UEA Kembangkan Teknologi Tes Cepat Virus Corona COVID-19 Gunakan Laser

Liputan6.com, Jakarta Uni Emirat Arab (UEA) telah mengembangkan peralatan baru yang memungkinkan dilakukannya pengetesan massal Virus Corona COVID-19 secara lebih cepat. Bahkan, hasil pengujian akan tersedia dalam hitungan detik dan memungkinkan pengujian pada skala yang lebih luas.

Alat tes itu dikembangkan QuantLase Imaging Lab, cabang penelitian medis dari Abu Dhabi Stock Exchange yang terdaftar di Bursa Efek Abu Dhabi, IHC. Teknologi ini akan memperkuat posisi UEA sebagai pusat penelitian dan inovasi, ketika para ilmuwan di seluruh dunia berebut menciptakan metode pengujian yang lebih cepat dan berpotensi mengidentifikasi pembawa sebelum mereka terinfeksi.

Terobosan ini akan memungkinkan 'penyaringan skala besar', mengubah seluruh dimensi pelacakan dan kecepatan yang dapat digunakan untuk mendekati tenaga kerja. Menteri Kesehatan dan Pencegahan UEA Abdul Rahman bin Mohammad bin Nasser Al Owais menyampaikan harapannya atas penemuan ini.

"Kami selalu mengikuti inovasi terkait dengan deteksi dini dan cepat Virus Corona COVID-19. Pemerintah UEA tertarik pada inisiatif yang membantu sistem perawatan kesehatan di UEA. Para pejabat kesehatan telah memantau dengan seksama kemajuan uji coba dengan QuantLase untuk menguji peralatan ini. Kami bangga melihat teknologi yang berfungsi dan yang akan membantu melindungi tim kami dengan lebih baik," ungkapnya, dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com, Kamis (21/5/2020).

"Peralatan yang menggunakan detektor CMOS membantu proses screening secara lebih besar dengan hasil tersedia dalam hitungan detik," kata Dr. Pramod Kumar, ketua tim peneliti di laborotorium yang telah mempelajari perubahan dalam struktur sel virus darah yang terinfeksi.

"Faktanya, teknik DPI (Diffractive Phase Interferometry) berbasis laser kami yang didasarkan pada modulasi fase optik, mampu memberikan tanda infeksi dalam beberapa detik. Terlebih lagi, upaya ini mudah digunakan, non-invasif dan berbiaya murah."

Menurutnya, perangkat ini cocok untuk digunakan tidak hanya di rumah sakit dan tempat-tempat umum seperti bioskop dan pusat perbelanjaan, tetapi hanya dengan sedikit pelatihan, juga dapat digunakan untuk pengujian dan pemantauan internal. "Kami percaya itu akan menjadi game-changer dalam menangani penyebaran Virus Corona," imbuh Kumar.

 

Kecerdasan Buatan

Burj Khalifa diterangi dengan slogan-slogan dalam huruf fonetik China yang berarti 'Wuhan, semangat' di pusat Kota Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), Minggu (2/2/2020). Hal tersebut untuk memberi semangat kepada China dalam perang melawan virus corona. (Xinhua/WAM)

Dalam rangka menjelaskan peran penting kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI), dalam sistem diagnostik, Kumar mengatakan, model analisis citra AI canggih berhasil memprediksi hasil setiap gambar dalam segi presisi, kecepatan, dan skala. Ini sangat penting dalam program pengujian skala besar, di mana sejumlah besar gambar perlu dianalisis dengan akurat dan efisien. Laboratorium ini menggunakan G42, perusahaan AI dan Cloud Computing terkemuka, untuk lebih meningkatkan program laser.

Kumar menjelaskan, "Dengan 1.000 tes pertama, kami menyempurnakan percobaan kami dan kemudian menerapkannya pada sisa percobaan." Ia menambahkan, "Prosesnya melewati beberapa tahap, dan yang terbaru sedang diuji coba dalam skala besar, sejalan dengan prosedur pengujian saat ini."

Sejak deklarasi COVID-19 dari Organisasi Kesehatan Dunia sebagai pandemi global pada Maret, para ilmuwan terus mencoba mengembangkan teknologi yang tidak hanya akan mengurangi waktu diagnosis, tetapi juga memungkinkan dokter untuk berkonsentrasi pada pasien berdasarkan kebutuhan. Saat ini dibutuhkan beberapa jam untuk mendiagnosis kasus COVID-19.

Menurut Kumar, laboratorium berencana meluncurkan produk di pasar dalam beberapa bulan. Sejauh ini, mesin telah menghasilkan hasil dengan akurasi tinggi dalam pengaturan kontrol optimal. "Sejauh menyangkut deteksi tahap awal, teknik DPI kami mampu mendeteksi virus begitu sel darah terinfeksi. Tujuan kami adalah mencapai tingkat akurasi maksimum," ujar Kumar.

Mencapai terobosan ilmiah yang berfokus pada kesejahteraan manusia adalah salah satu pilar Strategi Nasional untuk Inovasi Lanjutan yang diumumkan oleh pemerintah UEA sejak Februari 2018. Strategi baru ini juga menyerukan kolaborasi dengan lembaga internasional terkemuka dan perusahaan yang berspesialisasi dalam bidang inovasi.

Nader Ahmed Al Hammadi, anggota Dewan Direksi IHC, mengomentari temuan ini, "IHC dengan bangga memainkan peran dalam memberikan kontribusi pada upaya kuat yang dilakukan oleh pemerintah UEA dalam memerangi wabah Covid-19, terutama yang berkaitan dengan pengujian dan peningkatan kesadaran."

Saksikan video pilihan di bawah ini: