Tuntut BWF ke CAS, Indonesia Bisa Berkaca pada Manchester City

Luzman Rifqi Karami
·Bacaan 3 menit

VIVA – Belum lepas dari ingatan, tim bulutangkis Indonesia mengalami perlakuan buruk di All England 2021. Tim Merah Putih dipaksa mundur dari turnamen bergengsi tersebut.

Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) sudah melayangkan permintaan maaf terkait insiden di All England. Namun, Ketua Komite OlIndonesia (KOI) tak ingin kasus ini selesai dengan maaf.

Pemerintah melalui Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Zainudin Amali sebelumnya mempersilakan KOI dan PBSI untuk mengajukan tuntutan ke Badan Arbitrase Olahraga Internasional (CAS).

"Apapun ceritanya bahwa hal kemarin sudah terjadi. Sudah ada dampak dari apa yang terjadi di All England kemarin. Itu akan dirincikan satu persatu. Soal maaf, tentunya orang berbudaya timur, saya Muslim, diajarkan bahwa memaafkan itu penting. Bahwa Tuhan saja maha pemaaf, apalagi kita," kata Okto dalam bincang-bincang dengan media virtual, Sabtu 27 Maret 2021.

"Namun, bukan berarti melupakan kesalahannya. Harus ada tindak lanjut, secara formal, harus ada mekanisme yang disampaikan, komplain resmi sehingga masing-masing bisa introspeksi. Kita tidak bisa terima atlet kita dihentikan begitu saja. Kami juga tak mau selesai dengan maaf. Kami sebagai KOI ingin menyosialisakan tata kelola organisasi dunia," sambungnya.

Bicara soal gugatan ke CAS, Indonesia bisa berkaca pada Manchester City. The Citizens berhasil mengajukan banding dan akhirnya bisa berlaga di Liga Champions 2020/21.

Sebelumnya, skuad asuhan Pep Guardiola mendapat hukuman larangan bermain di Liga Champions untuk dua musim dan denda sebesar 30 juta euro atas pelanggaran Financial Fair Play. Alasannya adalah mereka memanipulasi dana sponsor dari 2012 hingga 2016.

Namun, pada 13 Juli 2020, banding ManCity dikabulkan CAS. Keputusan CAS menganggap ManCity tidak bersalah terkait dukungan sponsor. Namun ManCity masih akan menerima sanksi denda.

"ManCity tidak bersalah atas penyalahgunaan dukungan sponsor. Mereka hanya gagal mengkomunikasikannya dengan pejabat di UEFA," tulis pernyataan CAS dilansir laman resmi ManCity.

"CAS memutuskan membatalkan sanksi untuk mereka berkompetisi di Eropa. Denda ada dan dikurangi menjadi 10 juta euro," lanjut pernyataan CAS.

Rusia dan Ukraina Gagal Banding
Namun, tak semua pihak bisa tersenyum saat menggugat ke CAS. Apa yang dialami Rusia dan Ukraina bisa menjadi contoh.

Rusia dipastikan tidak akan ambil bagian pada Olimpiade musim panas 2020, Olimpiade musim dingin 2022, dan Piala Dunia 2022 berdasarkan putusan Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). Keputusan itu diambil setelah CAS menemukan bukti bahwa Rusia tidak patuh terhadap aturan Badan Anti-Doping Dunia (WADA).

Menurut pernyataan resmi CAS yang dikutip dari Independent, Kamis 16 Desember 2020, panel tiga hakim dengan suara bulat setuju bahwa Badan Anti-Doping Rusia (RUSADA) gagal memberikan data tes doping otentik kepada WADA. Meskipun, CAS mengurangi hukuman Rusia yang tadinya empat tahun menjadi hanya dua tahun.

Artinya, nama, bendera, dan lagu kebangsaan Rusia tidak akan diizinkan hadir di Olimpiade Tokyo 2020 atau Olimpiade musim dingin 2022 di Beijing. Selain itu, jika Rusia lolos ke Piala Dunia 2022 di Qatar, mereka harus menggunakan nama yang bersifat netral.

Senasib dengan Rusia, Timnas Ukraina juga gagal saat mengajukan banding ke CAS. Ukraina tak terima saat dianggap kalah WO 0-3 melawan Rusia di ajang UEFA Nations League A pada November 2020 silam.

Saat itu, Ukraina tak bisa menggelar pertandingan karena para pemain mereka dinyatakan positif COVID-19. Mereka pun mengajukan banding ke CAS agar duel melawan Swiss dijadwal ulang.

Namun, CAS tidak mengabulkan permintaan Ukraina. Dilansir Inside World Football, CAS menilai tidak ada opsi jadwal ulang. Ukraina dianggap harus bertanggung jawab atas pertandingan yang tidak berlangsung.

Keputusan ini membuat Ukraina gigit jari. Mereka harus menerima kenyataan finis sebagai juru kunci Grup 4 dan terdegrasi ke Liga B UEFA Nations League musim 2021/22 mendatang.