Turunkan Harga Tiket Pesawat, Ketua MPR Usul Pihak Swasta Boleh Jualan Avtur

Merdeka.com - Merdeka.com - Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo berharap harga bahan bakar pesawat atau avtur bisa lebih murah dari harga saat ini. Dengan demikian, harga tiket pesawat bisa turun dan lebih terjangkau. Oleh karena itu, dia mendorong pemerintah untuk membuka jalur penyediaan avtur dikerjakan oleh pihak swasta.

"Saran saya kalau memang Pertamina tidak bisa melakukan efisiensi, saya sarankan kepada pemerintah untuk membuka saja avtur ini kepada swasta. Biarkan sewa masuk, biarkan usaha - usaha minyak masuk, supaya bisa bersaing dan efisien," tegas Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo, saat melepas penerbangan perdana komersil dari Bandara Pondok Cabe - Purbalingga, Jumat (5/8).

Menurut dia, kenaikan harga avtur sangat memengaruhi harga tiket pesawat saat ini. Dengan kenaikan harga bahan bakar tentunya mendorong kenaikan harga tiket penerbangan, terutama pada rute - rute penerbangan perintis.

"Penting bagi bisnis penerbangan, Avtur ini adalah urat nadi bisnis penerbangan. Karena harga tiket dipengaruhi oleh naik turunnya avtur," kata Bambang.

Dengan mahalnya harga tiket pesawat yang terdorong dari kenaikan harga avtur, Bamsoet meminta PT Pertamina, untuk lebih melakukan penghematan dalam menjual produknya, agar harga bahan bakar pesawat bisa lebih terjangkau.

"Jadi menurut saya sekarang kita mendorong supaya Pertamina melakukan penghematan, menjual avtur bisa lebih rendah dari harga yang hari ini. Dibandingkan dengan Singapura dan Malaysia, yang harga avturnya sangat tinggi dan semua dibebankan kepada maskapai penerbangan," jelas dia.

Penyebab Mahalnya Harga Tiket Pesawat

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengakui bahwa maskapai penerbangan menaikkan harga tiket hingga batas tarif atas. Sehingga harga tiket pesawat relatif lebih mahal ketimbang 2-3 tahun lalu.

"Biaya tiket sekarang dari mana pun relatif lebih mahal dari 2-3 tahun lalu," kata Airlangga di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, (5/8).

Dia menjelaskan, kenaikan harga tiket ini disebabkan tingginya permintaan. Sementara kapasitas penumpang yang bisa ditampung terbatas.

Keterbatasan tersebut membuat biaya transportasi dan biaya tiket lebih mahal. Sehingga menyebabkan inflasi tinggi di sektor penerbangan.

"Keterbatasan dari pesawat membuat biaya transportasi atau biaya tiket lebih mahal,” kata dia.

Tingginya harga tiket ini membuat pertumbuhan sektor pariwisata belum maksimal. Utamanya kunjungan turis ke Bali yang masih belum optimal.

"Ada kenaikan (permintaan kunjungan turis) tapi jumlah penerbangan belum maksimal," kata dia. [idr]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel