Tutor online tingkatkan pendapatan saat permintaan melonjak karena "lockdown" corona

Oleh Neil Jerome Morales

MANILA (Reuters) - Guru Filipina Raven Kate De Leon mendapatkan banyak permintaan dengan menghabiskan waktu sampai 10 jam sehari di komputer rumahnya yang dikelilingi oleh mobil mini dan boneka mainan yang dia gunakan sebagai alat bantu dalam menyuntikkan kegembiraan ke dalam kelas bahasa Inggrisnya untuk para siswa nun jauh di China.

Sejak virus corona mulai beroperasi di China awal tahun ini dan memaksa sekolah dan kantor tutup, ribuan guru Filipina menguangkan waktu lemburnya ketika siswa-siswa sekolah dasar dan profesional di China, Jepang, dan di luar negeri menganggap lockdown sebagai peluang untuk memperbaiki bahasa Inggris mereka.

Salah satu dari hanya sedikit negara di Asia yang bisa menggabungkan e-learning yang terjangkau dengan ketersediaan guru yang memadai dan kemampuan bahasa Inggris yang fasih, Filipina menempatkan diri secara unik dalam menyerap permintaan kelas bahasa via Internet di Asia.

Platform online seperti 51Talk dari Kelompok Pendidikan Online China dan RareJob Filipina, serta sejumlah lembaga lokal Filipina yang lebih kecil, mengalami lonjakan permintaan dan penggunaan sejak Februari, menampik dampak virus corona yang telah menginfeksi lebih dari 337.500 orang dan menewaskan lebih dari 14.500, terhadap perekonomian.

"Saya biasanya memiliki 20 kelas setiap hari, jadi saya bisa menyanggupi permintaan sejumlah besar siswa sekarang ini," kata De Leon (22) yang bekerja untuk 51Talk.

"Saya mengambil kesempatan ini untuk memberi mereka selingan yang menyenangkan dan bermanfaat karena saya tahu mereka stres, khawatir."

De Leon saat ini bekerja dari jam 8 pagi sampai 11 malam, tanpa hari libur.

51Talk memungut bayaran sekitar 45 yuan ($ 6,36) per sesi 25 menit, dengan guru menghasilkan sekitar 130 peso ($ 2,53) per jam.

China menutup sekolahnya pada Februari untuk membendung infeksi. Lebih dari dua lusin negara mengikuti China, sehingga lebih dari 290 juta anak-anak dan remaja meninggalkan sekolah, demikian ditunjukkan data badan budaya Perserikatan Bangsa-Bangsa UNESCO.

"Lama kelamaan, cara aman untuk terus belajar adalah online," kata Jennifer Que, country head 51Talk, yang memiliki 20.000 guru-mitra di Filipina.