Tubuh Rais Kian Kurus Akibat Benjolan di Leher

Laporan Wartawan Tribun Timur, Muthmainnah Amri

TRIBUNNEWS.COM, MAROS - Kasus gizi buruk kembali terjadi di Maros. Kali ini menimpa bocah berusia 10 bulan, Muh Rais Nur, asal Dusun Batunapara, Desa Baruga Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros.

Saat ditemui di kamar perawatan bangsal anak RSUD Salewangang, Minggu (30/9/2012), Rais terbaring lemah.

Menurut ibunya, Nuraeni, Rais menderita gizi buruk sejak tiga bulan lalu. Kondisi itu kian diperburuk dengan munculnya penyakit Lymphadenitis, yakni sebuah pembengkakan pada tenggorokannya. Gara-gara benjolan itu, bungsu dari tiga bersaudara ini jadi sulit makan dan minum. Rais pun merasa kesakitan ketika menelan. Penyakit ini menyebabkan berat badan Rais menurun.

"Dulu memang dia kurus tapi tidak seperti ini. Sejak ada benjolan di lehernya membuat dia malas makan, dan sering muntah kalau disuap. Makanya badannya bertambah kurus sekitar 4,5 kg," ungkap Nuraeni kepada wartawan, kemarin.

Nuraeni menambahkan benjolan di leher anaknya itu mulai terlihat besar setelah lebaran lalu. Pembengkakan itu disertai dengan demam tinggi. Ketika demam Nuraeni mengaku sempat

membawa anaknya ke Puskesmas Bantimurung untuk dirawat. Namun setelah demam turun, M Rais diizinkan pulang tapi selang beberapa lama, kondisi anaknya kembali menurun.

"Saya pun membawa anak saya ke rumah sakit ini. Dulu dia demam tinggi tapi kakinya sangat dingin. Beberapa hari demam, tak kunjung sembuh sampai akhirnya saya lihat ada benjolan muncul di lehernya," terangnya.

Selama dirawat lima hari di RSUD Salewangang, kondisi Muh Rais perlahan membaik. Meski masih memakai infus tapi berat badan anaknya berangsur naik meski hanya satu ons.

Dalam waktu dekat pun Rais akan difoto rongent untuk mengetahui penyakitnya.

Baca Juga:

  • Festival Keuken Manjakan Penikmat Kuliner 
  • Desa Salenrang Jadi Desa Wisata 2012
  • Aksi Seragam Berlumur Darah Pemuda Solo 
  • Surya Paloh Mengaku Salah Datang Terlambat
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.