Tujuan Teks Editorial, Struktur, dan Kaidah Kebahasaannya

·Bacaan 4 menit

Bola.com, Jakarta - Teks editorial merupakan satu di antara jenis teks yang dipelajari ketika belajar bahasa Indonesia. Teks ini nantinya akan mengangkat isu sehari-hari yang aktual, fenomenal, dan faktual.

Teks editorial adalah teks yang berisi pendapat redaksi surat kabar terhadap suatu isu atau masalah yang aktual, baik itu masalah ekonomi, sosial atau budaya, dan lain-lain yang biasanya mempunyai hubungan signifikan dengan politik.

Pengungkapan dalam teks ini harus dilengkapi dengan bukti, fakta, maupun alasan yang logis agar pembaca atau pendengar bisa menerimanya.

Jadi, isi teks editorial adalah menyikapi situasi yang berkembang di masyarakat luas, baik itu aspek sosial, politik, ekonomi, hukum, dan lain sebagainya.

Dalam teks editorial terdapat argumentasi yang menguatkan sikap penulis terhadap masalah yang berkembang dalam masyarakat.

Argumentasi dapat berupa pernyataan atau bisa juga berupa data hasil penelitian, pernyataan para ahli, serta fakta-fakta yang didasarkan atas referensi yang dapat dipercaya.

Itulah sedikit penjelasan mengenai teks editorial. Untuk memahami lebih dalam tentang teks editorial ketahui tujuan struktur dan kaidah kebahasaannya.

Berikut ini rangkuman tentang tujuan teks editorial, struktur, dan kaidah kebahasaannya, seperti dilansir dari laman repository.kemdikbud, Senin (13/9/2021).

Tujuan Teks Editorial

Ilustrasi mengetik di laptop. /Copyright unsplash.com/alexa mazzarello
Ilustrasi mengetik di laptop. /Copyright unsplash.com/alexa mazzarello

Tujuan Teks Editorial

Secara umum teks editorial mempunyai dua tujuan, yakni:

1. Mengajak pembaca untuk ikut berpikir dalam masalah (isu/topik) yang sedang hangat terjadi di kehidupan sekitar.

2. Memberikan pandangan kepada pembaca terhadap isu yang sedang berkembang.

Struktur Teks Editorial

Ilustrasi menulis. (Nick Morrison/ Unsplash)
Ilustrasi menulis. (Nick Morrison/ Unsplash)

Teks editorial memiliki struktur, yakni sebagai berikut:

  • Pernyataan pendapat (thesis statement)

Pernyataan pendapat atau disebut juga tesis merupakan bagian yang mengemukakan topik yang akan disampaikan. Biasanya terdapat pada awal paragraf sebagai pembuka pembahasan.

  • Argumentasi (arguments)

Pada bagian ini, penulis menyampaikan fakta yang terjadi di lapangan dan mengomentari fakta tersebut berdasarkan sudut pandangnya. Tujuan argumentasi adalah untuk memengaruhi dan meyakinkan pembaca.

Penulis ingin agar segala sesuatu yang disampaikannya dibenarkan oleh pembaca sehingga pembaca pun mengikutinya. Argumentasi biasanya terdiri atas beberapa paragraf.

  • Pernyataan ulang pendapat (reiteration)

Bagian ini merupakan penutup opini yang berisi penegasan kembali tesis dan argumentasi agar pembaca makin yakin.

Kaidah Kebahasaan Teks Editorial

Ilustrasi menulis puisi. Credit: pexels.com/Ylanite
Ilustrasi menulis puisi. Credit: pexels.com/Ylanite

Untuk dapat menganalisis bahasa dari teks editorial ialah dengan cara memahami ciri kebahasaan teks editorial. Berikut uraian beberapa kaidah kebahasaan yang sering ditemukan dalam teks editorial.

1. Adverbia fFekuentatif dan Modalitas

Adverbia frekuentatif adalah adverbia yang mempertegas ekspresi kepastian. Dalam tradisi struktru fungsional linguistik (SFL), hal ini sering juga disebut modalitas.

Contoh adverbia frekuentatif adalah: selalu, biasanya, sering, kadang-kadang, jarang, dan kerap.

2. Konjungsi

Konjungsi yang digunakan pada teks editorial adalah konjungsi eksternal temporal, konjungsi internal penegasan, dan konjungsi kausalitas/sebab-akibat.

Kaidah Kebahasaan Teks Editorial

Ilustrasi mengetik di laptop. Credit: unsplash.com/Corrine
Ilustrasi mengetik di laptop. Credit: unsplash.com/Corrine

3. Verba/kata kerja

Verba dalam linguistik struktural harus dianalisis berdasarkan struktur klausa. Hal ini dikarenakan skema informasi diterapkan pada tataran klausa. Jadi, tidak bisa menerapkan verba hanya pada tataran jenis kata semata.

Verba dibagi menjadi enam jenis proses, yakni material, tingkah laku (behavioural), verbal, mental, relasional, dan eksistensional. Dalam teks editorial, terdapat tiga jenis proses verba, yaitu material, mental, dan relasional.

a. Verba material

Verba ini menekankan adanya proses dalam melakukan sesuatu. Proses material membutuhkan dua partisipan yang disebut pelaku dan yang dikenai pelaku.

b. Verba mental

Verba mental adalah verba yang menjelaskan proses dalam merasakan. Ada tiga hal yang dijelaskan dalam proses ini, yaitu:

  1. Persepsi: (melihat, mendengar, mencium, mengecap, meraba)

  2. Afeksi: (suka, takut, benci)

  3. Kognisi: (berpikir, memahami, mengetahui)

Dalam proses mental terdapat dua partisipan yang disebut yang merasakan (perasaan sadar untuk melihat, merasakan, atau berpikir) dan fenomena (hal yang dirasakan atau dipikirkan).

c. Proses relasional

Verba relasional adalah proses untuk menjadi sesuatu. Terdapat tiga tipe proses relasional, yaitu:

  1. Intensif a adalah b (membentuk hubungan persamaan di antara dua entitas)

  2. Keadaan a ada pada b (mendefinisikan suatu entitas berada pada suatu tempat, waktu, atau sikap)

  3. Posesif/kepemilikan a memiliki b (mengidentifikasi bahwa satu entitas memiliki yang lain)

Setiap tipe proses di atas menciptakan dua model:

a. Atributif (b adalah atributif untuk a)

Proses ini membutuhkan dua partisipan, yaitu penanda dan petanda atau penyandang dan sandangan

b. Identifikatif (b adalah identitas bagi a)

Proses ini membutuhkan dua partisipan, yang disebut token dan yang teridentifikasi dan partisipan nilai dan pengidentifikasi.

Kaidah Kebahasaan Teks Editorial

Ilustrasi menulis. Credit: pexels.com/Startup
Ilustrasi menulis. Credit: pexels.com/Startup

4. Modalitas

Satu di antara ciri kebahasaan teks editorial adalah adanya penggunaan kalimat pendapat dan pandangan seorang penulis terhadap suatu permasalahan (tesis). Untuk menunjukkan hal ini, teks editorial membutuhkan ciri kebahasaan yang lain, yaitu modalitas.

Modalitas adalah cara penulis menyatakan sikap dalam sebuah komunikasi. Ada banyak bentuk-bentuk modalitas.

Bentuk-bentuk modalitas di antaranya: memang, niscaya, pasti, sungguh, sangat, tentu, tidak, bukan (untuk menyatakan kepastian), agaknya, barangkali, mungkin, rasanya, rupanya (untuk menyatakan kesangsian), semoga, mudah-mudahan (menyatakan keinginan), jangan (larangan), mustahil (keheranan).

Sumber: Kemdikbud

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel