Twitter Ungkap 6 Tren Pembicaraan Terpopuler Jelang Ramadan 2021

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Bersamaan dengan hadirnya bulan Ramadan 2021 pada April mendatang, sejumlah brand seharusnya sudah mulai mempersiapkan aktivasi yang dapat menjadikan mereka bagian dari percakapan konsumen.

Twitter, sebagai platform media sosial dengan karakter real-time menjadi tempat untuk berbagi dan mencari informasi terkait Ramadan; mulai dari konten hiburan, belanja, hingga berbagi inspirasi.

“Twitter melihat adanya peningkatan percakapan mengenai Ramadan di Indonesia hingga 25 persen pada tahun lalu, dibandingkan dengan percakapan seputar bulan suci pada tahun sebelumnya," ungkap Dwi Adriansah, Country Industry Head, Twitter Indonesia, dalam keterangan resminya.

Dia menambahkan, berdasarkan data tersebut sangat penting bagi brand untuk menjalin komunikasi dengan audiens mereka dengan menciptakan konten yang relevan selama Ramadan 2021.

Berikut ini adalah 6 insight yang perlu diketahui oleh brand dalam mempersiapkan strategi yang sesuai untuk tetap terhubung dengan konsumen selama Ramadan:

1. Masyarakat Indonesia siap menjalani dan merayakan Ramadan secara online

Berkomunikasi serta menjalin silaturahmi secara virtual dengan keluarga, dan kerabat sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari selama masa pandemi.

Karena itu, adopsi aplikasi online pun meningkat. Pada bulan Ramadan nanti, Twitter melihat masyarakat akan lebih banyak menggunakan aplikasi media sosial untuk tetap terhubung satu sama lain.

Selain itu, banyak pengguna yang berencana untuk menggunakan aplikasi streaming video selama Ramadan 2021 untuk hiburan selama ngabuburit.

Pandemi selama setahun terakhir juga telah membuat masyarakat Indonesia beradaptasi dengan kebiasaan baru. Kegiatan seperti berbelanja, memesan makanan, berzakat, ataupun mengirim hadiah.

Percakapan Seputar Ramadan

2. Percakapan seputar Ramadan 2020 dimulai satu bulan sebelumnya vs. 2 minggu sebelumnya pada Ramadan 2019.

Walaupun topik seputar Ramadan juga dibicarakan sepanjang tahun, percakapan seputar Ramadan mulai ramai dibicarakan di Twitter setidaknya satu bulan sebelum Bulan Suci tiba.

Jumlah percakapan selama bulan Ramadan 2020 pun meningkat 25 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2019.

Tema umum seperti mudik (+64 persen), hiburan (+60 persen), dan kuliner (+30 persen) masih tetap mendominasi percakapan di Twitter, dan meningkat dibandingkan tahun 2019.

3. Masyarakat Indonesia tetap positif dan penuh harapan

Belajar dari adaptasi pelaksanaan Ramadan pada 2020, percakapan di Twitter didominasi dengan sentimen positif (57 persen) . Masyarakat juga yakin, kondisi pandemi akan membaik (45 persen).

Konten Hiburan Paling Diminati

4. Hiburan menjadi jenis konten terpopuler di Twitter selama bulan Ramadan.

Jika dibandingkan dengan tahun 2019, jumlah percakapan tentang hiburan meningkat tajam pada bulan Ramadan 2020.

Brand dapat memanfaatkan hal ini untuk mempersiapkan strategi konten yang relevan bagi audiens mereka agar tetap menjadi bagian dari percakapan di Twitter.

5. Popularitas social commerce di Twitter menjadi kesempatan bagi brand untuk menjalankan kampanye terkait Ramadan

Berbelanja merupakan aktivitas populer saat Ramadan dan menjelang Lebaran. Pada tahun 2020, percakapan di Twitter seputar belanja/memberi hadiah meningkat 22% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2019.

Tren ini akan terus berlanjut, khususnya memasuki Ramadan tahun ini, karena pengguna cenderung pergi ke Twitter saat ingin berbagi informasi tentang produk baru.

6. Konsumen di Twitter di Indonesia bersedia mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli sebuah produk

Semakin banyak brand yang dikenal oleh masyarakat Indonesia karena kehadiran dan kampanye mereka di Twitter.

Hal ini juga dikarenakan pengguna Twitter lebih brand-conscious dibandingkan mereka yang tidak menggunakan Twitter.

Pengguna Twitter di Indonesia juga semakin peduli terhadap kondisi lingkungan. Hal ini terlihat dari kesediaan mereka membayar lebih untuk produk berkelanjutan/ramah lingkungan.

Dwi Adriansah menegaskan, “Kecenderungan orang untuk lebih sering menggunakan media sosial pada masa pandemi adalah kesempatan bagi brand untuk belajar lebih banyak tentang audiens mereka.”

(Ysl/Tin)