Tujuh Pabrikan Ini Tidak Lama di WorldSBK

Tri Cahyo Nugroho
·Bacaan 4 menit

WorldSBK mulai resmi menjadi kejuaraan dunia pada 1988. Dalam kurun waktu 32 tahun, paling tidak ada 12 pabrikan yang pernah turun, bahkan sampai musim 2020 lalu.

Ducati masih menjadi pabrikan terbaik di ajang balap yang menggunakan basis motor produksi massal ini dengan 17 gelar juara dunia pabrikan (1991-1996, 1998-2004, 2006, 2008, 2009, 2011).

Pabrikan asal Italia itu merasakan gelar sejak motor-motor dengan mesin 1.000 cc V-twin bebas berduel dengan mesin 750 cc empat-silinder (1988-2002) hingga FIM mengubah regulasi mesin WorldSBK menjadi 1.000 cc (twin, triple sampai empat-silinder) mulai 2003.

Kawasaki berada di posisi kedua dengan enam gelar juara dunia konstruktor seiring dengan gelar pembalap yang dibuat beruntun oleh Jonathan Rea pada 2015 sampai 2020. Satu gelar juara dunia pembalap ditorehkan Kawasaki lewat Tom Sykes pada 2013.

Max Biaggi menjadi bukti keperkasaan Aprilia di WorldSBK lewat dua gelarnya pada 2010 dan 2012.

Max Biaggi menjadi bukti keperkasaan Aprilia di WorldSBK lewat dua gelarnya pada 2010 dan 2012. <span class="copyright">Fabrice Crosnier</span>
Max Biaggi menjadi bukti keperkasaan Aprilia di WorldSBK lewat dua gelarnya pada 2010 dan 2012. Fabrice Crosnier

Fabrice Crosnier

Aprilia gagal mempertahankan gelar pembalap namun mampu merebut gelar pabrikan pada 2013. Barulah pada 2014 mereka mampu mengawinkan gelar pabrikan dan pembalap setelah Sylvain Guintoli (kini pembalap penguji Tim Suzuki MotoGP) juara.

Keputusan Aprilia untuk kembali ke MotoGP pada 2015 memaksa mereka menutup program di WorldSBK.

Total, Aprilia mampu memenangi 52 race di WorldSBK. Terakhir mereka melakukannya di Qatar pada 2015 saat Leon Haslam (kini Team Honda HRC) memenangi Race 1 dan Jordi Torres di Race 2. Adapun kemenangan pertama ditorehkan Troy Corser di Phillip Island, Australia, pada 2000.

Suzuki Setali Tiga Uang dengan Aprilia

Hingga kini, Suzuki masih terus mengembangkan GSX-R1000R sebagai motor produksi massal untuk menyaingi empat pabrikan Jepang pesaing terberat mereka: Honda, Kawasaki, dan Yamaha.

Kendati begitu, nama Suzuki tidak lagi pernah turun penuh di grid WorldSBK sejak terakhir melakukannya pada 2015. Setelah skuad pabrikan, Team Suzuki Alstare, mundur pada akhir 2010, Suzuki diwakili Crescent Racing milik Paul Denning sejak 2011.

Tetapi pada akhir 2015, Crescent memutuskan pindah pabrikan dari Suzuki ke Yamaha. Sejak saat itu, Crescent menjadi bagian dari Yamaha di WorldSBK.

Seperti Aprilia, Suzuki tidak lagi turun di WorldSBK karena lebih memilih fokus ke MotoGP mulai 2015. Dengan bujet yang terbatas, pabrikan asal Hamamatsu, Jepang, itu tidak mau lagi dibebani anggaran tinggi dengan turun di dua ajang sekaligus.

Troy Corser merebut gelar WorldSBK keduanya (setelah 1996) pada 2005 di atas Suzuki GSX-R1000 K5.

Troy Corser merebut gelar WorldSBK keduanya (setelah 1996) pada 2005 di atas Suzuki GSX-R1000 K5.<span class="copyright">Fabrice Crosnier</span>
Troy Corser merebut gelar WorldSBK keduanya (setelah 1996) pada 2005 di atas Suzuki GSX-R1000 K5.Fabrice Crosnier

Fabrice Crosnier

Suzuki turun di WorldSBK pada 1988 sampai 2015. Dalam kurun waktu tersebut, mereka mampu merebut 32 kemenangan race serta masing-masing satu gelar juara dunia konstruktor dan pembalap lewat Troy Corser pada 2005.

