Turkiye Tolak Ucapan Dukacita AS atas Ledakan di Istanbul, Ini Alasannya

Merdeka.com - Merdeka.com - Pemerintah Turkiye menolak mentah-mentah belasungkawa yang disampaikan Amerika Serikat (AS) atas serangan yang terjadi Ahad lalu di pusat Kota Istanbul.

Penolakan belasungkawa itu disampaikan langsung oleh Menteri Dalam Negeri Turkiye, Suleyman Soylu.

"Saya tegaskan sekali lagi bahwa kami tidak menerima, dan menolak ucapan belasungkawa dari Kedutaan Besar AS," jelas Soylu, dikutip dari Anadolu Agency, Selasa (15/11).

Sebelumnya serangan bom yang meledak di Taksim Square dan memakan 6 korban jiwa serta melukai 81 lainnya itu dilakukan oleh seorang perempuan bernama Ahlam Albashir. Albashir adalah milisi Kurdi dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK).

Setelah ledakan itu terjadi, pemerintah AS segera menunjukkan belasungkawa mereka melalui Sekretaris Pers Gedung Putih Karine Jean-Pierre.

"Amerika Serikat mengutuk keras aksi kekerasan yang terjadi hari ini di Istanbul, Turkiye," jelas Jean-Pierre. Kalimat itu diretweet ulang oleh akun Twitter kedutaan besar AS untuk Turkiye.

Namun belasungkawa itu segera ditolak Turkiye. Bagi Turkiye, aliansi dengan negara yang mengganggu elemen, wilayah, dan perdamaian Turkiye adalah aliansi bermasalah.

"Siapa pun yang membantu PYD (Partai Persatuan Demokrat Suriah), mencoba memberikan intelijen internal kepada PKK, adalah pelakunya," jelas Soylu.

Bahkan Presiden Turkiye, Recep Tayyip Erdogan kerap menuduh AS memasok senjata kepada pejuang Kurdi yang terletak di Suriah utara, dikutip dari Arab News, Selasa (15/11).

Soylu juga menjelaskan pelaku pengeboman itu mencoba melarikan diri dari Turkiye. Namun dia berhasil ditangkap pihak berwenang. Orang yang merancang serangan juga berhasil ditangkap.

Soylu mengungkap berdasarkan percakapan telepon yang dipantau, organisasi teror pelaku serangan itu telah memberikan instruksi untuk membunuh pelaku ledakan setelah serangan.

“Jelas mereka menyusun rencana untuk membunuh teroris dan mencegah kami menguraikan seluruh jaringan dan penyebab yang mendasari insiden tersebut,” ujar Soylu.

Albashir sendiri telah mengaku dia dilatih oleh organisasi teror YPG (Satuan Pertahanan Rakyat)/PKK sebagai agen intelijen. Albashir menjelaskan dia memasuki Turkiye secara ilegal dari wilayah Afrin Suriah.

Albashir juga mengaku dia menerima perintah serangan dari markas organisasi teror itu di Kobani, Suriah.

Sebelumnya PKK dianggap Turkiye, AS, dan Uni Eropa sebagai organisasi teror. Dalam 35 tahun melawan Turkiye, PKK bertanggung jawab atas kematian lebih dari 40.000 orang. Selain itu, Turkiye juga menganggap YPG sebagai cabang kelompok teror PKK di Suriah.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan


[pan]