UB gandeng industri bangkitkan usaha pupuk organik cair

Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur, menggandeng sebuah perusahaan untuk membangkitkan sekaligus mengembangkan industri pupuk organik cair.

Ketua Tim Matching Fund (dana pendamping) UB Prof Amin Setyo Leksono di Malang, Jawa Timur, Rabu, mengatakan bahwa kegiatan kerja sama UB dengan PT Shadani Insan Mulia Abadi (Shima) Tulungagung, Jawa Timur, bertujuan untuk mempercepat alih iptek dari perguruan tinggi ke industri.

Prof Amin menawarkan tiga formula pupuk organik cair kepada PT Shima, yaitu pupuk organik cair, pupuk hayati cair, dan pupuk biopestisida cair.

Untuk itu, lanjutnya, dalam kegiatan ini UB menerjunkan enam ahli, yakni di bidang mikrobiologi, entomologi, biokontrol, dan ilmu tanah, serta 10 mahasiswa dari bidang mikrobiologi dan biokontrol.

Baca juga: Universitas Brawijaya teliti manajemen sampah makanan Kota Malang

"Mahasiswa yang kami terjunkan akan mendampingi industri selama satu semester, sekaligus mendukung program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dari Kemendikbudristek," ujar Guru Besar Biologi UB tersebut.

Enam pakar dari berbagai disiplin ilmu itu adalah Irfan Mustafa (ahli mikrobiologi), Zulfaidah Penata Gama (ahli biokontrol), Bagyo Yanuwiadi (ahli rekayasa habitat), Prof Aminudin Afandhi (ahli pengendalian hama), dan Syahrul Kuriiawan (ahli ilmu tanah).

PT Shima adalah suatu perusahaan agroindustri yang bergerak di bidang pertanian, seperti produksi pupuk phospat, npk, organik, serta perdagangan pupuk lainnya.

Kerja sama antara PT Shima dan UB dirintis sejak tahun 2021. Melalui kerja sama tersebut diharapkan dapat memberikan pengalaman kepada mahasiswa berkegiatan di luar kampus melalui magang di dunia industri.

Baca juga: Mahasiswa Universitas Brawijaya buat alat deteksi kanker rongga mulut

Selain itu, peningkatan serapan hasil penelitian dan pengabdian masyarakat dosen oleh industri melalui hilirisasi produk yang sudah mendapatkan paten untuk diproduksi oleh mitra dan dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar atau petani.

Lebih lanjut, Prof Amin mengatakan bahwa temuan formula yang akan diadopsi oleh PT Shima tersebut telah dikembangkan dari kegiatan penelitian dosen di UB selama lebih dari 6 tahun dan sudah dipatenkan.

Keunggulan dari produk ini adalah formulasi produk yang berangkat dari praktik di lapangan, baik yang telah dilakukan oleh gabungan kelompok petani (gapoktan) di Malang maupun beberapa petani lainnya dengan hasil yang memuaskan.

Bertempat di pabrik PT Shima, dilaksanakan kegiatan bertema "Hilirisasi Hasil Kajian Pupuk Organik dan Bioaktivator untuk Mendukung Produksi pada Skala Industri".

Baca juga: Mahasiswa Universitas Brawijaya buat detergen dari cangkang kerang

Direktur PT Shima Hadi Mustofa menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bertujuan untuk membangkitkan lagi industri pupuk yang sempat mengalami kelesuan akibat dicabutnya subsidi pupuk.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program Matching Fund yang didukung skema pembiayaan 50:50 dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Pendidikan Tinggi (Kemendikbudristek).