Turki Marah Besar Armenia Serang Pemukiman Warga Sipil Azerbaijan

Rifki Arsilan
·Bacaan 2 menit

VIVA – Konflik antara pasukan militer Armenia dan Azerbaijan di sekitar Nagorno-Karabakh tidak kunjung usai. Bahkan, dua hari belakangan ini pertempuran semakin menggila. Pasukan militer Armenia pada hari Rabu, 28 Oktober 2020 dikabarkan telah membombardir pemukiman sipil Azerbaijan, tepatnya di daerah Barda.

Kementerian Pertahanan Azerbaijan menyebutkan, serangan pasukan Armenia ke Barda itu telah menewaskan sedikitnya 21 warga sipil dan melukai hampir 70 orang lainnya.

Menyikapi serangan tersebut, Kementerian Luar Negeri Turki pun mengecam keras atas serangan pasukan militer Armenia itu. Turki meminta Armenia bertanggungjawab penuh atas serangan yang ditujukan kepada warga sipil Azerbaijan itu.

"Kami mengutuk serangan keji yang terus dilakukan pasukan Armenia terhadap warga sipil tanpa diskriminasi anak-anak, orang tua, orang muda itu," kata Kementerian Luar Negeri Turki dikutip VIVA Militer dari Anadolu Agency, Kamis, 29 Oktober 2020.

Menurut Ankara, serangan membabi buta yang dilakukan oleh pasukan militer Armenia itu telah mengingatkan tragedi berdarah Khojaly yang terjadi hampir 30 tahun silam. Peristiwa Khojaly adalah pertempuran antara Azerbaijan dan Armenia yang terjadi setelah Uni Soviet pecah. Peristiwa itu terjadi di Karabakh pada 26 Februari 1992.

Ketika itu, Armenia telah mengerahkan pasukan militernya lengkap dengan tank dan persenjataan artileri berat, serta resimen infanterinya untuk menguasai wilayah Karabakh dari tangan Azerbaijan.

Turki menilai, yang dilakukan pasukan militer Armenia kali ini tidak jauh beda dengan peristiwa berdarah itu. Pemerintahan Recep Tayyip Erdogan itu pun menuding Armenia telah menggunakan semua cara untuk berperang dan tetap mempertahankan klaimnya atas wilayah Nagorno-Karabakh dengan tanpa menggunakan hati nurani.

"Kebijakan berbahaya Armenia untuk meneror dan membunuh warga sipil adalah manifestasi dari mentalitas sakit-sakitan dibalik pembantaian Khojaly yang terjadi hampir 30 tahun lalu," ujarnya.

Dengan demikian, dia menegaskan akan tetap berada bersama negara sekutunya Azerbaijan, dan mendesak kepada Organisasi untuk keamanan dan kerja sama di Eropa (OSCE) Minsk Group untuk menanggapi serangan Armenia itu sebagai penghianatan atas kesepakatan gencatan senjata yang telah diambil di Rusia beberapa waktu lalu.