Tukang Buah yang Jualan di Trotoar dan Dimarahi Dedi Mulyadi Ternyata Santri Pak Uu

·Bacaan 2 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Mobil yang ditumpangi Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum tiba-tiba dicegat oleh seorang laki-laki usai acara Safari Ramadan di Cimahi. Wagub Uu pun mengajak laki-laki itu ke warung terdekat untuk berbicara terkait maksud dan tujuannya.

Kepada Wagub Uu, laki-laki itu mengaku sebagai pedagang buah di daerah Pasar Rebo, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Pria itu kemudian mengadukan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi karena membuat konten YouTube tentang dirinya saat ditegur mendirikan lapak di atas trotoar tanpa izin.

Pedagang buah itu mengaku malu karena konten Dedi Mulyadi yang berjudul 'Pedagang buah ngamuk tendang dagangan, saat ditegur berjualan di trotoar dan badan jalan' telah viral dan terkesan menyudutkan dirinya. Seolah-olah kesalahan yang dibuat dirinya sangat fatal.

"Seolah-olah saya itu kesalahannya sangat keterlaluan," ujar pria tersebut kepada Uu dalam sebuah video.

Pedagang buah itu menceritakan bahwa lapaknya sudah dua kali dibongkar oleh Satpol PP atas instruksi Dedi Mulyadi. Namun, ia menyebut bongkaran keduanya cukup parah karena dagangannya hancur. Ia pun mengaku salah telah mendirikan lapak di atas trotoar, namun ia tidak terima dengan insiden itu.

Wagub Uu pun menanggapi hal itu dengan tetap tenang. Uu mengapresiasi pedagang buah yang telah berani meminta maaf karena melanggar kebijakan pemerintah. Ia menegaskan bahwa kebijakan pemerintah dibuat tidak untuk menyengsarakan masyarakat.

"Seluruh keputusan pemerintah untuk kebermanfaatan," ujar Uu. Uu meminta pedagang buah itu tidak melaporkan terkait konten Dedi Mulyadi. Ia meminta pedagang buah itu bertabayyun.

Ia mempersilakan masyarakat yang hendak berdagang namun harus mengikuti aturan pemerintah. "Kalau ikut aturan pemerintah nyaman, enggak bakal ribet dan bermasalah," sambungnya.

Ia pun memberi wejangan agar pedagang buah itu bersabar, apalagi di bulan Ramadan. Ia meminta agar ujian diterima dengan kesabaran. Setelah bebarapa saat bercerita, pedagang buah itu memperkenalkan dirinya. Pedagang buah itu rupanya santri di pondok pesantren UU yang telah lulus pada tahun 2014.

"Saya juga pernah tinggal di rumah bapak," ucap pedagang buah itu.

"Oh jadi di rumah saya jadi mutawasilin," timpal Uu.

Uu kemudian memberikan amplop berisi uang sebagai modal dagang. Ia mengingatkan agar tidak melawan aturan pemerintah. Selain itu, ia berpesan agar berdagang dengan menaati aturan pemerintah.

"Harapan kami seluruh masyarakat bisa menaati peraturan pemerintah. Karena pemerintah membuat keputusan untuk kebaikan bersama," beber Uu.

"Adapun keputusan itu menyakitkan ataupun menyenangkan. Ataupun merugikan atau menguntungkan tapi pemerintah membuat keputusan untuk kemaslahatan bersama," pungkasnya. [hhw]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel