Tuan Rumah Piala Eropa 2020 Berjuang Redam Lonjakan Kasus COVID-19

·Bacaan 2 menit

VIVA – Jajaran dokter di Saint Petersburg berjuang meredam jumlah korban jiwa COVID-19 yang melonjak jelang perempatfinal Piala Eropa 2020. Kota terbesar kedua di Rusia itu menjadi tuan rumah duel Timnas Swiss kontra Timnas Spanyol, Jumat 2 Juli 2021.

Angka kematian akibat COVID-19 di Saint Petersburg mencapai lebih dari 100 orang perhari dalam sepekan terakhir kendati otoritas setempat mengetatkan protokol kesehatan termasuk jam operasional restoran dan pembatasan acara publik.

Kapasitas penonton di Stadion Krestovsky juga dibatasi hanya 50 persen dan suporter diwajibkan selalu mengenakan masker. Tapi kasus COVID-19 tetap melonjak yang menurut otoritas dikarenakan varian Delta serta rendahnya tingkat vaksinasi.

Pun demikian, kerumunan suporter besar kemungkinan akan kembali terjadi ketika Swiss meladeni Spanyol dan para pekerja medis di zona merah menyadari risiko yang mengancam.

"Sebagai dokter saya tentu menolak penyelenggaraan ajang-ajang berpotensi kerumunan besar," kata Alexei Dmitriev yang mengenakan APD lengkap di Rumah Sakit Mariinskaya sebagaimana dilansir Reuters.

"Tentu saja kami bersiap menghadapi lonjakan pasien lagi setelah ajang yang melibatkan massa dalam jumlah besar ini," ujarnya menambahkan.

WHO sebelumnya pada Kamis sempat menurunkan laporan peningkatan kasus COVID-19 di Eropa yang mencapai 10 persen akibat kerumunan Piala Eropa 2020 serta pelonggaran perjalanan berbagai negara.

Sedangkan UEFA menegaskan mereka sudah menyelenggarakan Piala Eropa 2020 sesuai dengan arahan otoritas kesehatan lokal. Padahal sebelumnya, sejumlah suporter Finlandia, yang dua pertandingan Euro 2020 mereka dimainkan di Saint Petersburg, pulang ke negaranya menambah lonjakan kasus COVID-19.

Sementara itu di beberapa rumah sakit Saint Petersburg, pasien membutuhkan alat bantu pernapasan dan dokter terus mengawasi fungsi paru-paru mereka sembari menyiapkan tabung oksigen.

Gejala pasien beragam dalam lonjakan kasus COVID-19 kali ini, kata Dmitriev. Para pasien merasakan gejala gangguan pernapasan kendati paru-parunya tidak terkena parah dan rentang usia infeksi juga semakin muda.

Salah seorang pekerja medis lainnya mengaku kaget ketika menuntaskan jam kerjanya di zona merah dan tiba di kota, yang nyaris tanpa ada pembatasan.

"Orang-orang berkumpul, memeluk satu sama lain. Sepertinya ada dua kehidupan di Saint Petersburg. Rasanya sudah ada kesempatan untuk mencegah apa yang sekarang terjadi," kata kepala perawat Alla Vitlayevna. (Ant)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel