Tukang ojek di Bangkok pun ikut membantu pengunjuk rasa di Thailand

·Bacaan 2 menit

Bangkok (AFP) - Pengemudi ojek berseragam oranye telah menjadi sekutu pengunjuk rasa pro-demokrasi Thailand yang berkumpul di seluruh Bangkok yang macet, menawarkan tumpangan dan ikut mengawasi perkembangan yang terjadi.

Ketika pihak berwenang menutup jalur kereta bulan ini dalam upaya menghalangi aksi unjuk rasa harian, pengemudi ojek di ibu kota datang untuk menyelamatkan, membawa pengunjuk rasa ke lokasi demonstrasi.

Mereka bersedia menunggu lama di sela-sela gerakan yang dipimpin pemuda, menyemangati para pemimpin mahasiswa saat mereka menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Prayut Chan-O-Cha dan mengeluarkan seruan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk reformasi monarki kerajaan.

"Saya mendukung anak-anak ini," kata pengemudi ojek Supatr Manapornsiri (41) seraya menambahkan bahwa dia memberi tarif murah karena dia mendukung tujuan mereka.

"Penghasilan saya sedikit meningkat," kata dia kepada AFP, seraya mengatakan "pendapatan saya melonjak dari 1.000 baht (Rp407 ribu) sehari menjadi 1.300-1.400 baht selama aksi protes".

Pengemudi lain Pakin Kamhamauk (44) kadang-kadang bahkan memberikan tumpangan gratis.

"Kalau kebetulan mereka tidak punya uang, tidak apa-apa," kata dia.

Angkutan ojek mungkin tampak sebagai pilihan transportasi yang tepat untuk jalan-jalan yang macet di Bangkok, tetapi tetap ada keteraturan dalam kekacauan itu, ketika penumpang berbaris di sudut jalan tertentu untuk menunggu pengemudi.

Berkumpul di sekitar demonstrasi dengan rompi oranye khas mereka, pengemudi juga membantu sebagai pengawas.

Pada Oktober, ketika pihak berwenang mengerahkan meriam air untuk pertama kalinya sejak protes dimulai Juli, para tukang ojek bergegas memberikan peringatan dini dan kemudian memblokir beberapa jalan sehingga para aktivis dapat dengan aman melarikan diri dari polisi anti huru hara.

Supatr mengatakan dia mengkhawatirkan keselamatan sebagian besar pengunjuk rasa muda, yang telah bersatu secara damai untuk tujuan mereka.

"Mereka sangat disiplin. Mereka tidak pernah melakukan hal-hal bodoh," kata dia.

"Saya ingin semuanya aman."

Thailand memiliki sejarah politik jalanan yang berubah menjadi kekerasan, dengan demonstrasi besar-besaran di masa lalu yang memicu tindakan keras dari pihak berwenang.

Pengemudi ojek telah menyelaraskan diri dalam siklus protes sebelumnya dengan apa yang disebut "Kaos Merah", sebagian besar blok kelas pekerja yang mendukung perdana menteri populis yang digulingkan Yingluck dan Thaksin dari klan Shinawatra.

Sementara gerakan yang berkembang saat ini digawangi oleh mahasiswa, para pengemudi - yang sering berasal dari provinsi pedesaan timur laut dan daerah kumuh Bangkok.

Dijuluki oleh beberapa orang sebagai "Kemeja Oranye", sebuah plesetan dari faksi-faksi politik berkode warna Thailand, pengemudi ojek mampu meliuk-liuk mengantar puluhan ribu pengunjuk rasa, dengan mengandalkan pengetahuan mereka yang mendalam tentang jalan-jalan di ibukota.

"Jika ada pengunjuk rasa yang pingsan, biasanya kami yang pertama membantu mereka," kata tukang ojek Yom (49) yang tak mau menyebutkan nama lengkapnya, kepada AFP.

Senang mendukung gerakan yang berusaha menggulingkan Prayut, dia mengatakan mantan panglima militer itu tidak berbuat banyak untuk meningkatkan ekonomi Thailand yang sakit sejak kudeta 2014 yang membawanya ke tampuk kekuasaan.

"Dia tidak tahu bagaimana harus bekerja," kata Yom.

"Negara ini terus mendekati jurang. Saya rasa sudah waktunya untuk menggantikannya dengan orang baru."