Tubuh dan Jiwa Ini adalah Titipan yang Perlu Dijaga Sebaik-Baiknya

Fimela.com, Jakarta Tahun baru, diri yang baru. Di antara kita pasti punya pengalaman tak terlupakan soal berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Mulai dari usaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan, menjalin hubungan, meraih impian, dan sebagainya. Ada perubahan yang ingin atau mungkin sudah pernah kita lakukan demi menjadi pribadi yang baru. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Change the Old Me: Saatnya Berubah Menjadi Lebih Baik ini.

***

Oleh: S - Tangerang

Tanggal 29 Januari 2020, aku melangkahkan kaki ke suatu puskesmas seorang diri, sambil memeriksa apakah benar ada pelayanan kesehatan tersebut. Ternyata benar, ada. Meskipun empat tahun yang lalu aku sudah menjadi mahasiswa di daerah tersebut, namun belum pernah aku coba untuk berobat ke sana.

Dua hari sebelumnya aku tidak nafsu makan dan pikiran kacau-balau. Tidak tahu apa yang sebenarnya sedang menjadi fokus pikiran, yang aku tahu semuanya terasa berbenturan. Memasuki puskesmas seperti seorang tamu yang tidak tahu apa-apa. Diawali dengan bertanya kepada seorang pasien yang terlihat begitu lemas tentang bagaimana cara mendaftarkan diri. Bisa ditebak, aku memang baru pertama kali berobat di puskesmas mana pun.

Aku bertanya kepada seorang pegawai di sana, “Bu, bagaimana cara saya untuk menjadi pasien pelayanan kesehatan jiwa?” Beliau menjawab agar aku mengikuti arahan selanjutnya setelah namaku dipanggil. Sungguh tidak sabar sekaligus merasa takut jika menunda keberanian ini mengingat usiaku 22 tahun, mungkin pasien lainnya tidak akan menduga bahwa diriku seorang pasien kesehatan jiwa, karena memang terlihat seperti baik-baik saja.

Namaku dipanggil oleh tiga murid SMK yang sedang PKL (Praktek Kerja Lapangan) untuk menuju suatu ruangan. Aku sama sekali tidak pernah membayangkan akan memasuki ruangan bersejarah itu. Selama berjalan kaki, aku hanya diam membayangkan bagaimana nanti ketika dokter ada di hadapanku? Atau bagaimana menceritakan keluhan?

Termotivasi Berobat dari Sebuah Buku

Ilustrasi./(Foto: iStockphoto)

Sesampainya, sekitar beberapa menit diminta untuk menunggu sejenak dikarenakan sang dokter sedang ada di ruangan lain. Sambil menunggu, aku membaca sebuah buku yang sejak pagi sudah tersimpan di tas, buku yang berjudul Pertolongan Pertama pada Emosi Anda: Panduan Mengobati Kegagalan, Penolakan, Rasa Bersalah, dan Cedera Psikologis Sehari-hari Lainnya.

Isi dalam buku tersebut menjadi salah satu jawaban mengapa begitu banyak hal buruk yang melekat di benak hingga rasanya aku tidak ragu menuju puskesmas. Seperti pada halaman lima yang menjelaskan bahwa kita sering mengabaikan luka-luka psikologis sampai akhirnya luka itu semakin parah hingga mengganggu kehidupan kita. Pada kalimat itulah aku tersadarkan untuk segera melakukan pengobatan agar tidak semakin parah.

Saat perkenalan dengan dokter, beliau menanyakan apa yang bisa dibantu. Aku jelaskan satu per satu mengenai diri sendiri yang mudah menangis ketika tertekan, maag, sulit tidur, pusing, tangan gemetar, sesak napas, lemas, mudah berkeringat saat panik, hingga puncaknya memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup ketika dirasa tidak kuat dengan pikiran yang kacau.

Di dalam ruangan sudah ditekadkan untuk tidak menangis, khawatir apa yang ingin disampaikan tidak tersampaikan dengan jelas dan lengkap. Tapi dokter mengatakan, “Nggak perlu malu-malu kalau mau nangis, karena mayoritas pasien di sini melakukan hal yang sama ketika berkonsultasi dengan saya."

Konsultasi berjalan dengan lancar, beliau menilai bahwa aku seorang pasien yang kooperatif, memiliki keinginan besar untuk sembuh, dan bahkan mendoakan agar ke depannya menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Peduli dengan Diri Sendiri

ilustrasi./Photo by JoelValve on Unsplash

Aku terdiagnosa sebagai seorang psikosomatik. Penyakit yang pernah didengar sebelumnya, tapi siapa sangka kalau aku termasuk orang yang mengalaminya. Dokter menyarankan agar mengikhlaskan segala sesuatu yang sudah terjadi seperti bullying semasa kecil, pertengkaran kedua orangtua yang terkadang membahas perceraian, serta ketakutan terhadap laki-laki.

Ketakutan itu muncul dengan sendirinya semenjak bapak dan kakak laki-laki memperlakukan ibu, aku, dan kedua adikku secara kasar. Mengetahui itu, dokter memintaku untuk bersalaman dengannya di saat tangisan belum reda. Aku semakin menangis dan menolak bersalaman. Setelah keluar ruangan, muncul asumsi bahwa itu hanya untuk mengetest sejauh mana ketakutan pasien, mungkin.

Bersyukur keberanian untuk berobat muncul meskipun ketika diusia yang terbilang dewasa. Sepulang dari berobat, aku tidak malu mengakui apa yang dilakukan di puskesmas kepada ibu serta orang terdekat yang benar-benar peduli. Setelahnya, hari-hari dijalani dengan tidak lagi hanya menduga dan berpikiran buruk mengenai berbagai hal yang dialami dengan cara memperbaiki pola makan, pola hidup serta semakin percaya Kuasa Tuhan.

Aku seorang pasien di ruang pelayanan kesehatan jiwa. Optimis bisa sembuh dengan usaha berobat kepada ahlinya serta berdoa meminta kesembuhan kepada Tuhan. Tahun ini menjadi bersejarah dalam hidupku, pertanyaan mengenai kesehatan akhirnya terjawab sudah.

Dokter menyarankan untuk melakukan terapi, tentunya aku mengiyakan atas dasar semangat untuk bisa sembuh dan menjalani hidup seperti orang lain pada umumnya. “Tidak perlu malu ketika orang tahu bahwa kita seorang pasien di suatu pelayanan kesehatan, sejatinya kita sedang berusaha peduli dengan apa yang terjadi pada diri sendiri."

Tubuh ini dititipkan untuk dijaga dengan sebaik-baiknya. Ketika aku bisa begitu menyayangi dan mempedulikan seseorang dengan sepenuh hati, mengapa tidak berlaku dengan diri sendiri? Lantas aku semakin mencintai diriku yang sedang sakit ini, karena tahu, tidak ada manusia yang sempurna.

Siapa pun yang sedang sakit, tetaplah yakin bahwa kita bisa sembuh. Tetap semangat Sahabat Fimela, semoga ceritaku dapat menjadi motivasi bagi yang masih ragu untuk berobat.

#GrowFearless with FIMELA