Dari 24 race (12 putaran) WorldSBK 2005 itu, Suzuki GSX-R1000 K5 milik Tim Alstare Suzuki Corona Extra yang dibela Corser mampu mencetak 9 kali kemenangan, 11 podium kedua, dan 6 podium ketiga.

Suzuki sempat bangkit pada 2010 saat Leon Haslam menjadi runner-up di atas GSX-R1000 milik Team Suzuki Alstare. Adapun kemenangan terakhir Suzuki di WorldSBK ditorehkan oleh Eugene Laverty (Voltcom Crescent Suzuki) pada Race 1 lomba pembuka 2014 di Phillip Island, Australia.

Bimota, MV Agusta, Benelli, Petronas, dan EBR

Bimota menjadi salah satu pabrikan legendaris di WorldSBK. Turun antara 1988-1991 dan 2000, pabrikan asal Italia ini mampu merebut total 11 kemenangan race.

Davide Tardozzi, yang kini Direktur Ducati Team di MotoGP, memberikan kemenangan pertama Bimota di musim perdana WorldSBK pada 1988. Pada musim tersebut, Tardozzi total mengoleksi lima kemenangan untuk berada di posisi ketiga klasemen akhir.

Anthony Gobert menjadi pembalap terakhir Bimota yang mampu menang saat berlangsungnya lomba di Phillip Island, Australia, pada 2000.

MV Agusta mundur selamanya dari WorldSBK pada akhir musim 2018. Leon Camier dan Jordi Torres cukup impresif di atas MV Agusta F4 RR sepanjang 2014-2018 namun tetap gagal memberikan kemenangan.

Pada musim 2004, Andrea Mazzali membawa MV Agusta ke WorldSBK pada lomba di Imola, Italia. Tetapi, dari tiga periode turun: 2004-2004, 2007, 2014-2018, MV Agusta tetap tidak mampu memenangi race.

Foggy Petronas FP1 saat siap diturunkan di Magny-Cours, Prancis, pada WorldSBK 2004.

Foggy Petronas FP1 saat siap diturunkan di Magny-Cours, Prancis, pada WorldSBK 2004. <span class="copyright">Fabrice Crosnier</span>
Foggy Petronas FP1 saat siap diturunkan di Magny-Cours, Prancis, pada WorldSBK 2004. Fabrice Crosnier

Fabrice Crosnier

Ikon WorldSBK yang juga kampiun empat kali (1994, 1995, 1998, 1999), Carl Fogarty, dipercaya memimpin Foggy Petronas Racing Team untuk turun pada 2003 dengan pembalap Troy Corser dan James Haydon.

Sejak 2003, FIM mengubah regulasi mesin WorldSBK menjadi maksimal 1.000 cc dengan konfigurasi twins, triples, atau empat-silinder. Masalahnya, Petronas FP1 dibuat berdasar regulasi sebelumnya, kapasitas mesin tiga silinder (triples) dibatasi hanya 900 cc.

Hasilnya, motor yang digarap perusahaan minyak asal Malaysia bekerja sama dengan Sauber Petronas Engineering itu kalah bersaing. Menariknya, Petronas FP1 awalnya dibuat untuk turun di MotoGP musim tersebut. Tiga musim turun, 2003-2006, Petronas FP1 pun tidak mampu menang.

Benelli dan Erik Buell Racing (EBR) menjadi dua merk lain yang secara manajemen bagus namun juga tidak mampu bertahan lama di WorldSBK.

Benelli yang mengandalkan Tornado 900 pada 2001 dan Tornado Tre 900 LE pada 2002 dengan pembalap Peter Goodard, tidak mampu menang. Hal yang sama terjadi pada EBR.

Didukung penuh pabrikan asal India, Hero MotoCorp, EBR 1190RX dengan pembalap Aaron Yates dan Geoff May pada 2014 serta Niccolo Canepa dan Larry Pegram pada 2015 tidak mampu berbuat banyak. Seperti Benelli, EBR bahkan tidak pernah finis di posisi 10 besar lomba.