Twitter Bakal Hadirkan Label Resmi untuk Akun Tokoh dan Bisnis Terverifikasi

Merdeka.com - Merdeka.com - Usai membuat kebijakan centang biru berbayar seharga USD 8 dolar, Elon Musk baru Twitter menyadari bahwa simbol itu dapat digunakan siapa saja termasuk yang bukan tokoh publik, simbol itu pun dianggap tidak berarti.

Alhasil, Twitter memperkenalkan label "resmi" sebagai bentuk verifikasi pengguna yang terpisah dari centang biru pada Selasa (8/11).

Dilansir dari TechCrunch pada Rabu (9/11), fitur lencana resmi atau official itu diperkenalkan oleh Director of Product Management Twitter, Esther Crawford.

"Banyak orang bertanya tentang bagaimana Anda dapat membedakan antara pelanggan @twitterblue dengan tanda-tanda dan akun biru yang diverifikasi sebagai resmi, itulah sebabnya kami memperkenalkan label "resmi" untuk memilih akun ketika kami luncurkan," tulis Crawford dalam cuitannya, Selasa (8/11).

Ia juga menjelaskan bahwa tidak semua akun yang sebelumnya menggunakan centang biru akan mendapatkan label 'resmi', label itu pun tidak diperjualbelikan.

"Akun yang akan menerimanya adalah akun pemerintah, perusahaan komersial, mitra bisnis, outlet media utama, penerbit dan beberapa tokoh publik," ujar Crawford.

Namun, fitur label resmi tidak termasuk verifikasi untuk mendapatkan centang biru, karena fitur itu bersifat langganan berbayar yang menawarkan akses ke fitur tertentu.
Crawford mengatakan bahwa Twitter akan terus bereksperimen dengan berbagai cara untuk membedakan beragam jenis akun.

Peneliti aplikasi Nima Owji pun telah mengumumkan fitur ini lebih dulu dalam versi pengembangan kurang dari seminggu yang lalu, di tengah sisa-sisa staf Twitter yang terburu-buru untuk memenuhi tenggat waktu yang cepat.

"#Twitter sedang mengerjakan lencana lain untuk orang-orang terkemuka," tulis Owji di Twitter, Kamis (3/11).

Sementara itu, peluncuran fitur centang biru berbayar dikabarkan tertunda sampai setelah pemilu paruh waktu AS pada hari Selasa dalam upaya untuk mengekang penyalahgunaan. Langkah ini dilaporkan bertujuan membatasi potensi adanya pengguna terverifikasi yang menyamar sebagai tokoh politik atau portal berita yang menyebarkan hasil palsu.

Label "resmi" ini pun ditujukan untuk mencegah penyebaran hoaks, cukup muluk untuk mendidik lebih dari 200 juta pengguna setiap hari tentang fitur baru yang akan mengubah cara mereka mengidentifikasi dan mengonsumsi berita di platform yang mungkin telah mereka gunakan selama lebih dari satu dekade ini.

Kendati demikian, kepala Keselamatan dan Integritas Twitter Yoel Roth mengklaim bahwa kemampuan moderasi inti Twitter tetap ada terlepas dari PHK massal perusahaan.

Reporter Magang: Dinda Khansa Berlian [faz]