Turki serukan boikot produk Prancis di tengah reaksi keras dari dunia Islam yang kian besar

·Bacaan 3 menit

Ankara (AFP) - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Senin turut menyuarakan seruan memboikot produk-produk Prancis sehingga meningkatkan kebuntuan antara Prancis dan negara-negara Muslim menyangkut Islam dan kebebasan berbicara.

Erdogan memimpin tuntutan kepada Presiden Emmanuel Macron atas dukungan sengitnya kepada hak mengolok-olok agama setelah seorang guru sekolah Prancis dibunuh karena menunjukkan kartun Nabi Muhammad di kelasnya.

Pada Senin, pemimpin Turki itu memperkeras suaranya dalam menyeru dunia Arab agar penduduk menolak produk-produk Prancis.

"Jangan pernah menggunakan barang-barang berlabel Prancis, jangan membelinya," kata Erdogan yang menyebabkan kehebohan pada akhir pekan dengan menyatakan Macron membutuhkan "pemeriksaan mental" dalam pidato yang disiarkan televisi di Ankara.

Setelah Turki dituduh oleh Prancis tetap bungkam atas pembunuhan Paty pada 16 Oktober, juru bicara Erdogan Ibrahim Kalin pada Senin mengecam "pembunuhan mengerikan" itu seraya menambahkan "tidak ada" yang bisa membenarkan serangan itu.

Produk-produk Prancis telah ditarik dari rak supermarket di Qatar dan Kuwait, di antara negara-negara Teluk lainnya, sedangkan di Suriah orang-orang membakar gambar Macron. Bendera Prancis juga telah dibakar di ibu kota Libya, Tripoli.

Federasi pengusaha terbesar Perancis pada Senin mendesak perusahaan-perusahaan "menolak pemerasan" menyangkut seruan boikot itu.

Pemenggalan kepala guru SMA Samuel Paty pada 16 Oktober oleh seorang ekstremis Chechnya menyebabkan guncangan mendalam di Prancis.

Paty sebelumnya menunjukkan kartun Nabi Muhamad kepada murid-muridnya. Kartun seperti ini pernah memicu 12 orang dibantai di majalah satir Charlie Hebdo pada 2015.

Menggambarkan secara fisik Nabi Muhammad dianggap ofensif oleh kaum Muslim, tetapi di Prancis kartun semacam itu telah diidentikkan dengan tradisi sekuler yang membanggakan sejak Revolusi Prancis.

Setelah pembunuhan Paty, Macron mengeluarkan pembelaan berapi-apinya untuk kebebasan berbicara dan nilai-nilai sekuler Prancis. Dia bersumpah bahwa negara itu "tidak akan menyerah karena kartun".

Ketika reaksi terhadap reaksi Prancis meluas, para pemimpin Eropa bersatu di belakang Macron.

"Itu adalah pernyataan fitnah yang sama sekali tidak bisa diterima, terutama dengan latar belakang pembunuhan mengerikan guru bahasa Prancis Samuel Paty oleh seorang fanatik Islam," kata juru bicara Kanselir Jerman Angela Merkel Steffen Seibert.

Perdana Menteri Italia, Belanda dan Yunani juga menyatakan dukungannya kepada Prancis, seperti dilakukan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.

"Kata-kata Presiden Erdogan yang ditujukan kepada Presiden @EmmanuelMacron tidak bisa diterima," cuit Perdana Menteri Belanda Mark Rutte. Dia menambahkan Belanda membela "kebebasan berbicara dan melawan ekstremisme dan radikalisme."

Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte mencuit: "Penghinaan pribadi tidak membantu agenda positif yang ingin dimiliki Uni Eropa bersama Turki tetapi mendorong solusi yang lebih jauh."

Erdogan -yang menyebut dirinya sebagai pembela Muslim di seluruh dunia- pada Senin membandingkan perlakuan terhadap Muslim di Eropa dengan perlakuan terhadap warga Yahudi sebelum Perang Dunia II dengan menyebut mereka menjadi objek "kampanye main hakim sendiri".

"Anda dalam arti fasis yang sebenarnya, Anda dalam mata rantai Nazisme yang sebenarnya," kata dia.

"Para pemimpin Eropa harus memberitahu presiden Prancis agar menghentikan kampanye kebenciannya" terhadap Muslim, tambah Erdogan.

Prancis telah menjadi sasaran dalam serangkaian serangan jihadis yang telah menewaskan lebih dari 250 orang sejak 2015 dan memicu evaluasi besar terhadap dampak Islam kepada nilai-nilai inti negara itu.

Beberapa penyerang menyebut kartun Muhammad serta larangan mengenakan cadar di depan umum yang dikeluarkan Prancis sebagai salah satu motif mereka.

Beberapa tersangka radikal Islam telah ditangkap dalam lusinan penggerebekan sejak pembunuhan Paty, dan sekitar 50 organisasi yang diduga memiliki hubungan dengan orang-orang tersebut telah disarankan untuk ditutup oleh pemerintah.

Awal bulan ini, Macron mengumumkan rencana membela nilai-nilai sekuler Prancis dari kecenderungan "separatisme Islamis", dan menyebut Islam sebagai agama "dalam krisis".

Sikapnya telah memicu ketegangan dengan Turki pada khususnya. Pada Sabtu, Paris mengumumkan penarikan duta besarnya untuk Ankara setelah Erdogan mempertanyakan kewarasan Macron.

Tetapi pemimpin Prancis itu bergeming dengan mencuit: "Kami akan selalu berpihak pada martabat manusia dan nilai-nilai universal."

Macron juga telah memicu kemarahan negara-negara mayoritas Muslim lainnya, termasuk Pakistan dan Maroko.

Kelompok Hamas di Palestina, Taliban di Afghanistan, gerakan Syiah Hizbullah di Lebanon juga lantang menentang Prancis.

Para demonstran juga berkumpul di luar kedutaan besar Prancis di Baghdad dengan seorang ulama menuntut permintaan maaf dari pemimpin Prancis tersebut.

Dan di Algiers, Majelis Tinggi Islam mengutuk "kampanye jahat" Macron terhadap Muslim.

Demonstrasi lebih luas rencananya digelar Selasa di ibu kota Yordania, Amman.

burs-mlr-cb/raz/tgb/rbu