Tunjangan Tiba-tiba Dipotong Bikin Guru Pulau Terluar Resah

TRIBUNNEWS.COM, BATAM -- Sejumlah guru pengajar di wilayah Kecamatan Moro mulai resah. Tunjangan yang didapat dari pemerintah pusat justru dipotong tanpa ada pemberitahuan sebelumnya.

Kekecewaan disampaikan seorang guru kepada Tribun, Minggu (13/1/2013) bahwa tunjangannya dari pusta justru disunat oleh pihak terkait. Padahal tunjangan itu selama ini sangat berarti bagi mereka yang mengajar di pulau terpencil.

"Angkanya yang diminta beragam-ragam. Kemarin, kami mendapatkan tunjangan dari pemerintah pusat khusus bagi guru yang mengajar di tempat terpencil (Hinterland, red) sebesar Rp 18 Juta. Tapi tunjangan kami itu dipotong. Kami diminta Rp 1, juta dari pihak sekolah, katanya untuk diserahkan ke UPTD Pendidikan dan Dinas Pendidikan," kata salah seorang guru di Moro yang tak ingin disebutkan namanya.

Menurut guru tersebut tunjangan yang ia terima dari pusat sebesar Rp 18 juta. Uang itu dikirim melalui rekening bank masing-masing guru. Belum sempat menikmati hasil tunjangan itu, kepala sekolah meminta mereka untuk menyisihkan uang tunjangan sekitar Rp 1, 7 juta. Alasannya uang itu akan digunakan untuk proses kelancaran mendapatkan tunjangan untuk tahun depan.
 

"Kami heran kenapa diminta minta lagi uang kami. Padahal itukan sudah program pemerintah memperhatikan guru guru yang mengajar di daerah terpencil. Kata Kepsek itu, uang yang mereka mintai sekitar Rp 1,7 juta untuk biaya transportasi, pihak UPTD Pendidikan Moro dan Dinas Pendidikan yang mengurus tunjangan," ujar guru tersebut.

Kepala UPTD Pendidikan Moro, Aswarudin dengan tegas membantah adanya pungutan tunjangan guru. Namun Aswarudin mengakui bila ada sebagian pungutan uang dari tunjangan itu yang digunakan untuk membiayai guru honorer.

"Yah, memang ada guru yang mendapatkan tunjangan dari pemerintah pusat. Tapi saya lupa berapa orang yang mendapatkan tunjangan ini. Dan kami tidak ada potong potong tunjangan guru ini, saya tidak tahu masalah ini," kata Aswarudin membatah.

Aswarudin mengatakan pihaknya pernah menghimbau  agar guru yang mendapat tunjangan dari pusat bisa menyisihkan sebagian uangnya, namun tidak menetapkan angkanya.

"Kita meminta uang itu secara sukarela saja. Uang tunjangan guru itu kami gunakan untuk memberikan kepada guru yang tidak menerima tunjangan dari pusat tersebut," kata Aswarudin.

Lagian kata Aswarudin, bagaimana mungkin pihaknya memotong tunjangan guru. Pasalnnya setiap guru yang menerima tunjangan tersebut mengambilnya melalui rekening masing masing yang telah dibuat.

Terpisah sejumlah mahasiswa asal Moro merasa kecewa adanya tindakan pemotongan tunjangan milik para guru hinterland. Mereka meminta supaya Bupati Karimun, Nurdin Basirun segera turun tangan untuk mengatasi keresahan yang dialami para guru di pulau terpencil tersebut.

"Guru itu di hargai dan di hormati bukan di bodohi atau di curangi. Mereka (Dinas Pendidikan, red) sudah di gaji negara. Tidak perlu meminta minta jatah ke guru hinterland. Jangan biasakan hak orang lain di minta minta, apalagi pakai ancaman. Jika guru tidak mau di potong maka urusan mereka diabaikan," ujar Dony Septian, mahasiswa Umrah yang asli dari Kecamatan Moro.(Tribun Jabar/aan)

Baca juga:

  • Bayi Tanpa Batok Kepala Terlihat Aktif Bergerak
  • Tersangka Korupsi KPU Karimun Akan Bertambah
  • Berkas 4 Bajak Laut Selat Malaka Masuk Kejaksaan
  • 125 Pulau di Batam Ditanami Bakau


Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.