Ucapan Hangat hingga Reaksi Dingin Pemimpin Dunia ke Biden-Harris

Ezra Sihite, BBC Indonesia
·Bacaan 5 menit

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo bergabung dengan jajaran pemimpin dunia yang mengucapkan selamat kepada Joe Biden dan Kamala Harris atas kemenangan mereka dalam Pilpres AS 2020.

"Ucapan selamat terhangat untuk Joe Biden dan Kamala Harris atas kemenangan kalian yang bersejarah. Tingginya partisipasi pemilih adalah cerminan dari harapan pada demokrasi," kata Jokowi dalam bahasa Inggris lewat akun Instagramnya, yang dikelola oleh tim komunikasi digital presiden, Minggu (08/11).

"[Saya] menanti kerja sama yang erat dengan Anda dalam memperkuat kemitraan strategis Indonesia-AS dan mendorong kerja sama kita dalam ekonomi, demokrasi, dan multilateralisme untuk manfaat kedua rakyat kita dan lebih dari itu," imbuh Jokowi.

Dalam beberapa hari ini, banyak orang di seluruh dunia menyaksikan persaingan sengit untuk mendapatkan jabatan di Gedung Putih.

Presiden baru yang dipilih tidak hanya berdampak pada AS, tapi juga kebijakan luar negeri negara itu serta pendekatannya terhadap para mitra dan lawan-lawannya.

Tim kampanye Trump telah memberi sinyal bahwa kandidat mereka tidak berencana mengakui kekalahan.

Tapi ini tidak menghentikan beberapa pemimpin negara di seluruh dunia memberikan ucapan selamat kepada Biden dan Harris sejak media memberitakan kemenangan pasangan kandidat dari partai Demokrat itu, setelah perolehan suara elektoralnya diproyeksikan melampaui ambang batas 270.

Berikut ini beberapa reaksinya:

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengucapkan selamat kepada Joe Biden, serta mengucapkan terima kasih kepada Donald Trump untuk empat tahun ke belakang.

Netanyahu berkata bahwa ia dan Biden telah menjalin hubungan pribadi yang "hangat" selama hampir 40 tahun, dan menyebut sang presiden terpilih "teman baik Israel".

"Saya menantikan kerja sama dengan kalian berdua (Biden dan Harris) untuk memperkuat aliansi spesial antara AS dan Israel," imbuhnya.

Adapun kepada Presiden Trump, Netanyahu berterima kasih atas "persahabatan" yang telah ditunjukkan kepada negara Israel dan kepadanya sebagai pribadi. Ia juga berterima kasih atas berbagai kebijakan pemerintahan Trump yang memihak Israel, antara lain mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel serta membantu normalisasi hubungan Israel dengan sejumlah negara di Liga Arab termasuk UEA dan Bahrain.

Ucapan selamat juga datang dari Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, yang terutama menyebut terpilihnya Kamala Harris sebagai wakil presiden "pencapaian historis".

Ucapan yang secara khusus ditujukan kepada Harris juga disampaikan PM India Narendra Modi dan PM Jamaika Andrew Holness. Seperti diketahui, sang politikus Demokrat lahir di Oakland, California, dari dua orang tua imigran: seorang ibu kelahiran India dan ayah kelahiran Jamaika.

"Kesuksesan Anda membuka jalan, dan merupakan kebanggaan tidak hanya bagi chitti Anda, tapi juga bagi semua warga India-Amerika. Saya yakin bahwa hubungan India-AS yang bergairah akan semakin kuat dengan dukungan dan kepemimpinan Anda," kata Modi, menggunakan kata chitti yang berarti "bibi" untuk menekankan hubungan uniknya sebagai orang India dengan Harris.

"Amerika akan punya wakil presiden perempuan pertama dalam sosok Kamala Harris, dan kami bangga ia memiliki darah Jamaika," kata PM Andrew Holness.

"Kenaikannya sampai peran ini adalah pencapaian monumental bagi perempuan di seluruh dunia dan saya memberi hormat kepadanya."

Pemimpin negara tetangga paling dekat dengan Amerika Serikat (AS), Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengatakan ia "benar-benar menantikan" untuk bekerja sama dengan Biden dan wakil presiden Kamala Harris, dan menggarisbawahi hubungan dekat antara kedua negara.

Kanselir Jerman Angela Merkel memberikan selamat kepada Joe Biden dan wakilnya Kamala Harris.

"Saya menanti-nantikan kerja sama di masa depan dengan Presiden Biden," kata Merkel pada Sabtu (07/11).

"Persahabatan trans-Atlantik kami tidak tergantikan jika kami ingin mengatasi tantangan-tantangan besar di sekarang ini."

Tak lupa, Merkel, pemimpin perempuan pertama di Jerman, menekankan bahwa Kamala Harris tercatat sebagai wakil presiden perempuan terpilih pertama di AS.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mencuit ucapan selamatnya. "Kita menghadapi banyak tantangan dewasa ini. Mari bekerja bersama-sama".

Dari Inggris, Perdana Menteri Boris Johnson juga menyampaikan selamat kepada Joe Biden kemenangannya dalam pemilihan presiden AS dan kepada Kamala Harris atas pencapaiannya, seraya menekankan pentingnya hubungan Inggris-AS.

"Amerika Serikat adalah sekutu paling penting kami dan saya menanti-nantikan bekerja erat dalam masalah-masalah prioritas bersama,mulai dari perubahan iklim hingga perdagangan dan keamanan."

Sedangkan pemimpin Partai Buruh dan pemimpin oposisi Inggris, Keir Starmer mengatakan Biden melakukan kampanye berlandaskan "nilai-nilai yang sama-sama dianut di Inggris - kesopanan, integritas, belas kasih dan kekuatan".

Perdana Menteri Irlandia Michea¡l Martin menyebut Demokrat, partai yang mengusung Biden, sebagai "kawan sejati bagi bangsa ini". Nenek moyang Biden berasal dari Irlandia.

Tak semua pemimpin dunia ucapkan selamat

Ketika sebagian besar pemimpin dunia memberikan sambutan hangat atas kemenangan Biden, reaksi dingin disampaikan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei.

Ayatollah Khamenei mengejek demokrasi ala Amerika Serikat dengan mengatakan, "Situasi di AS dan apa yang mereka katakan sendiri tentang pemilu adalah pertunjukkan besar! Ini adalah contoh dari wajah buruk demokrasi liberal di AS."

"Terlepas dari hasilnya, satu hal benar-benar jelas yaitu kemunduran politik, sipil, dan moral dari rezim AS."

Adapun Perdana Menteri Slovenia Janez Janša, yang awal pekan ini tercatat sebagai salah satu segelintir pemimpin dunia yang secara terbuka mendukung Presiden Trump - dengan mengatakan presiden petahana telah memenangi pemilihan ketika penghitungan suara masih berlangsung - sejauh ini diam.

Presiden Meksiko Andres Manuel Lopez Obrador berkata masih terlalu dini untuk mengucapkan selamat. Ia ingin mengunggu semua "masalah hukum" diselesaikan, merujuk pada gugatan hukum yang diajukan tim kampanye Trump, atas tuduhan ketidakberesan dalam penghitungan suara. Trump belum memberikan bukti atas klaim tersebut.

"Kami akan berhati-hati," kata sang presiden kepada wartawan pada hari Sabtu (07/11).

"Kami tidak mau bertindak sembrono dan kami ingin menghormati hak-hak rakyat [Amerika]," imbuhnya.

Berita tentang proyeksi langkah Biden ke Gedung Putih menyebar ke seluruh dunia hampir seketika begitu proyeksi tersebut disiarkan oleh sejumlah jaringan televisi Amerika Serikat, antara lain berkat Twitter dan keinginan tahu masyarakat di berbagai penjuru dunia untuk mengetahui pemenang pemilihan.

Media pemerintah China, People`s Daily dan salah satu media besar di India, Hindustan Times, langsung mewartakan berita itu.

Masyarakat dunia selalu mempunyai minat besar terhadap pemilu Amerika Serikat, terlebih tahun ini ketika Donald Trump berpotensi tercatat sebagai presiden pertama sejak awal tahun 1990-an yang menjabat untuk satu periode saja.