahkan untuk mendukung penataan sarana prasarana wisata alam, Balai TNK KLHK menutup sementara Resort Loh Buaya Taman Nasional Komodo terhitung sejak 26 Oktober 2020 hingga 30 Juni 2021 dan akan dievaluasi secara terus menerus.

Pembangunan ditargetkan hingga Juni 2021 mendatang

View this post on Instagram

Halo Sobat Komodo! Sehubungan dengan berlangsungnya penataan sarana dan prasarana wisata alam di Resort Loh Buaya, Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo, dengan ini Balai Taman Nasional Komodo menutup sementara destinasi tersebut dari kunjungan wisatawan berlaku sejak tanggal 26 Oktober 2020 hingga 30 Juni 2021. Jangan sedih, Sobat Komodo yang ingin melihat Komodo masih berkesempatan melihat komodo di Resort Loh Liang, Pulau Komodo, Taman Nasional Komodo. Sementara situs wisata perairan di kawasan terbuka seperti biasa dengan tetap mengacu ke peraturan yang berlaku (contoh: registrasi online). Sobat Komodo harus tau, biawak komodo yang hidup di kawasan Taman Nasional Komodo selalu dalam kondisi aman. Luangkan waktu untuk main kesini yaa, supaya bisa melihat indahnya dunia tersembunyi di bagian barat Pulau Flores. ——————————————— Hello Dragonians! Due to the on-going ecotourism facilities and infrastructures construction at the Loh Buaya Resort, Rinca Island, Komodo National Park is temporarily closing the site from visitors effectively starting on October 26th 2020 to June 30th, 2021. But folks do not be afraid! You are still be able to find the Komodo dragons at the Loh Liang Resort, Komodo Island, Komodo National Park. All of the marine tourism sites in the park are opened normally and strictly following the applied regulation (ex: registration online). You have to know that all dragons living within Komodo National Park are could not be more safer than ever here. Please kindly visit us in the Komodo National Park, the hidden world at the western part of Flores. #temporaryclosure #penutupansementara #lohbuaya #komodonationalpark #komodo #dragons #ecotourism #ayoketamannasional #worldheritagesite #komodobiospherereserve #natureprotector #fighthoax #lawanhoax

A post shared by Balai Taman Nasional Komodo (@tamanasionalkomodo) on Oct 25, 2020 at 4:50am PDT

Sementara itu, destinasi lainnya masih tetap dibuka seperti Padar, Loh Liang, Pink Beach, dan diving spot seperti Karang Makasar, Batubolang, Siaba, dan Mawan.

Hingga saat ini, Wiranto menyatakan jika populasi komodo di Lembah Loh Buaya masih stabil. Bahkan cenderung meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Populasinya juga terkonsentrasi di sejumlah titik, yakni tujuh individu di Pulau Padar, 69 Individ di Gili Motang, dan 92 Individu di Nusa Kode.

Taman Nasional Komodo sendiri tercatat memiliki label global, sebagai Cagar Biosfer (1977) dan Warisan Dunia (1991) oleh UNESCO, memiliki luas 173.300 Ha, terdiri dari 58.449 hektare (33,76 persen) daratan dan 114.801 hektare (66,24 persen) perairan.

Dari luas tersebut, ditetapkan Zona Pemanfaatan Wisata Daratan 824 hektare (0,4 persen) dan Zona Pemanfaatan Wisata Bahari 1.584 hektare (0,95 perse). Penetapan tersebut diklaim jadi dasar penentuan perencanaan ruang kelola di taman nasional tersebut.

Melakukan pemeriksaan komodo secara berkala

View this post on Instagram

Hallo Sobat Komodo! Taman Nasional Komodo memiliki luas sebesar 173.300 Ha (58.499 Ha daratan dan 114.801 Ha perairan), dikelola dengan sistem zonasi dan pendekatan Resort-Based Management. Resort atau Pos Jaga Loh Buaya adalah salah satu dari 13 resort penjagaan di Taman Nasional Komodo. Loh Buaya sendiri memiliki luas wilayah sebesar 15.059,4 Ha, dimana Sebesar 129.47 Ha merupakan Zona Pemanfaatan Wisata Daratan atau 0.22% dari total luas wilayah daratan Taman Nasional Komodo. Loh Buaya menjadi destinasi favorit bagi wisatawan yang memiliki waktu kunjungan yang relatif singkat karena jaraknya cukup dekat dengan Labuan Bajo. Destinasi ini cenderung menerima tingkat kunjungan wisatawan harian yang lebih tinggi dibandingkan destinasi lainnya di dalam kawasan. Penataan Sarpras wisata alam di Resort Loh Buaya dilakukan untuk peningkatan kualitas pelayanan publik secara berkelanjutan. Dengan melihat tren peningkatan wisatawan selama 5 tahun terakhir yang cenderung meningkat, tentunya penataan yang lebih terkonsentrasi pada satu titik akan lebih menjamin proses pelaksanaan ekowisata yang aman untuk jangka panjang. Penataan ini juga sudah melalui proses yang cukup panjang terkait perizinan dan pertimbangan ilmiahnya. Balai TN Komodo bersama mitra terus memantau perkembangan penataan setiap harinya guna memastikan agar integritas ekosistem dan kelestarian satwa tidak terganggu. Protokol COVID-19 pun tetap diterapkan di lapangan. Komodo di Lembah Loh Buaya berjumlah lebih kurang 60 individu, 15 diantaranya hidup pada lokasi yang sekarang sedang ditata ulang. Balai TN Komodo bersama dengan pakar komodo (Yayasan Komodo Survival Program) terus memantau status populasi dan menjaga kelestarian satwa komodo menggunakan pendekatan ilmiah terkini dan reliable. Populasi satwa komodo selama 5 tahun terakhir relatif stabil. Proses penataan ini tidak memberikan dampak terhadap keselamatan satwa. Penjagaan dan pengawasan oleh ranger juga terus dilakukan sehingga kecelakaan kerja saat penataan tidak akan terjadi. Komodo secara alami akan menjauh dari kehadiran entitas lain dan dapat bebas berjalan di habitatnya tanpa terganggu.

A post shared by Balai Taman Nasional Komodo (@tamanasionalkomodo) on Oct 26, 2020 at 11:11pm PDT

Di samping, upaya meminimalisasi kontak satwa dengan aktivitas wisata dikatakan terus dilakukan. Saat ini, pemanfaatannya dinilai tak membahayakan populasi komodo di areal Lembah Loh Buaya, yakni seluas 500 hektare atau sekitar 2,5 persen dari total luas Pulau Rinca yang mencapai 20 ribu hektare.

“Guna menjamin keselamatan dan perlindungan terhadap komodo, termasuk para pekerja, seluruh aktivitas penataan sarpras diawasi 5--10 ranger setiap hari. Mereka secara intensif melakukan pemeriksaan keberadaan komodo, termasuk di kolong-kolong bangunan, bekas bangunan, dan di kolong truk pengangkut material,” jelas Wiratno.

#ChangeMaker