Tujuan Resensi, Struktur, dan Kaidah Kebahasaannya yang Perlu Diketahui

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Jakarta - Resensi adalah ulasan, penilaian, atau pembicaraan mengenai suatu karya baik itu buku, film, dan karya lainnya.

Secara etimologi, resensi berasal dari bahasa Belanda 'resentie' dan bahasa Latin 'recensio', 'recensere' atau 'revidere', yang memiliki arti mengulas kembali atau melihat kembali.

Sedangkan dalam bahasa Inggris, resensi dikenal dengan istilah 'review'. Singkatnya, resensi adalah suatu penilaian terhadap sebuah karya.

Adapun tugas penulis resensi ialah memeberikan gambaran kepada khalayak mengenai suatu karya apakah layak atau tidak. Hal-hal yang dapat ditanggapi dalam resensi adalah kualitas isi, penampilan, unsur-unsur, bahasa, dan manfaatnya.

Dengan adanya resensi, akan timbul keinginan dari seseorang untuk menikmati suatu karya dan turut mengapresiasinya. Jadi, resensi juga berfungsi sebagai pengantar dan pemandu bagi para penikmat suatu karya.

Tujuan utama resensi ialah memberikan tanggapan atas suatu karya sebagai informasi kepada calon penikmat karya itu.

Selain tujuan, penting juga diketahui struktur dan kaidah kebahasaan resensi. Apa saja tujuan lain dari resensi, struktur, dan kaidah kebahasannya?

Berikut ini rangkuman tentang tujuan resensi, struktur, dan kaidah kebahsaan, dilansir dari laman smkhkti2.sch.id dan repositori.kemdikbud.go.id, Selasa (24/8/2021).

Tujuan Resensi

Ilustrasi menulis. Credit: pexels.com/Judit
Ilustrasi menulis. Credit: pexels.com/Judit

Tujuan Resensi

1. Untuk memberikan sebuah pemahaman dan informasi secara komprehensif kepada khalayak atau pembaca tentang suatu karya yang diresensinya.

2. Mengajak pembaca agar mendiskusikan dan memikirkan lebih jauh tentang apa masalah yang diangkat yang ada di dalam suatu tersebut.

3. Agar memberikan suatu pertimbangan kepada si pembaca tentang pantas atau tidaknya suatu karya itu untuk dinikmati.

4. Untuk memberikan suatu jawaban mengenai sebuah pertanyaan-pertanyaan dari pembaca ketika suatu karya diterbitkan.

5. Memberikan sugesti kepada pembaca, apakah sebuah karya patut dibaca atau ditonton.

6. Melukiskan dan memaparkan pendapatnya melalui sebuah pertimbangan atau penilaian.

7. Memberikan kriteria-kriteria yang jelas dalam mengemukakan pendapatnya itu.

Struktur Resensi

Ilustrasi menulis, mengetik di laptop. /Copyright unsplash.com/alexa mazzarello
Ilustrasi menulis, mengetik di laptop. /Copyright unsplash.com/alexa mazzarello

Adapun struktur penyajian resensi buku, yaitu:

1. Identitas buku/karya lain, yang meliputi judul, nama penulis, penerbit, tahun terbit, dan tebal buku.

2. Menyajikan ikhtisar atau hal-hal menarik dari suatu karya.

3. Memberi penilaian yang meliputi kelebihan dan kekurangan suatu karya. Penilaian tersebut sebaiknya meliputi unsur-unsur karya secara lengkap, yakni mulai tema, alur, penokohan, latar, gaya bahasa, amanat, dan kepengarangan.

4. Meyimpulkan resensi suatu karya yang disajikan.

Kaidah Kebahasaan

Ilustrasi menulis. Credit: pexels.com/Vlada
Ilustrasi menulis. Credit: pexels.com/Vlada

Kaidah-kaidah kebahasaan teks resensi, yaitu:

1. Konjungsi penerangan

Dalam teks resensi banyak menggunkaan konjungsi penerangan, seperti: bahwa, yakni, yaitu.

2. Konjungsi temporal

Selain konjungsi penerangan, dalam teks resensi juga terdapat konjungsi temporal yaitu: sejak, semenjak, kemudia, akhirnya.

3. Konjungsi peneyebaban

Konjungsi penyebabban dalam teks resensi yaitu: karena, sebab.

4. Pernyataan saran

Teks resensi menggunakan pernyataan-pernytaan yang mengandung saran atau rekomendasi pada bagian akhir teks. Hal ini ditandai dengan kata: jangan, harus, hendaknya.

5. Kata serapan

Dalam perkembangan bahasa Indonesia, beberapa kata-kata dalam bahasa Indonesia menyerap unsur dari berbagai bahasa, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing.

Pemerintah telah menetapkan peraturan untuk penulisan unsur serapan tersebut. Peraturan pemerintah itu dapat disimpulkan dalam poin-poin sebagai berikut:

(1). Satu bunyi dilambangkan dengan satu huruf, terkecuali untuk bunyi ng, ny, sy, kh, yang diwakili oleh dua huruf. Contoh: kromosom bukan khromosom, foto bukan photo, retorika bukan rhetorika, dan tema bukan thema.

(2). Penulisan kata serapan harus sesuai cara pengucapan yang berlaku dalam bahasa Indonesia. Misalnya: cek bukan chek, tim bukan team, taksi bukan taxi, dan aki bukan accu.

(3). Penulisan kata serapan diusahakan untuk tidak jauh berbeda dengan kata aslinya. Contoh: aerob (Inggris : aerobe) bukan erob, hidraulik (Inggris: hydraulic) bukan hidrolik, sistem (Inggris: system) bukan sistim, frekuensi (Inggris: frequency) bukan frekwensi.

Sumber: Smkhkti2.sch.id, Kemdikbud

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel