Tujuh Terduga Teroris Dilaporkan Bersembunyi di Bima

Mataram (ANTARA) - Tujuh orang terduga teroris dilaporkan sedang bersembunyi di Bima, Pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), setelah menempuh perjalanan dari Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, menggunakan kapal laut.

"Informasi yang kami terima seperti itu, ada tujuh orang dari Makassar ke Bima melalui jalur laut," kata Wakil Kepala (Waka) Kepolisian Daerah (Polda) NTB Kombes Pol Martono di sela-sela pemusnahan barang bukti kejahatan dan pelanggaran hukum, di Mataram, Kamis.

Martono juga membenarkan kalau Tim Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror saat ini sedang memburu ketujuh terduga teroris yang kemungkinan memiliki keterkaitan dengan jaringan Poso, Sulawesi Tengah itu.

Hingga kini, belum terdeteksi keberadaan tujuh terduga teroris itu, namun diyakini akan segera terungkap jika benar mereka berada di Bima dan sekitarnya.

Oleh karena itu, Martono mengimbau semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan, termasuk aparat kepolisian karena dikabarkan incaran teroris mengarah kepada aparat kepolisian, seperti yang terjadi di daerah lain.

"Sebaiknya koordinasi dan kerja sama dengan aparat kepolisian dan satuan pengamananan lainnya, juga dengan tokoh masyarakat dan tokoh agama, agar dapat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan," ujarnya.

Menurut dia, jalinan kerja sama juga dibutuhkan dengan pelaku pariwisata, mengingat salah satu sasaran pelaku terorisme yakni objek wisata atau lokasi yang dipadati wisatawan mancanegara dan domestik.

"Makanya kami (polisi) perlu kerja sama dengan pelaku pariwisata, agar ada pengamanan wisata secara aktif secara bersama-sama. Ada polisi pariwisata dan salah satu tugasnya mengamankan objek wisata dari berbagai ancaman dan gangguan kamtibmas," ujarnya.


Martono berharap, semua pihak ikut membantu aparat kepolisian mengawasi pergerakan teroris dan bersama-sama memeranginya.

Bima sering dikait-kaitkan dengan terorisme semenjak mencuat insiden Pondok Pesantren Umar bin Khattab (UBK) di Desa Sanolo, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, 11 Juli 2011.

Ledakan bom rakitan di salah satu ruangan dalam Ponpes Khilafiah Umar bin Khatab itu, menewaskan seorang pengurus ponpes yakni Suryanto Abdullah alias Firdaus.

Dari insiden itu, polisi menetapkan tujuh tersangka teroris yakni Ustadz Abrory M Ali alias Maskadov alias Abrory alias Ayyubi (27) selaku pemimpin ponpes UBK itu, kemudian Sa`ban A. Rahman alias Umar Sa`ban bin Abdurrahman (18), Rahmat Ibnu Umar alias Rahmat bin Efendi (36), Rahmat Hidayat (22), Mustakim Abdullah alias Mustakim (17), Asrak alias Tauhid alias Glen (23) dan Furqan (24).

Ketujuhnya sedang menjalani masa hukumannya setelah berkas perkaranya disidangkan di Pengadilan Negeri Tangerang, Provinsi Banten, Januari 2012.

Pertengahan November 2012, Mabes Polri menyatakan sejumlah teroris yang teridentifikasi berasal dari Bima, NTB terkait jaringan terorisme di Poso, Sulawesi Tengah, seperti Muhammad Khairi yang tertembak mati saat penggerebekan teroris di Poso, dan seorang temannya yang sedang diproses hukum.

Khairi teridentifikasi beraktivitas di Poso, melakukan aktivitas yang mengarah kepada tindak pidana terorisme, seperti perencanaan dan pelatihan. Hal itu terbukti dari barang bukti yang disita petugas dari kediamannya di Poso.

Khairi yang sebelumnya berprofesi sebagai guru di Pondok Pesantren UBK Bima itu menjadi korban penembakan Densus 88 saat penangkapan di Desa Karola, Poso Pesisir, Sulawesi Tengah, 31 Oktober 2012.

Jenazah Khairi lalu dibawa Densus 88 ke Rumah Sakit Polri, di Kramat Jati, Jakarta, untuk diidentifikasi, dan beberapa pekan kemudian dipulangkan ke kampung halamannya di Desa Rato, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, NTB, hingga dimakamkan, 14 November 2012.(rr)



Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.