Tutup Seluruh Gerai Giant, Intip Kinerja Keuangan Hero

·Bacaan 2 menit

VIVA – PT Hero Supermarket Tbk atau (HERO) bakal menutup seluruh gerai Giant mulai akhir Juli mendatang. Mereka juga merombak lima di antaranya menjadi outlet IKEA sebagai bagian dari manuver strategi bisnisnya.

Sebelumnya, Presiden Direktur PT Hero Supermarket Tbk, Patrik Lindvall, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan upaya pihaknya beradaptasi dengan perubahan tren yang terjadi di era pandemi COVID-19 ini.

"Seperti bisnis mumpuni lainnya, kami terus beradaptasi terhadap dinamika pasar dan tren pelanggan yang terus berubah, termasuk menurunnya popularitas format hypermarket dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia," kata Patrik dalam keterangan tertulisnya.

Penelusuran VIVA, Kamis, 27 Mei 2021, guncangan dari dinamika bisnis yang dijalani Hero Supermarket sudah dapat dilihat di sepanjang tahun 2020 lalu. Di mana PT Hero Supermarket Tbk tercatat membukukan rugi tahun berjalan yang sangat dalam.

Baca juga: Tukang Parkir Bakal Ditertibkan, Alfamart Ingin Parkiran Toko Gratis

Bahkan, laporan keuangan Hero Supermarket per Desember 2020 memperlihatkan catatan rugi senilai Rp1,21 triliun. Atau anjlok hingga 4.203 persen dibandingkan rugi pada tahun sebelumnya yang hanya Rp28,21 miliar.

Pendapatan dari induk usaha Hero Supermarket dan Giant ini pun amblas hingga 26,98 persen menjadi Rp8,89 triliun. Dari, posisi di tahun 2019 yang mencapai sebesar Rp12,18 triliun.

Tercatat, segmen penjualan makanan pun mengalami penurunan yang paling besar, yakni mencapai 32,67 persen yoy menjadi Rp6,05 triliun. Sementara, penjualan barang non-makanan pun turun 10,98 persen secara yoy menjadi Rp2,84 triliun.

Di akhir tahun 2020, jumlah aset Herotercatat senilai Rp4,83 triliun, menyusut 20,08 persen dibandingkan akhir tahun 2019 yang sebesar Rp6,05 triliun. Sementara, ekuitas perseroan juga anjlok 49,41 persen menjadi Rp1,85 triliun, dan liabilitas yang terpantau menanjak 24,95 persen menjadi Rp2,98 triliun.

Di sisi lain, meskipun beban pokok pendapatan turun menjadi Rp6,49 triliun dari sebelumnya Rp8,73 triliun, namun laba kotor perseroan tetap lebih kecil yakni Rp2,39 triliun dari sebelumnya yang mencapai Rp3,44 triliun. Padahal, beban usaha mengalami sedikit peningkatan menjadi Rp3,55 triliun dari sebelumnya Rp3,48 triliun.

Hal itu masih ditambah dengan persediaan produk perseroan yang tercatat mengalami penurunan sebesar 29 persen menjadi Rp456,6 miliar pada 2020. Hal itu dinilai akibat menurunnya pembelian persediaan, dan kenaikan provisi inventory pada akhir tahun.